M & L

M & L
Tiga tahun kemudian


__ADS_3

Tiga tahun kemudian usia tripel M sudah empat tahun. Kini mereka hidup di Spanyol.


Semakin tumbuh semakin kelihatan karakter mereka masing-masing. Dari Marvel yang tidak terlalu banyak bicara tapi mudah marah, Marsel yang selalu bersikap manis dan Melvin yang receh yang mudah tertawa terbahak-bahak.


Marsel dan Melvin sama-sama penyuka rujak walaupun usianya masih empat tahun. Biasanya dua anak itu akan pergi ke belakang mansion dengan seorang penjaga, Melvin naik ke pohon yang tidak terlalu tinggi untuk mengambil mangga muda dan Marsel menunggu nya di bawah.


Bumbu rujak yang di buat Laura untuk kedua putranya hanya terasa manis tanpa campuran cabe sedikitpun.


"Ini Sel ..." teriak Melvin lalu melempar mangga muda yang dia ambil dari tangan penjaga. Penjaga itu ada di dahan yang lebih tinggi.


Marsel mengambil mangga muda yang tergeletak di tanah. "Naik ke atas Vin," seru Marsel.


"Engga ah. Nanti jatuh, huh."


"Ini Tuan muda tangkap ..." penjaga itu melempar pelan mangga muda nya ke Melvin dan Melvin akan melemparnya ke Marsel.


Marvel hanya diam memperhatikan dari kejauhan dengan duduk di salah satu kursi jati.


"Huahahaha ..." Melvin tertawa keras ketika Marsel gagal menangkap mangga nya.


"Pelan-pelan dong," seru Marsel sambil berlari mengejar mangga yang menggelinding jauh.


Ketika Magma berjalan ke belakang mansion dan mendapati kedua putranya berada di dekat pohon Mangga ia hanya bisa menggelengkan kepala.


Matanya tertuju ke arah Marvel yang duduk sendirian sambil memperhatikan kedua adiknya. Magma berjalan menghampiri Marvel dan duduk di samping Marvel.


"Diam saja ... ikutlah bermain bersama adikmu."

__ADS_1


"Mereka tidak bermain Dad."


"Lihat, Melvin bergelantungan di pohon. Itu bermain juga namanya."


"Engga ah. Aku mau belajar main panah aja Dad," seru Marvel.


"Heh main panah bagaimana? kau masih kecil."


"Terus kapan Dad?"


"Nanti saja sudah besar!"


Marvel berdecak kesal. Ia turun dari kursi dan pergi meninggalkan Magma yang terus meneriaki namanya.


"Marvel!"


"Astagaaa ..." Magma menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Marvel selalu seperti itu jika keinginannya tidak terkabul.


Marsel dan Melvin menoleh ke belakang kala mendengar suara Ayahnya.


"Daddy ..." teriak mereka berdua.


Marsel berlari menghampiri Ayahnya dengan tangan kecil yang penuh dengan mangga. Melvin turun terlebih dahulu dari pohon.


"Hati-hati Tuan muda ..." seru penjaga yang berada di atas Melvin.


Melvin langsung berlari ketika kakinya sudah menginjak tanah.

__ADS_1


Magma berdiri dari duduknya menyambut Marsel.


"Daddyy ... Aku punya mangga," teriaknya.


"Wouwww ... Hebat sekali." Magma menggendong Marsel.


"Daddy aku yang naik ke pohon nya ..." teriak Melvin.


Magma juga menyambut Melvin dengan hangat. Pria itu langsung menggendongnya.


"Cocok kalian berdua jadi pedagang rujak," seru Magma dengan tertawa menggendong kedua putranya.


Marvel diam-diam mengintip. Ia mengerucutkan bibirnya ketika melihat Ayahnya menggendong Marsel dan Melvin kemudian ia berlari saja pergi ke kamarnya.


"Pantas Ibu kalian dulu suka sekali mengidam mangga muda. Ternyata kalian pelakunya hm."


Untungnya mangga muda itu rasanya tidak terlalu asam.


"Mengidam itu apa Dad?" tanya Melvin dengan polosnya.


"Mengidam itu keinginan Ibu hamil yang harus di turuti. Dulu Dad juga panjat pohon kaya Melvin."


"Oh ya? Kok sekarang engga Dad?"


"Dah tua," sahut Marsel membuat mereka sontak tertawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2