M & L

M & L
#Magma cemburu kepada Jeni


__ADS_3

"Kau tidak bisa memecat Jeni seperti itu!" seru Laura. Mereka sedang berdebat di kamar karena Magma menginginkan Jeni berhenti bekerja dengan Laura.


"Sayang, Jeni itu seorang pria ---"


"Tidak, dia banci," potong Laura.


"Banci itu wanita atau pria?" tanya Magma kemudian.


"P-pria sih."


"Kan ... itu sebabnya aku tidak mau ada pria yang mendekatimu. Bagaimana kalau ternyata dia diam-diam menyukaimu? dia menyamar menjadi banci agar bisa dekat denganmu, melihat lekuk tubuhmu ketika kau ganti baju!"


Laura menghela nafas kasar. "Cemburumu berlebihan!"


"Seharusnya kau senang aku cemburu. Itu artinya aku menyayangimu."


"Cemburulah di tempat yang benar, bukan kepada Jeni!" kesal Laura.


"Aku sudah cemburu di tempat yang benar sayang," sahut Magma memegang tangan Laura yang duduk di sampingnya. "Kalau Jeni wanita, aku tidak akan cemburu dengan dia!"


"Jeni itu bukan orang baru yang bekerja denganku! kau ini aneh sekali!"


"Sayang ---"


"Tidak ya Magma! aku tidak setuju kalau Jeni di pecat karena hanya dia yang bisa menjadi asisten terbaikku, dia mengatur semuanya. Bukan hanya jadwal foto, bekerja sama dengan perusahaan, tapi dia juga membantuku mengatur fashion. Dalam hal bela diri dia juga bisa!"


"Yang terakhir itu aku lebih hebat sayang dari pada Jeni. Soal bela diri aku yang terbaik menjagamu, jadi aku saja yang menggantikan Jeni bagaimana?"


"Hah?" Laura menatap suaminya dengan alis terangkat naik.


"K-kau ... bagaimana dengan perusahaanmu?"


"Masih ada Lail, lagi pula aku bos nya. Aku bisa memantau lewat ponsel kan. Kita atur saja, aku menjagamu di bagian orang-orang yang ingin berniat jahat kepadamu dan Jeni yang membantumu mengatur fashion."


"Seandainya kembaranmu itu tidak sedang pdkt di Spanyol aku sudah meminta dia yang mengatur fashionmu bukan Jeni!" kesal Magma.


Laura mendengus kasar. "Terserah kau saja lah!"


Perempuan itu beranjak dari duduknya keluar dari kamar.


*


Mereka berdua berpamitan dari rumah Benjamin. Mereka memilih tinggal di apartemen untuk sementara waktu karena Magma baru saja membangun mansion baru di Indonesia untuk tempat tinggal mereka jika berkunjung ke Indonesia.


Laura membuka pintu apartemen nya dan menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia tersenyum kemudian duduk di sofa yang empuk.


"Ah enaknya ..." serunya.


Magma duduk di samping perempuan itu. "Pegal Nona?" tanya nya sambil membuka heels istrinya lalu menaikan kakinya ke atas pahanya. Magma memijat kaki Laura.

__ADS_1


Laura terkekeh. "Aku ingat kau mengatakan aku cocok jadi tukang pijat. Tapi sepertinya kau yang lebih cocok ..."


"Aku hanya memijat satu kaki saja. Kakimu ..." sahut Magma dengan tersenyum.


"Kalau aku tidak pergi hari itu, sepertinya mustahil kau mau memijat kakiku. Huh, kau pasti tetap menjadikanku pembantu!" Laura menekuk wajahnya.


"Sudahlah ... aku sudah minta maaf!"


"Apa yang ada di pikiranmu kalau aku benar-benar mati!"


Magma memukul pelan kaki Laura. "Jangan bicara sembarangan!"


"Aku hanya bertanya!"


"Aku tidak suka pertanyaanmu!"


"Jawab saja kali, apa susahnya!"


"Laura sudah pasti aku sangat menyesal dan bersalah kalau itu terjadi ..."


"Ada bagusnya juga kan aku jadi Lala hari itu. Lala pintar membuatmu nyaman sampai ketika sosok Laura ini kembali kau uring-uringan karena aku tidak ada bersamamu!"


"Tapi aku lebih suka Laura dari pada Lala!" sahut Magma dengan tersenyum. "Laura selalu bergair*h setiap saat ..."


"Aku mau mandi," sahut Laura menarik kakinya dari atas paha Magma karena pijatan suaminya sudah mulai asal. Semakin naik ke atas.


Magma berdecak menatap kepergian istrinya ke kamar. Ia hanya memeluk bantal sofa sambil menghembuskan nafas.


*


"Aku ikut," rengek Magma seperti anak kecil. Pria itu berada di belakang Laura memeluk istrinya dari awala menemani Laura masak.


"Sudah ada Jeni."


"Aku kan Sekretaris barumu. Aku yang menjagamu dari orang jahat sayang!"


"Berlebihan sekali, ish!"


"Aku takut Jeni menyentuhmu."


"Astaga Mag ---"


"Dia belum operasi kelamin kan sayang? bagaimana kalau kita biayai dia untuk operasi? setelah itu aku merasa aman kalau dia di dekatmu."


Laura berdecak, menyimpan pisau dengan kasar lalu berbalik. "Otakmu sudah penuh dengan pikiran kotor ya!"


"Tidak, sudah penuh denganmu di otakku sekarang." Magma tersenyum mencubit gemas dagu istrinya.


Laura menautkan alisnya dengan perubahan sikap Magma yang semakin menonjol setiap hari. Pria itu bahkan beberapa kali menggombali Laura.

__ADS_1


"Setiap hari kau semakin aneh. Sepertinya kau nanti butuh obat ..." Laura menggelengkan kepala beberapa kali kemudian melengos meninggalkan suaminya.


"Sayang obatku itu dirimu setiap malam!" teriak Magma seraya tersenyum geli. Ia suka melihat ekspresi istrinya yang terkadang menunjukan ekspresi jijik kepadanya.


Mereka makan malam bersama. Kali ini Laura yang memasak. Magma makan dengan satu tangan mengenggam erat tangan istrinya.


"Diam ya!" seru Laura kala Magma menginjak kakinya di bawah meja.


Dari tadi Magma suka sekali menggoda Laura untuk marah. Pria itu selalu mengembangkan senyumnya ketika melihat istrinya jutek.


"Aku suka mendengar suaramu," sahut Magma dengan tersenyum seraya menaik turunkan alisnya membuat Laura mengerutkan dahinya.


"Magma, jatuh cintamu parah sekali ya ..." Laura menggelengkan kepala tak habis pikir karena Magma yang selalu jutek dan suka marah-marah kepada dirinya itu sudah hilang entah kemana.


"Ini kan jatuh cinta pertama kita. Iya kan? kau juga sebelumnya tidak pernah pacaran ..."


"Ya, tapi yang menyukaiku banyak!" sahut Laura dengan Magma.


"Kau pikir aku sedikit sayang? aku tampan, kaya dan jago di ranj*ng. Menurutmu siapa yang tidak mau denganku? Kau saja dulu tergila-gila," sahut Magma dengan tersenyum miring.


"Kau merasa beruntungkan sekarang?" seru Magma kemudian membuat Laura berdecih. Perempuan itu memilih kembali makan dan menghiraukan ucapan suaminya.


Selesai makan Magma yang giliran mencuci piring setelah sebelumnya Laura memasak. Perempuan itu hanya duduk di minibar sambil sesekali menegus segelas air.


"Besok biar aku yang memasak sayang," seru Magma sambil terus mencuci piring.


"Hm." sahut Laura.


"Besok pemotretan jam berapa?" tanya Magma kemudian.


"Pagi hari, saat ada sunset di pantai," sahut Laura.


"Kau mau bekal makanan? aku bisa memasak pagi-pagi sekali."


"Magma aku bukan anak kecil yang mau sekolah," sahut Laura kemudian mendengus kasar.


Magma tersenyum. Dia juga iseng bertanya karena suka saja mendengar suara istrinya.


"Magma ..." panggil Laura.


"Ya?" Magma menoleh ke belakang dan seketika ia mematung kala melihat Laura tersenyum ke arahnya dengan hanya mengenakan pakaian d*lam saja.


Bola mata pria itu melihat ke bawah, baju Laura sudah berserakan di lantai. Entah kapan perempuan itu membukanya.


Laura beranjak dari duduknya, berjalan melenggak-lenggok menuju kamar dengan hanya memakai pakaian dal*m saja. Magma menelan salivanya susah payah.


Dengan secepat kilat ia berusaha membereskan cucian piringnya kemudian menyusul istrinya ke kamar


#Bersambung

__ADS_1


Bakalan update rutin kaya biasa lagi hari senin. Karena sekarang masih sibuk nyiapin buat nikah hari minggu. Mohon di maklum jangan pada kabur ya heheheh


__ADS_2