M & L

M & L
#Kedatangan Lalita ke Spanyol


__ADS_3

Kenzo, Aris dan Farel kembali ke Spanyol karena mereka tidak bisa pulang ke Indonesia. Entah kenapa bandara di New Zealand mempersulit kepulangan mereka ke tanah air.


Mereka pun memilih kembali ke Spanyol sejenak dan berencana akan pulang ke Indonesia dari bandara Spanyol saja.


Di pesawat Farel tak henti-hentinya menggerutu sebab ia harus cepat-cepat kembali ke Indonesia karena De Willson group sudah meminta Farel untuk bekerja di restaurant nya.


Farel berdecak. "Gara-gara bandara menyebalkan itu aku jadi tidak ikut pembukaan restaurant De Willson," gerutu Farel tidak terima.


Ia sangat menunggu moment ini, moment hadir di acara pembukaan restaurant baru keluarga De Willson. Karena moment itu akan banyak orang yang hadir ikut merayakan dan pastinya akan banyak wartawan yang meliput. Siapa tahu Farel bisa terkenal setelah di liput media.


"Sudahlah, kau ini berisik sekali dari tadi. Tuan Winter saja tidak masalah kau tidak hadir! memangnya itu restaurant punyamu!" hardik Aris yang duduk di sebelah kiri Farel.


"Yang penting kontrak kerja sama mu terus berlanjut," sambung Farel.


"Iya. Tapi kan moment pembukaan itu paling di tunggu-tunggu."


*


Mereka sampai di bandara bersamaan dengan kedatangan Lalita yang hendak pergi ke mansion kembarannya.


"Eh eh, itu bukannya Kak Lalita ya kembarannya kak Laura." Farel menyikut lengan sang kakak.


Aris menajamkan penglihatannya kemudian mengangguk. "Iya, itu kembarannya si Psycho --- eh Laura maksudku."


Lalita terlihat menyeret koper berwarna coklat. Gayangnya tak jauh keren dengan Laura. Hanya saja fashion Lalita terlihat sedikit tomboy dari Laura. Dia memakai hoodie berwarna hitam dan celana jeans hitam. Rambut ikalnya di ikat satu.


Lalita masuk ke sebuah mobil. Sepertinya mobil khusus jemputan dari Magma.


"Pasti mau ketemu sama Kak Laura," seru Farel.


"Sudahlah. Jangan ikut campur!" hardik Kenzo mempercepat langkah kakinya. Mereka akan istirahat sejenak di apartemen yang mereka sewa, karena masa sewa nya belum habis mereka masih bisa menempati.


*


Sesampainya di mansion Magma, Lalita keluar dari mobil. Kopernya di keluarkan dari bagasi oleh anak buah Magma.


Lalita menekan bel dan tak lama Magma membuka pintu.


"Masuk," seru Magma menyisi memberikan ruang untuk Lalita.


"Dimana Lala?" tanya Lalita.


"Ada di dalam, kalau tidak ada dia, aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke mansionku!"


"Ck. Mau jadi suami yang baik?" Lalita melengos masuk membuat Magma menghela nafas kasar dan mengekor adik iparnya itu.


"Lita ..." seru Laura menuruni anak tangga.


Mereka sempat berpelukan, Lalita merasa lega bisa melihat Laura kembali setelah kabar tidak mengenakan itu muncul.


"Kapan kau akan pulang ke Indo, Mom menunggu ..."


"Minggu depan aku pulang," sahut Laura. Ia berjalan ke sofa dan Lalita mengikutinya.


"La, kau ---"

__ADS_1


"Jangan membahas soal kecelakaan, aku tidak mau membahas!" potong Laura.


Lalita berdecak. "Justru aku penasaran karena hal itu."


Magma datang dengan membawa nampan berisi dua minuman dan menyimpan dua gelas minuman itu di meja dengan sopan.


Lalita mengernyit menatap Magma heran, kemudian ia beralih menatap Laura dengan maksud bertanya apa yang salah dengan sikap Magma sekarang.


"Silahkan di minum ..." Magma kemudian duduk di samping istrinya.


"Cih, karma cepat sekali terjadi." Lalita menahan tawa nya.


Magma mendengus kasar. "Minumlah!"


"Tidak ada racun kan?"


"Kakakmu saja baik-baik saja!" kesal Magma.


Laura menggelengkan kepala. Lalita mengambil minuman yang di buat Magma.


"Kau tumben kesini. Ada apa?"


"Hah?" Lalita mengernyit tidak mengerti kemudian menaruh kembali gelasnya di meja.


"Bukankah suamimu yang menyuruhku ke sini?"


Laura langsung menatap Magma. Sebab ia benar-benar tidak tahu dengan kedatangan Lalita. Lalita memang mengatakan akan pergi ke Spanyol tapi perempuan itu tidak mengatakan jika Magma yang awalnya menyuruh.


"Kau ingat ucapanku hari itu," bisik Magma.


"Menjodohkan dia dan Ken!"


Laura sontak melebarkan matanya. Lalita menatap bergantian mereka berdua, ingin tahu apa yang di bicarakan mereka tapi tidak terdengar sama sekali.


"Laura kembali jadi model, dia akan sering pemotretan di sini. Jadi aku membutuhkan mu untuk mengatur fashion Laura," seru Magma.


"Hah? Mengatur fashion? apa menurutmu fashion Lala itu buruk?"


Magma berdecak. "Tidak, tapi aku tidak mau dia kerepotan karena harus mengatur fashion nya sendiri. Apalagi nanti malam dia ada pemotretan!"


Lalita beralih menatap Laura dan perempuan itu pun sontak menganggukam kepala.


"Satu lagi, kau tidak tinggal di sini!" seru Magma.


"Lalu?"


"Aku sudah menyewa apartemen untukmu. Sudah mengirim alamatnya, cek saja ponselmu!"


"Bagaimana dengan butikku di Indonesia."


"Banyak karyawanmu, kenapa mengkhawatirkan hal itu," sahut Laura.


Lalita menghembuskan nafas. "Iya juga sih."


*

__ADS_1


Lalita berada di mansion Laura sampai sore karena ia dan Jeni harus mengantar Laura ke perusahaan Jasmine group.


"Aku akan menyusul nanti," seru Magma yang tengah mencuci piring karena mereka baru selesai makan malam.


Laura mengangguk lalu berjalan pergi diikuti Lalita dan Jeni menuju mobilnya.


"Semua persiapan sudah lengkap?" tanya Laura sambil memakain seatbealt.


"Sudah dong, make up aman. Baju ganti aman, heels dan yang lainnya aman di koper," sahut Jeni kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Laura jika ada pemotretan selalu rempong sendiri. Semua make up harus di bawa karena kadang perias membawa make up yang tidak Laura suka.


"Kau akan kembali kapan Say?" tanya Jeni menatap Lalita di spion depan.


"Kembali kemana?" sahut Lalita yang duduk di kursi bakalang.


"Ke Indo."


"Tidak tau, tanya saja Lala."


"Dia tinggal di apartemen yang sama dengan Kenzo besok," seru Laura pelan kepada Jeni. Beruntung Lalita langsung memakai headseat di telinganya. Sepertinya perempuan itu tidak mendengar ucapan Laura barusan.


Jeni ternganga sampai mulutnya terbuka setengah. "La, jangan bilang ---"


"Ya, benar. Seperti apa yang kau pikirkan." Laura tersenyum.


"Astaga ..." Jeni menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di perusahaan Jasmine group. Mereka semua keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam.


Masih banyak karyawan yang bekerja walaupun hari sudah malam.


"Saya mau bertemu dengan Nona Jasmine," kata Jeni kepada resepsionist di perusahaan tersebut.


"Nona Jasmine sedang keluar. Tapi ada Tuan Justin yang menggantikan."


"Siapa itu?" tanya Jeni.


"Adik nona Jasmine, Tuan."


"Oh. Yasudah aku mau bertemu dengan dia."


Resepsionist perempuan itu mengangguk kemudian mencoba menelpon terlebih dahulu atasan nya itu. Laura dan Lalita duduk menunggu semangat Jeni berdiri.


"Baik, Tuan." Kata resepsionist tersebut di telpon.


"Tuan Justin mengatakan ia hanya ingin bertemu dengan Nona Laura saja. Sisanya bisa menunggu di sini ..."


"Loh kenapa?" tanya Lalita heran.


"Maaf, Tuan Justin hanya mengatakan itu saja. Beliau meminta Nona yang bernama Laura naik ke lantai lima."


Jeni, Laura dan Lalita saling menoleh bingung sebab biasanya Jeni selalu ikut. Laura tidak pernah di biarkan sendirian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2