M & L

M & L
#Kenzo dan Laura


__ADS_3

"Dia sudah selesai makan Kak," seru Farel menghampiri kakanya yang tengah berdiri di pintu dapur sambil menatap Laura dari kejauhan.


Kenzo mengangguk.


"Calon kakak iparku ya kak?" tanya Farel sambil menyengir.


"Sssttt ... so tau! Kakak kesana dulu." Kenzo pergi setelah menepuk pundak Farel beberapa kali.


Laura tengah menyantap sepotong cake sebagai makanan penutup kemudian ia mendongak ketika ada seseorang yang berdiri di depan nya.


"Laura ..." ucap Kenzo.


"Kau ..." Laura terlibat tengah berpikir karena merasa pernah bertemu dengan Kenzo.


"Aku Kenzo, kita bertemu di pesta makan malam perusahaan De Willson hari itu."


"Oh iya, pantas sekali muka mu tidak asing. Duduklah."


Kenzo mengangguk dengan tersenyum lalu menarik kursi di depan Laura.


"Apa kabar?" tanya Kenzo.


"Baik. Kau sendiri bagaimana? bisnis mu dengan De Willson lancar?"


"Aku juga baik. Bisnis eum ... lancar, Farel akan pindah ke Restaurant De Willson dua minggu lagi mungkin."


"J-jdi Farel itu adikmu?"


Kenzo mengangguk.


Laura mengangguk-ngangguk. "Lalu siapa yang memasak di sini nanti?" tanya Laura kemudian.


"Masih ada chef yang lain yang bekerja denganku."


"Oh begitu ..." sahut Laura lalu mengambil jus miliknya.


Kenzo berdehem sejenak, ia sedikit gelisah dan ragu ingin membahas soal masa kecilnya dengan Laura. Apa Laura masih ingat atau justru sudah lupa, nama Kenzo saja sepertinya tidak di ingat Laura.


"Laura ..."


"Hmm?" sahut Laura sambil meminum jus miliknya.


"Eum ... kau, kau benar tidak mengingat ku?" tanya Kenzo.


"Mengingat mu? memangnya kita pernah bertemu sebelumnya selain di lobby hari itu?" Laura balik bertanya.


Kenzo mengangguk. "Tapi sudah lama, saat kita masih kecil."

__ADS_1


"Masih kecil ..." Laura mencoba mengingat-ngingat.


Hari itu Laura kecil berteriak kepada sang Ayah ketika melihat perempuan paruh baya berjualan bersama seorang anak kecil laki-laki dan seorang bayi di gendongan anak kecil laki-laki itu.


Laura berusia tujuh tahun sama dengan usia Kenzo hari itu dan Farel masih bayi.


"Ada apa, Lala?" tanya Arsen keluar menghampiri putrinya yang berteriak di teras depan.


"Daddy mau beli itu." Lala menunjuk keluar gerbang.


Kenzo dan Ibunya berdiri dengan tersenyum di depan gerbang, mereka mendengar teriakan Laura yang membuat hati mereka senang karena ada seseorang yang mau membeli dagangan mereka.


"Yasudah ayo." Arsen mengenggam tangan putrinya membawanya ke depan gerbang.


Ketika satpam menggeser gerbang agar terbuka, mata Arsen langsung tertuju ke arah Kenzo yang tengah menggendong Farel. Rahma, sang Ibu harus memegang banyak kantung makanan membuatnya tidak bisa menggendong Farel.


"Jual apa?" tanya Arsen.


"Saya jual ikan Tuan dan beberapa aneka kue."


"Coba saya lihat," pinta Arsen.


Rahme berjongkok untuk membuka beberapa pelastik yang ia bawa.


"Ini ikan nya, Tuan. Dan ini kue nya."


"Itu apa?" tanya Laura kepada Kenzo.


"Adikku." Kenzo membuka sedikit samping kebat nya memperlihatkan kepala Farelnya saja. Farel tengah tertidur di gendongan Kenzo.


"Wuahh Bayi ..." Mata Laura melebar sempurna.


"Daddy ... Daddy ada bayi." teriak Laura.


"Dia masih kecil dan adiknya juga masih bayi, kenapa kau mengajaknya berjualan?" tanya Arsen kepada Rahma.


"Saya tidak mungkin meninggalkan mereka Tuan. Kami hanya tinggal bertiga, kalau saya berjualan sendirian saya takut terjadi apa-apa kepada mereka," sahut Rahma.


"Dimana suamimu?"


"Suami saya sudah meninggal, Tuan."


"Dimana Rumahmu?" tanya Arsen kemudian. Laura tengah mengusap-ngusap kepala Farel di gendongan Kenzo. Laura terlihat sangat senang.


"Di persimpangan jalan mawar, Tuan."


"Apa dia sekolah?" Arsen menunjuk Kenzo yang sedang tertawa bersama Laura.

__ADS_1


Rahma menggeleng lemah. Ia tidak bisa menyekolahkan Kenzo karena keadaan ekonomi yang sangat kekurangan.


Arsen mengangguk-ngangguk. "Aku akan membantumu. Sekolah kan mereka sampai mereka bisa kuliah, kebutuhanmu setiap bulan nya akan saya penuhi."


"Beneran Tuan?" mata Rahma berbinar senang.


Arsen mengangguk kemudian menoleh ke arah Kenzo. "Hei anak laki-laki, namamu siapa?"


"Kenzo," sahut Kenzo.


"Yang bayi?" tanya Arsen.


"Farel," sahut Kenzo kembali.


"Hahaha astaga ... jadi kau Kenzo dan Farel yang hari itu, ya ampun Ken, jelas aku tidak mengingatmu. Kau sangat berubah sekarang dan setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi. Huh, kau kemana selama ini ..."


Kenzo tersenyum. "Aku sibuk merintis usaha Laura."


"Tapi kan bisa kali-kali berkunjung ke rumahku," sahut Laura sambil mengerucutkan bibirnya.


Ken, jaga jarak dengan Nona Laura ya. Keluarganya sudah sangat membantu kita. Kau harus ingat, kita ini hanya orang miskin tidak enak kalau harus dekat dengan keluarga orang kaya. Apalagi mereka sudah banyak membantu kita.


Kenzo tersenyum getir mengingat ucapan sang Ibu saat dirinya masih kecil. Kalimat itu seakan sudah menjadi asupan setiap harinya untuk Kenzo, Rahma selalu melarang Kenzo bermain dengan Laura sedari kecil, membuat Kenzo tidak berani menemui Laura.


Kenzo mengingat hari dimana ia hanya bisa memperhatikan Laura diam-diam di depan gerbang. Hari itu Laura tengah asik bermain dengan Nathan, Summer, Winter, Nala dan Lalita di halaman mansion.


Kenzo ingin ikut bermain bersama mereka, anak-anak orang kaya tapi dia selalu ingat perkataan Rahma kalau dirinya sangat berbeda jauh dengan Laura dan yang lain. Alhasil dia hanya bisa memperhatikan diam-diam di depan gerbang.


Kebutuhan Kenzo, Farel dan sang Ibu selalu terpenuhi dari Arsen. Arsen menyuruh salah satu anak buahnya yang mengurus ekonomi Rahma dan kedua putranya sampai Kenzo kuliah. Arsen sendiri tidak pernah mendatangi kediaman Rahma dan Kenzo selain menyuruh anak buahnya mengurus mereka.


Sampai mereka tumbuh dewasa pun, Kenzo tidak berani mendekati Laura karena perbedaan kasta yang sangat jauh. Laura berubah menjadi seorang model terkenal sementara hari itu dirinya masih merintis restaurant.


"Hei, Kenzo!" Laura mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajah Kenzo yang tampak melamun.


Kenzo mengerjap. "Ya?"


"Kenapa melamun?" tanya Laura.


"Tidak Laura," sahutnya dengan tersenyum.


"Apa Daddy ku juga tidak mengenalimu?" tanya Laura.


Kenzo menggeleng. "Tuan Arsen pasti lupa juga. Aku belum memberitahu beliau, karena aku mau memberitahumu dulu ... syukurlah kau ingat, Laura ..."


"Oh iya, bagaimana kabar Ibumu?" tanya Laura.


Senyuman di wajah Kenzo memudar seketika. "Ibuku sudah meninggal karena kecelakaan."

__ADS_1


"A-apa?"


Ber****sambung


__ADS_2