
Di perjalanan Jeni mengendarai salah satu mobil milik Magma, matanya fokus ke jalanan dengan jantung berdebar tak karuan karena khawatir dengan keadaan Laura tapi tangan nya sibuk menelpon Laura.
Dia mengendarai mobil tanpa arah tujuan karena Jeni sendiri tidak tahu Laura berada di Rumah Sakit mana.
"Lala di Rumah Sakit Charlotte," kata Laura setelah mengangkat telpon Jeni.
"La, Lala baik-baik saja kan. La, Lala ih ... hallo hallo, Lala ... ih, malah di matiin sebel banget Jeni. Jeni lagi panik juga ish!"
Jeni menambah kecepatan mobilnya setelah menyimpan ponselnya, ia buru-buru pergi ke Rumah Sakit Charlotte.
Sesampanya di Rumah Sakit, Jeni langsung bertanya kepada perawat dengan menyebutkan nama asli Laura.
"Oh, Nona Laura ada di lantai tiga kamar nomor dua."
"Thanks!" Jeni kembali berlari menuju lift.
"Tunggu!" teriak Jeni dengan suara melengking khas banci nya ketika melihat pintu lift hendak tertutup.
Seseorang langsung menahan pintu lift nya dan membiarkan Jeni masuk terlebih dahulu.
Dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi pelipisnya akhirnya Jeni berhasil masuk ke lift. Beberapa orang saling memandang ke arah Jeni melihat penampilan Jeni yang seperti perempuan, memakai rok dan juga kemeja berwarna biru dongker, make up di wajahnya yang paling di sorot oleh orang-orang di dalam lift.
"Ya tau Jeni cantik, biasa aja dong liatnya," seru Jeni dengan sinis karena kebanyakan di dalam lift isinya perempuan bukan lelaki.
"Ih, apaansih!"
"Sadar bro sadar!"
__ADS_1
"Bro bro ... sis dong ah, jangan panggil Jeni Bro," kata Jeni ketika seorang perempuan memanggilnya bro.
Pintu lift terbuka. Lagi, Jeni kembali lari secepat kilat untuk ke kamar nomor dua. Orang-orang di dalam lift hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Jeni, bahkan ada wanita hamil mengelus-ngelus perutnya sambil menggelengkan kepala. Berdoa di dalam hati semoga anaknya lahir kelak tidak seperti Jeni.
BRAKH
Laura dan Magma terhentak kaget ketika Jeni membuka pintu kamar dengan kasar.
"Lala ..." jerit Jeni lalu menghampiri Laura. Jeni meraup wajah Laura dengan kedua tangan nya.
"Lala baik-baik saja kan, Lala baik-baik saja kan ..." Jeni terlihat sangat panik sampai bertanya dua kali.
"Tidak ada luka, tidak ada lebam. Yang sakit mana La? mana yang sakit?"
"Ish Jeni!" Lala menepis tangan Jeni. Magma menggelengkan kepala seraya menghela nafas melihat itu.
"Apa?" tanya Magma.
"Kau apakan Lala tua bangka? apapun alasan nya, Jeni yakin Lala berada di sini karena ulahmu! Mau Jeni adukan ke Tuan Arsen hah?"
"Jen, udah Jen." Laura menegur Jeni.
Sebenarnya Magma malas menanggapi kemarahan Jeni. Karena seberani apapun Jeni kalau sudah di todongkan pistol nyalinya langsung menciut seketika.
"Jeni ih!" Laura malah kesal karena Jeni seakan menantang Magma padahal Laura tahu Jeni sebenarnya ketakutan melawan Magma.
"Sssstttt ..." Jeni mengangkat jari telunjuknya ke arah Laura membuat Laura melebarkan matanya.
__ADS_1
"Diam La, Jeni selalu ada di pihak Lala. Jeni tadi dengar Lala menjerit, pasti karena di pukul oleh dia kan!" Jeni kembali menatap Magma dengan mata melototnya.
"Ih lidah Lala ke gigit tadi waktu makan tau, bukan karena Magma."
"Kau dengar sendiri kan?" seru Magma.
"Ck. Kau pikir Jeni percaya?"
"Suruh Nyonya mu itu menjulurkan lidahnya kalau tidak percaya!" sahut Magma dengan kesal.
Jeni menoleh ke arah Laura. "Beneran La?"
Laura mengangguk mengiyakan. "Lala di sini karena kelelahan dan dehidrasi saja, bukan karena kdrt."
"Tuh tuh ..." Kembali Jeni menatap Magma. "Dengar kan, Lala masuk Rumah Sakit karena kelelahan, salah siapa itu?" Tangan Jeni bersedekap dada dengan dagu terangkat tanda angkuh kepada Magma.
Magma mendengus kasar, ia beranjak dari duduknya dan sontak Jeni langsung mundur beberapa langkah. Melihat Magma bangun dari duduknya seperti melihat harimau bangun dari tidurnya.
"Jadi kau menyalahkan ku?" tanya Magma sambil berjalan selangkah demi selangkah dengan tangan di saku celana.
"T-tidak sih, tapi ya kalau kau mau intropeksi diri, seharusnya kau sadar ini salahmu. Iya kan La ..."
Jeni terus mundur sedikit demi sedikit kala melihat Magma berjalan menghampirinya.
"Oh iya, Jeni beli buah-buahan dulu ya. Bye ..." Jeni langsung berlari ke luar ruangan membuat langkah Magma terhenti dan membuat Laura tertawa. Setidaknya Jeni sudah melihat Laura baik-baik saja, tidak ada luka di bagian tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1