M & L

M & L
#Ingin menikah dengannya


__ADS_3

"Mansion ku bukan tempat lelucon!" sentak Magma kepada Fello dan Vincent membuat bahu keduanya terlonjak kaget.


"Apa yang kalian lakukan hah? menuruti si banci itu!" Tunjuk Magma ke arah Jeni yang kini sedang menari memutar-mutar tubuhnya di halaman mansion. Dia terlihat sedang melakukan gerakan tari jaipong, setelah di timbuk kepalanya oleh Magma. Pria tulang lunak itu bukan ketakutan tapi malah mengajak Magma menari.


Dan Magma memilih memarahi dua anak buahnya di post satpam.


Fello mendongak dengan menggeleng ngeri. "T-tidak Tuan ..."


"Lalu apa di wajahmu itu!"


Vincent pun mendongak. "Kami hanya berusaha menjadi pria sejati yang pantang ingkar janji, Tuan ..." sahutnya dengan pelan.


"Ingkar Janji?" Magma tertawa jengkel mendengarnya. "Kau membuat janji dengan manusia kurang normal seperti itu!"


"B-bukan masalah membuat janji dengan siapa Tuan. Ini soal menepati janji sebagai seorang pria," kata Fello dengan suara gemetar.


"Pria pantang ingkar janji Tuan, kalau ingkar janji bukan pria namanya ..." sambung Vincent membuat Magma menghela nafas kasar kemudian.


BUGH


BUGH


Magma memukul wajah mereka satu persatu dengan geram. Bukan karena ucapan mereka tapi melihat penampilan dua anak buahnya yang selalu terlihat gagah dan berotot berubah penampilan seperti ini. Dari tadi saat memarahi mereka Magma berusaha menahan kekesalannya melihat dua wajah anak buahnya itu. Tapi sayang, kekesalannya sudah di luar batas.


Magma pergi dari post satpam meninggalkan Fello dan Vincent yang memekik kesakitan. Ketika berjalan menuju mansion, ia melewati Jeni yang tengah mengedipkan sebelah mata nya menggoda sambil terus menari dengan selendang yang mengikat pinggangnya.


Magma berdecak memutar bola matanya jengah dan mengacuhkan Jeni.


*


Laura berdiri sendirian di kamar tamu, dengan tangan bersedekap dada ia memandang ke halaman mansion, melihat Jeni yang tengah menari. Tapi ia menghiraukan nya, tidak menganggap Jeni manusia aneh karena menari di pagi hari. Dia sudah sangat tahu bagaimana Jeni dan sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu.


Laura memikirkan hal lain. Bagaimana caranya menjadikan Magma sepenuhnya miliknya, agar sekalipun ia terus menggoda Magma, Magma tidak akan bisa mengusirnya atau pergi meninggalkannya.


"Aku harus menikah dengan dia. Ah ... tapi bagaimana caranya," keluhnya kemudian menghela nafas berat.


"Kalau aku jadi istrinya. Kan enak, aku bisa tinggal satu atap dengan dia. Aku bisa masak buat dia, aku bisa ikut kemanapun dia pergi dan dia pun tidak bisa meninggalkan aku, karena dimanapun suami tinggal istri harus selalu ikut." Laura terus berdialog sendirian memikirkan kemungkinan-kemungkinan indah jika dirinya bisa menikah dengan Magma.


Laura kembali mengeluh. "Boro-boro bisa menikah, dekat saja sudah di suruh menjauh."


Laura berdecak. "Aku harus menjebak dia agar bisa menikah denganku. Tapi itu artinya, rencanaku berubah total. Yang tadinya harus meluluhkan hati Magma dulu, sekarang harus meluluhkan hati Daddy dan Mommy dulu ..."

__ADS_1


"Aaaarrggghh!!" Laura menggaruk kepalanya dengan kesal dan frustasi.


Tidak ada yang mudah. Meluluhkan hati Magma atau orang tuanya terlebih dahulu, keduanya sama-sama sulit.


*


Laura menuruni anak tangga dan melihat Bayuni tengah membantu pelayan mencuci beberapa bahan masakan.


Bayuni terlihat membersihkan ikan sebelum masuk lemari es. Sementara dua pelayan sedang membersihkan sayuran dan memotong daging.


"Eumm Nyonya Bayuni ..." panggil Laura sedikit canggung, berdiri di ujung pantry.


Bayuni menoleh. "Eh Laura ..." Ia tersenyum kepada Laura.


Kemudian Bayuni menepuk lembut pundak pelayang yang tengah memotong-motong daging. "Bersihkan ikan nya juga ya, saya mau bicara dengan Laura dulu ..."


"Baik Nyonya." Angguk si pelayan dengan sopan.


Bayuni berjalan menghampiri Laura. "Ayo duduk ..." ajaknya.


Mereka duduk di sofa dengan santai. Laura menyimpan bantal sofa di atas paha nya.


"Ada apa?" tanya Bayuni.


"M-Magma ... dia ..." Laura menggantung kalimatnya sejenak karena merasa canggung untuk meneruskan kalimatnya.


"Bicara saja Laura." Bayuni memegang tangan perempuan itu.


"Magma tidak akan menikah seumur hidupnya, Nyonya?" tanya Laura pelan di iringi kekehan kecil membuat Bayuni tersenyum menggoda.


Laura pun sontak menggelengkan kepala. "N-nyonya Bayuni jangan berpikir aneh-aneh hehe ... aku hanya bertanya saja."


"Orang tanya tuh pasti ada alasan. Iya kan?" ucap Bayuni membuat Laura tersipu malu sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Tanya saja tentang Magma, Laura ... Mommy senang kalau ada yang mau dengan pria tua itu."


"Eh belum tua lah, Nyonya ..." Laura membela.


Bayuni mencubit gemas hidung Laura. "Orang kalau jatuh cinta pasti pasangannya di bela terus. Tahun ini, tahun terakhir dia berkepala tiga loh. Tahun depan sudah kepala empat."


"Hehe tapi dia kelihatan masih muda terus kan Nyonya ..."

__ADS_1


"Ah kau ini, dasar! oh iya, jangan panggil Nyonya. Panggil Mommy saja ..."


"Iya Mommy ..." ucap Laura sedikit canggung.


"Tapi Mommy, jangan bilang siapa-siapa Lala tanya soal Magma ke Mommy ya." Laura memberikan tatapan penuh harap.


Bayuni mengangkat Ibu jarinya. "Beres, tenang saja!"


"Oh iya, tadi Laura tanya Magma menikah atau tidak kan."


Laura mengangguk cepat.


"Jawabannya ... mungkin tidak, tapi Mommy juga tidak tau sih. Kalau Laura berhasil meluluhkan Magma, mungkin dia bisa menikah juga."


"Tapi kenapa tidak mau menikah Mommy?" tanya Laura kemudian.


Bayuni menghela nafas sejenak. "Mungkin dia tidak percaya adanya cinta antara suami dan istri. Karena dulu Ayah angkatnya selalu bertengkar dengan Ibunya setiap hari sampai ..."


"Sampai?" Alis Laura terangkat naik.


Bayuni menggelengkan kepala. "Hanya itu lah Laura ..." Bayuni tersenyum membuat Laura heran dan penuh tanda tanya karena Bayuni tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kalau ada yang bisa Mommy bantu, Mommy akan bantu Laura untuk menikah dengan Magma." Bayuni mengenggam erat tangan Laura.


"B-beneran Mommy?"


Bayuni mengangguk. "Kita kan sudah saling kenal cukup lama. Mommy dan Daddy tau Laura baik, hanya saja tidak mudah menikah dengan Magma. Laura tau itu kan ..."


Senyum di wajah Laura semakin merekah senang mendengarnya. Di beri kepercayaan dan restu oleh calon mertuanya sendiri membuat semangatnya semakin menggebu-gebu untuk mendapatkan Magma.


"Mommy tenang saja, aku akan pikirkan cara supaya aku bisa menikah dengan Magma," ucap Laura dengan semangat.


Bayuni mengangguk dengan tersenyum, tapi sedetik kemudian senyuman di wajah Bayuni kembali memudar ketika ingat sesuatu.


"Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu, Laura ... Sepertinya mereka tidak akan merestui hubunganmu dan Magma, terlebih Magma itu mafia."


"Mommy tenang saja. Itu urusanku!"


Bayuni tersenyum tipis walaupun sedikit tidak yakin mudah mendapatkan restu dari Arsen untuk Laura dan Magma. Pasalnya, Bayuni dan Benjamin pernah berbincang langsung dengan Arsen yang mengatakan jika dia tidak mau kedua putrinya menikah dengan seorang mafia. Dia sangat tahu bagaimana bahayanya seorang mafia karena dulu Arsen sekretaris Maxime.


Arsen selalu berharap rumah tangga putrinya kelak selalu di berikan ketenangan, tidak ada ketakutan karena di terror musuh atau hal lain.

__ADS_1


Bersambung


l


__ADS_2