M & L

M & L
#Kepanikan keluarga


__ADS_3

Berita mobil masuk ke jurang itu langsung menjadi perbincangan publik dan trending dimana-mana. Banyak wartawan datang ke lokasi untuk mengambil berita dan mencari tahu mobil siapa yang masuk ke jurang.


Pemotretan itu sebagian di ambil dari atas dan beberapa wartawan ada yang menumpang ke helicopter ketika tim sar hendak turun. Di situlah wartawan mengambil foto Magma yang tengah duduk bersimpuh dengan pandangan kosong menatap mobil yang sudah hangus terbakar pasalnya istrinya tidak ada di dalam mobil. Ia hanya menemukan gelang nya saja.


Seketika foto Magma trending dimana-mana. Masuk tv dan koran harian. Instagram, twitter dan berbagai sosial media lain nya pun ikut di hebohkan dengan foto Magma.


Sampailah berita tersebut ke twitter Lalita. Lalita terbelalak kala melihat foto Magma bersimpuh di dekat mobil yang terbakar. Terlihat Magma dengan pandangan kosong dan mata sembabnya menatap mobil di hadapan nya.


"Loh, ini kan Magma ..." seru nya. "Dia kenapa di situ, mobil siapa yang masuk jurang."


Tiba-tiba Lalita memikirkan Laura, ia segera menelpon kembaran nya itu, tapi ternyata nomor nya tidak aktif. Sekali lagi ia mencoba menelpon, nomornya tetap tidak aktif.


"La, kenapa tidak aktif sih," gumam Lalita panik.


Karena tidak ada kejelasan dari kembaran nya itu, Lalita yang tengah berada di butik akhirnya menutup butiknya tersebut dan segera berlari menuju mobilnya. Ia pulang ke mansion sang Ayah.


Setengah jam perjalanan Lalita akhirnya sampai di mansion Arsen. Ia berlari keluar dari mobil.


"Dad ... Daddy ..." teriaknya.


"Mommy ..."


"Apa sih Lita?" tanya Miwa berjalan dari arah dapur karena baru beres memotong buah.


"Mom, mom hari ini udah telpon Lala belum?"


"Belum sih, kenapa memang?"


"Ada apa?" Arsen berjalan menuruni anak tangga menghampiri istri dan anaknya.


"Dad sudah menelpon Lala belum hari ini?" tanya Lalita.


"Belum, kenapa memang?"


"Ini ..." Lalita menunjukan berita di twitter yang ia temukan.


Arsen mengambil ponsel Lalita, Miwa pun mendekat untuk melihat ponsel di tangan Arsen.

__ADS_1


"Magma ..." ucap Miwa. "Itu kan Magma."


"Mobil siapa ini yang terbakar Lalita?" tanya Arsen.


Lalita menggeleng dengan wajah panik. "Tidak tau, k-kalau bukan Lala ... kenapa Magma ada di sana."


Miwa berlari mengambil remot dan menyalakan nya. Seketika saluran tv di penuhi berita yang sama.


Laura Zahaira Bachtiar model terkenal yang meninggal karena kecelakaan.


"Lala!" jerit Miwa.


"Mom!" Lalita berteriak kala Miwa seketika pingsan, beruntung Arsen langsung menangkapnya.


"Lita, hubungi pamanmu," seru Arsen kemudian menidurkan Miwa di sofa.


"Iya, Dad."


Lalita segera menghubungi Maxime dengan tangan yang gemetar. Jantungnya seakan berdetak lebih cepat, wajahnya berubah pucat. Laura meninggal, ia tidak percaya itu.


"Hallo, Paman."


"Iya paman."


"Dad, Paman Maxime menyuruh kita ke bandara sekarang."


Arsen mengangguk. Ia menoleh ke tv, saluran tv masih menyiarkan kecelakaan tersebut. Arsen mengepalkan tangan nya dengan geram.


"Aku akan membunuhmu kalau putriku mati!" geram Arsen.


*


"Mom, apa berita di tv itu benar? Kak Magma tidak mengangkat telponku, Lail juga." seru Yura di telpon.


"Mom juga tidak tau Yura," sahut Bayuni dengan menangis. "Bagaimana kalau benar, keluarga Tuan Arsen pasti marah besar."


"Mom tenang saja ya ... Aku dan Winter juga mau pergi ke Spanyol. Mom dan Dad bisa datang ke sini untuk jaga Talia dan Tania."

__ADS_1


"Iya Yura. Mom kesana sekarang."


"Bagaimana dengan Dad?" tanya Yura kemudian.


"Daddy mu hanya diam di sofa."


*


"Aww, pelan-pelan. Ish!" Laura menepuk tangan Jeni yang tengah mengobati luka di lututnya.


"Ini sudah pelan, La. Rempong deh ah," sahut Jeni.


Laura kembali menonton tv, menonton berita tentang dirinya sambil memakan burger, lututnya masih di obati oleh Jeni. Lukanya tidak terlalu parah, jadi Laura menolak di panggilkan Dokter.


"Apa kalian tidak mau menghubungi keluarga kalian heh?" seru Aris membawa dua minuman di nampan.


"Surprise untuk keluarga," sahut Jeni.


"Ck, surprise itu menyenangkan bukan menyedihkan." Aris bergabung duduk bersama mereka.


"Aku akan menghubungi Daddy ku nanti setelah Magma di hajar dulu oleh Daddy ku," seru Laura membuat Aris menoleh ke arahnya sambil menggelengkan kepala.


"Kau ini istri durhaka."


Laura berdecak dengan wajah masam ke arah Aris. "Diam! kau tidak tau apa-apa!" sentak Laura tidak ada kelembuatan dalam bicaranya.


Aris menghela nafas kemudian memilih mengambil kentang goreng di meja saja.


"Aw, suka deh Jeni kalau Lala balik lagi kaya dulu. Jadi kucing garong lagi, hauumm." Tangan Jeni seolah-olah hendak mencakar wajah Laura memperagakan kucing yang hendak mencakar.


"Kucing itu meong bukan haumm. Haum itu harimau." Koreksi Aris.


"Terserah Jeni lah," sahut Jeni dengan sinis. Laura hanya menggelengkan kepala.


BRAKH


Pintu apartemen di buka dengan kasar membuat mereka bertiga terhentak kaget dan menoleh ke arah pintu, terlihat Kenzo dan Farel datang dengan dada naik turun kelelahan karena ingin memastikan kalau Laura ada di apartemen nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2