
Laura menyipitkan matanya mencoba fokus dengan satu titik merah di depan nya. Jaraknya cukup jauh, mata kucingnya menajamkan penglihatannya, ketika ia yakin bisa menembak, perempuan itu pun menarik pelatuk perlahan.
DOR
Magma terkesiap melihat kemampuan istrinya, Laura tersenyum miring, berbalik menatap suaminya lalu meniup ujung pistol untuk membanggakan dirinya kepada Magma.
"Hebat kan?" serunya dengan satu alis terangkat naik dan senyuman miring di wajahnya.
Magma tersenyum dengan bertepuk tangan. Ia berjalan menghampiri istrinya.
"Goodgirl!" seru nya dengan menepuk-nepuk puncak kepala Laura.
"Darimana kau belajar?"
"Paman Maxime," sahut Laura.
"Bagaimana bisa? si dua musim itu saja tidak di ajarkan menembak."
Laura mendengus. "Mereka yang tidak mau. Coba saja kalau mereka jadi anak pembangkang yang mau jadi mafia, sudah pasti Paman Maxime mengajari mereka. Dan aku, aku sendiri yang datang menemui paman Maxime minta di ajarkan."
"Bagus. Kembalikan pistolnya." Magma membuka telapak tangan nya meminta pistol tersebut.
Laura menatap telapak tangan Magma lalu matanya beralih menatap yang menonj*l di celana Magma.
"Apel yang itu belum di tembak," seru Laura menahan senyumnya membuat Magma menoleh ke bawah dan langsung merapatkan pahanya.
"Kenapa malah melihat ke sini!"
"Siapa suruh menonj*l di tempat yang salah," sahut Laura dengan entengnya lalu melempar pistol sembarang arah dan berjalan meninggalkan Magma.
"Laura!" teriak Magma setelah mengambil pistolnya. Pria itu berdecak lalu menyusul Laura.
Magma hanya ingin melihat kemampuan Laura karena istrinya itu selalu mengatakan kalau dirinya bisa menembak.
Melihat itu Magma bangga sekaligus tidak terlalu khawatir jika membekali pistol untuk istrinya berjaga-jaga.
*
Mereka makan di restaurant De Willson yang baru. Menu makan mereka di masak khusus oleh Farel yang memang bekerja dengan keluarga De Willson.
Ketika makan, ponsel Magma yang berada di atas meja berdering. Panggilan masuk dari Lalita.
Magma berdecak dan memberikan ponselnya kepada Laura. Laura pun mengangkatnya.
"Ada apa?"
"Aku mau pulang," sahut Lalita di Spanyol.
"Pulang lah, kalau mau pulang!"
"Tidak, jangan pulang!" Magma langsung merebut ponsel dari tangan Laura membuat Laura mengernyit.
"Tetap di sana dan urus pekerjaanku bersama si pria itu!" lanjut Magma.
"Apa maksudmu?" tanya Lalita sewot. "Kenapa kau terus yang melarangku, Lala saja tidak keberatan aku pulang. Lagi pula antara kau dan aku tidak ada kontrak kerjasama!" seru Lalita dengan nada kesal.
__ADS_1
Laura hanya berdecak, menggelengkan kepala dan memilih kembali makan saja.
"Dengar ya, kau harus membuat gaun pengantin. Perusahaanku sangat membutuhkannya!"
"Jangan g*la Magma! perusahaanmu fokus memproduksi barang yang lain aku lihat! karyawanmu tidak ada yang mau membantuku, mereka membiarkan aku mengerjakannya berdua dengan Kenzo!"
"Yasudah kerjakan saja berdua, apa susahnya!"
Tut.
Magma mematikan panggilan telpon nya membuat Lalita yang berada di mansion Magma uring-uringan tidak jelas karena kesal.
"Untuk apa aku di sini, bekerja berdua dengan Kenzo yang selalu memikirkan Lala!" kesal Lalita.
Magma kembali makan bersama Laura sampai akhirnya perempuan itu berbicara.
"Berhentilah menjodohkan mereka. Kalau Lita tidak mau jangan di paksa!"
"Butuh waktu sayang," sahut Magma.
"Waktu untuk apa?" tanya Laura.
"Untuk pria itu menerima kembaranmu, orang-orangku bilang kembaranmu sudah mulai menyukai pria itu."
"Tapi kalau Ken ---"
"Sssttt ... jangan sebut nama dia!" potong Magma.
Laura berdecak. "Kalau dia tidak menyukai Lita tidak bisa dipaksa!"
Laura menggelengkan kepala beberapa kali. Sebenarnya ia juga setuju jika Lalita dengan Kenzo karena Laura sudah mengenal bagaimana sikap Kenzo.
Tapi ia hanya takut Lalita tidak berhasil meluluhkan Kenzo.
"Apa kau tidak ada kerjasama di sini?" tanya Magma sambil mengambil jus di depan nya.
"Ada, dengan teman nya Paman Maxime. Dia memintaku mengendorse beberapa make up."
"Kapan?" tanya Magma.
"Nanti malam."
"Oke, aku ikut."
"Setelah melihat tembakanku tadi kenapa kau mau ikut? bekali saja aku pistol kalau kau tidak suka Jeni terus mengikutiku!"
"Penggantimu aku, bukan pistol!" sahut Magma.
"Cih, cemburumu tidak lucu Pak tua!" Laura tersenyum miring yang di balas senyuman oleh Magma.
*
Malam nya mereka benar-benar pergi ke perusahaan Salmanan's group. Laura berjalan dengan menggandeng tangan suaminya.
Satu orang pria melayani mereka dengan ramah membawa mereka menuju ruangan khusus pembuatan video.
__ADS_1
Magma duduk di salah satu kursi sambil melihat istrinya di rias oleh MUA. Sesekali ia memotret Laura dengan camera ponselnya kemudian pria itu tersenyum. Istrinya sangat cantik.
"Nona, Tuan Adi meminta ada mengganti pakaian," seru seorang perempuan yang datang menghampiri Laura. Adiwijaya Salmanan pemilik Salmanan's group.
"Kenapa dengan baju yang ini?" tanya Laura.
"Mungkin kurang cocok Nona, baju gantinya sudah ada di kamar ganti."
"Ah, baiklah kalau begitu."
Laura beranjak pergi ke kamar ganti. Mata Magma langsung mengikuti langkah kaki istrinya.
"Ada apa?" gumam Magma bertanya-tanya.
Baju yang di pakai Laura adalah baju pilihan Magma. Dress dengan model lengan panjang yang bahkan tidak sedikitpun menampakan celah kes*xyan dalam diri Laura. Panjangnya pun di bawah lutut.
Tujuh menit kemudian Magma terbelalak kala melihat istrinya keluar dari kamar ganti dengan dress yang modelnya mirip handuk yang di lilit.
Bagian depan dan belakang terlihat s*xy. Magma menggeram kesal, beranjak dari duduknya berjalan dengan membuka jas yang di kenakannya kemudian menyampirkan jas nya di pundak istrinya..
Semua orang yang melihat itu ada yang terkejut, ada pula yang terlihat kebingungan dengan apa yang di lakukan Magma.
"TIDAK ADA YANG BOLEH MELIHAT TUBUH ISTRIKU!! TUNDUKAN PANDANGAN KALIAN!!" teriak Magma.
"Magma!" seru Laura setengah berbisik merasa malu dengan teriakan Magma barusan.
Para karyawan yang bekerja di perusahaan itu hanya saling memandang penuh tanda tanya. Apa yang harus mereka lakukan, menundukan pandangan selama pemotretan. Gila.
"Siapa yang menyuruhmu memakai dress seperti itu!" kesal Magma kepada istrinya. Kedua tangan nya masih memegang jas di pundak Laura.
"Tuan Adi, atasanku," sahut Laura.
"Atasanmu tidak ada hak mengaturmu, karena aku suamimu. Menurutlah kepadaku, jangan kepada dia!"
"Aku bekerja dengan nya, Magma!" geram Laura berbicara setengah berbisik berharap yang lain tidak mendengarkan obrolan mereka walaupun mustahil karena banyak orang yang berdiri di dekat mereka.
"Kalau begitu jangan bekerja lagi! aku bukan orang miskin sayang!"
"Tapi ini hobby ku!!"
"Tapi aku juga suamimu yang tidak suka kau memakai dress ketat sial*n seperti ini!!"
"Magma ---"
"Pulang!" potong Magma.
"Tapi ---"
"Ayo pulang!!" Pria itu langsung merangkul istrinya dan membawanya keluar dari ruangan tersebut dengan setengah menyeret langkah Laura.
Para karyawan yang bekerja mendengus kasar melihat kepergian Laura. Mau bagaimana lagi, mereka tahu siapa Magma.
Sekarang yang harus mereka lakukan hanyalah memberikan penjelasan kepada Tuan Adi.
Bersambung
__ADS_1