
Marvel mengintip pembicaraan Ayahnya bersama Lail di sebuah ruangan yang jarang di kunjungi. Mereka berdua mengobrol tampak serius dengan Magma yang duduk di kursi kebesarannya dan Lail yang berdiri di depan meja Magma.
"Apa yang mereka inginkan? Aku bahkan sudah hampir pensiun dari dunia gelap itu!"
"Mereka menginginkan Tuan muda. Mereka takut jika Marvel atau adiknya menjadi penerusmu Tuan."
"Katakan kepada mereka. Aku bahkan tidak setuju jika putraku menjadi mafia! Sampai kapanpun aku tidak akan mengajari mereka menembak atau hal bahaya lainnya. Sekalipun Marvel merengek kepadaku!"
Mendengar ucapan Ayahnya Marvel dapat menyimpulkan, setiap kali merengek meminta di ajarkan memanah atau memegang pistol Ayahnya selalu mengatakan belum saatnya karena masih kecil. Ternyata kenyataan yang sebenarnya, mungkin sampai besar pun tidak akan pernah di ajarkan.
Marvel kembali ke kamarnya dan melihat kedua adiknya tengah berebut mainan di atas ranjang. Ia duduk di sofa melamun seorang diri dengan wajah cemberut.
Marsel yang melihat itu melepaskan robot di tangan nya membuat Melvin terjungkal ke belakang.
"Vel ..." seru Marsel mendekati Marvel dan duduk di sampingnya.
"Hm?" Marvel mendehem sebagai jawaban.
"Mommy beliin pesawat baru loh. Mau liat?"
Marvel mengangguk dengan wajah datar. Dan dengan semangatnya Marsel turun dari sofa lalu mengambil mainan pesawat yang ada di laci.
Melihat ada mainan baru, Melvin segera turun dari ranjang merebut pesawat mainan itu sebelum sampai ke tangan Marvel.
"Ini punyaku!"
"Aku mau ini!" sahut Melvin.
__ADS_1
Mereka kembali berebut.
"Kau kan sudah ada robot. Ini pesawat punya Marvel!"
"Kenapa kau memberikannya kepada Marvel bukan kepadaku! Dia tidak suka mainan tau!" seru Melvin.
"Dia suka! Kau jangan ambil punya orang lain lagi atau aku bilang Daddy!"
Mendengar kedua adiknya bertengkar membuat Marvel kesal. Anak itu turun dari sofa menghampiri mereka lalu dengan cepat merebut pesawat mainan tersebut dan membantingnya dengan keras ke lantai membuat keduanya terkejut.
Pesawat mainan itu belah menjadi dua bagian. Marsel dan Melvin menatap Marvel yang hanya memasang wajah datar.
"Sel, ambil kepala pesawatnya. Vin, ambil ekornya. Aku tidak mau!" seru nya lalu pergi dari kamar.
Keduanya hanya menatap pesawat mainan yang telah rusak. Marsel terlihat kesal kepada Melvin karena Melvin, Marvel jadi marah.
"Vel, tunggu ..." teriak Marsel berlari menuruni anak tangga menyusul Marvel.
"Vel ... Aaaaaa ..."
Marsel tersandung kakinya sendiri, anak itu terguling di anak tangga. Marvel yang sudah berada di bawah terkejut melihat itu.
"Tuan muda ..." teriak Lail berlari menuruni anak tangga setelah berbicara dengan Magma.
Magma yang mendengar teriakan Lail pun ikut keluar di susul Laura yang baru saja keluar dari kamarnya.
DUG
__ADS_1
"Marsel!" jerit Laura.
Magma mengambil Marsel dari pelukan Lail. "Sayang kita ke Rumah Sakit sekarang!"
Pria itu menggendong Marsel dan membawanya menuju mobil di ikuti Laura dan Lail.
Marvel diam di tempat kala Ibunya berlari mengacuhkan dirinya. Anak itu hanya mendengar tangisan Marsel sampai suara mobil berderu pergi dari halaman mansion.
Melvin menuruni anak tangga perlahan-lahan dan menghampiri Marvel yang hanya duduk di sofa sendirian.
"Vel, mana Marsel?" tanya nya seraya naik ke sofa.
Marvel menoleh, menatap wajah adiknya yang paling gembul pipinya. "Kenapa kau suka sekali mengambil barang milikku dan Marsel?"
"Aku mau punya juga."
"Kan kau sudah punya. Mommy belikan tiga tapi punyamu selalu rusak."
Melvin terdiam lalu menunduk dengan wajah cemberut. Melvin memang sangat suka mengambil mainan milik kakaknya jika miliknya sudah rusak.
"Tuan muda ..." seru seorang pelayan perempuan menghampiri mereka berdua.
Marvel menoleh.
"Nyonya barusan telpon dan akan pulang larut malam. Tuan muda makan dulu ya ..."
Marvel kembali menatap Melvin yang masih menunduk dengan menekuk wajahnya. Kemudian ia menarik tangan Melvin untuk turun dari sofa dan pergi ke meja makan.
__ADS_1
Bersambung