M & L

M & L
#Hmmm ...


__ADS_3

"Lita, aku setuju dengan model yang itu." Laura berseru di telpon kepada kembarannya yang ada di Spanyol.


"Mudah sekali kau mengatakan setuju. Mahavir group berniat memproduksi gaun pengantin tidak sih?" Lalita heran sebab biasanya Laura selalu memperhatikan kesalahan-kesalahan kecil dari gaunp yang di rancang Lalita. Mustahil Laura langsung mengatakan 'iya' tanpa ada protes apapun.


Tapi kali ini, Laura seakan sudah melihat kesempurnaan gaun pengantin rancangan Lalita dalam sekali melihat.


Laura berdecak. "Aku komplen salah, aku bilang iya tanpa protes apapun juga salah!"


"Ini tidak seperti dirimu, Lala. Huh."


"Sudahlah, bekerja yang benar dengan Kenzo di sana!"


"Kenzo lagi, Kenzo lagi ... setiap kali menelponmu kau selalu membahas Ken ---"


"Aku sudah punya Magma ya jangan berpikir yang aneh-aneh!!" hardik Laura lalu mematikan panggilan telpon nya.


Lalita mendengus kasar kemudian berbalik menghampiri Kenzo. Mereka sedang berada di balkon apartemen Lalita.


"Bagaimana?" tanya Kenzo.


"Dia bilang iya dan setuju. Terus saja seperti itu, seperti tidak berniat berbisnis tau," sahut Lalita duduk kembali di kursinya.


"Mungkin tidak mau rumit, toh bukan untuk di pakai di pernikahan dia."


"Kau tidak tau, Ken. Dia paling ribet soal baju. Mau itu kaos biasa, dress pendek, gaun pengantin untuk iklan. Ah apapun itu dia sering sekali protes bagian ini kurang payetlah, kurang brokat lah, ini lah, itu lah. Sampai kadang aku harus bergadang untuk membuat baju yang diinginkan dia."


Kenzo tersenyum. "Sepertinya itu yang membuatmu merancang gaun pengantin simpel untuk dirimu sendiri. Kau sudah lelah oleh protesnya Laura ..."


"Ya, itu salah satu alasannya!" sahut Lalita dengan memutar bola matanya jengah membuat Kenzo terkekeh.


"Aku harus membeli beberapa kain lagi," seru Lalita.


Kenzo mengangguk. "Aku akan menemanimu ..."


"Kau tidak bosan mengikutiku terus?" tanya Lalita dengan tersenyum.


"Sudah tugasku. Lala yang menyuruh."


Lalita seketika memudarkan senyumnya. Ia berpikir jika Kenzo tidak tulus menemaninya tapi karena Laura.


"Oh iya, Lala yang menyuruh," gumam Lalita pelan dengan tersenyum getir.


*


Magma keluar dari kamar mandi, ia berjalan mengambil sisir di meja kemudian menyodorkannya kepada Laura yang tengah membaca majalah di ranjang.


"Apa?" ujar Laura mendongak menatap Magma.


"Sisir rambutku."


Mata Laura beralih menatap rambut Magma yang basah. "Kau keramas?"


"Iya, rambutku sedikit panjang. Harus di rawat juga. sisir sayang."

__ADS_1


Magma duduk di ranjang membelakangi Laura. Laura pun menyimpan majalahnya kemudian menyisir rambut Magma sambil mengeringkannya dengan hairdryer.


"Ikat ya," pinta Magma yang di jawab deheman dari Laura.


"Kalau aku potong rambut bagaimana?" tanya Magma.


"Tidak perlu, ciri khasmu rambut diikat."


Magma tersenyum. "Oke sayang."


Setelah selesai mengeringkan dan mengikat rambut suaminya. Magma pun berdiri dan berbalik lalu memeluk Laura.


"Bagaimana? aku tampan?" tanya nya setelah memeluk Laura.


"Jelek!"


"Huh, bohong. Kau saja tergila-gila kepadaku ..."


"Itu dulu!"


"Ya, dulu. Saat kau tidak punya rasa gengsi seperti sekarang."


"Aku merindukanmu yang dulu Laura ..." Magma meraup wajah istrinya. Laura terdiam, menatap lekat mata Magma.


"Kau bilang sudah memaafkanku, tapi masih seperti ini. Kalau kau menganggap sikap berubahmu itu hukuman. Kapan selesainya?" tanya Magma.


Laura memegang tangan Magma di wajahnya. "Sekarang."


"Sekarang hukumannya sudah selesai," seru Laura.


"B-benarkah?"


Laura mengangguk dengan tersenyum. Magma langsung membungkuk untuk menc*um perempuan itu tapi Laura langsung membekap mulut suaminya. "Buru-buru sekali," serunya dengan berdecak sebal.


Magma menepis tangan Laura. "Kau harus merasakannya ketika sadar." Magma mengedipkan sebelah alisnya kemudian menc*um istrinya dengan lembut.


Laura memejamkan mata merasakan c*uman dari suaminya. Magma meraup kedua pipi istrinya dengan lembut, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan mata Laura yang terpejam, memintanya agar membuka mata.


Ketika perempuan itu membuka matanya, ia langsung menatap mata coklat suaminya. Magma tersenyum kemudian mengecup wajah istrinya bertubi-tubi. Bahkan ci*man itu sampai ke telinga dan leher Laura.


"Aku mau kembar tiga," bisiknya di telinga Laura.


"Terserah kau saja," sahut Laura dengan tersenyum lalu membuka kancing baju suaminya satu persatu.


Magma langsung naik ke atas Laura setelah bajunya terbuka. Ia kembali menghujani istrinya ciuman dengan lembut dan mulai menanggalkan pakaian istrinya satu persatu.


Hingga keduanya telanj*ng di bawah selimut, Magma membekap mulut Laura kala ia menghentakan sesuatu di bawah sana.


*


"Atau kita ganti saja jadi kembar empat sayang?" seru Magma sambil memeluk istrinya dari belakang. Mereka berdua masih sama-sama telanj*ng di dalam selimut.


"Empat kali melahirkan, kau pikir aku kucing?"

__ADS_1


"Kalau kembar empat tidak perlu melahirkan normal. Iya kan?"


Laura berdecak. "Satu-satu saja ..."


"Tidak sayang, aku kasian denganmu. Harus hamil tiga sampai empat kali. Kan lebih bagus kalau langsung isi tiga atau empat,, kau hamil hanya satu kali."


"Magma aku mau tidur ..." Laura memejamkan mata.


Magma mendekap tubuh istrinya dengan erat. "Tadi kau bilang terserah!"


"Sayang ..."


"Sayang ..." panggil Magma kembali.


"Sayang ..." Magma mencoba melihat Laura kemudian ia mendengus kasar, Laura tidur.


Ia mencium pundak istrinya dan ikut tidur dengan memeluk Laura.


*


"Lita terus menelponku kau tau, menyebalkan sekali kembaranmu itu. Mengangguku saja!" pekik Magma yang duduk di sofa sementara Laura sedang sibuk memakai merias wajah.


"Dia terus bertanya apa kau serius akan merancang gaun pengantin? kau seperti tidak benar-benar berminat katanya," sahut Laura.


"Bodo amat soal gaun pengantin. Aku mau kembaranmu itu cepat menikah dengan si Zozo agar dia tidak berharap kepadamu lagi."


"Zozo siapa?" Laura menoleh menatap Magma.


"Pria itu!"


"Siapa?"


"Pria yang tinggal bersamamu saat di Spanyol," sahut Magma yang tidak mau menyebut nama 'Kenzo' dari mulutnya sendiri.


"Oh ... Kenzo maksudmu. Apa-apaan Zozo!" Laura menggelengkan kepala lalu kembali merias wajahnya.


"Nama dia haram aku ucapkan!" sahut Magma.


"Dulu, tubuhku juga haram kau sentuh. Tapi sekarang di sentuh juga," sahut Laura dengan tersenyum miring di depan kaca.


Magma beranjak dari duduknya menghampiri Laura, ia memegang pundak istrinya dari belakang lalu mengecup puncak kepala Laura.


"Sekarang kan sudah beda sayang ..."


Laura berdiri dan berbalik menatap Magma. "Oh iya?" satu alisnya terangkat naik. "Apa aku harus melayanimu setiap malam Tuan M?" Laura tersenyum miring.


"Tentu saja, Nona L. Bahkan ketika kau menolak aku akan melemparmu ke ranjang!" sahut Magma sambil menepuk-nepuk lembut pipi kanan Laura.


Magma berjalan pergi dari kamar meninggalkan Laura yang berdecih. "Ketampanan suamiku ada pada n*fsunya ..." Laura tersenyum miring lalu menyusul Magma, berjalan dengan pinggangnya yang melenggak-lenggok.


Bersambung


Seperti biasa aku sibuk urusin nikahan kakaku buat hari minggu jadi maaf up nya masih jarang2 ya🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2