
Karena ada dua ranjang di kamar itu. Marvel tidur di ranjang sendirian sementara Marsel dan Melvin tidur berdua.
Lampu sudah di matikan, hanya menyisakan satu lampu tidur saja yang membuat suasana temaram.
Marvel turun dari ranjang ketika melihat Marsel dan Melvin tidur tanpa selimut. Ia menarik kembali selimut itu untuk menyelimuti kedua adiknya lalu kembali ke ranjangnya dan tidur.
*
Pagi harinya keadaan sudah kembali seperti biasa. Mereka bertiga kembali bermain, kali ini di taman yang ada di samping mansion.
Walaupun masih ada perban di kepala Marsel tapi anak itu sudah bisa bermain bola dengan Melvin yang mengejarnya dari belakang.
Sementara Marvel sedang berjaga di depan gawang. Dia berdiri menunggu bola datang ke arahnya. Tapi dari tadi dua adiknya masih berebut bola tanpa menggiringnya ke gawang.
"Setelah selesai, minum jus oke ..." seru Magma membawa tiga jus di atas nampan.
"Oke Dad." seru mereka bertiga.
Magma menyimpan jus tersebut di meja yang ada di taman.
Marvel melentangkan kedua tangannya kala melihat Marsel membawa bola ke arahnya.
Tapi dia tidak fokus untuk menangkap bola sebab dari kejauhan, tepatnya di depan gerbang mansion nya ada pohon besar dan seseorang yang sembunyi di sana dengan membidikkan pistol ke arah mereka.
"GOALLLL!" Teriak Marsel langsung memeluk Marvel. Marvel masih belum berkutik, bahkan ketika Marsel memeluknya tangan anak itu masih terlentang di udara.
__ADS_1
"Ih kok masuk sih!" kesal Melvin.
Magma tersenyum melihat putranya asik bermain. Pria itu duduk di salah satu kursi.
"Auwww ..."
Magma melebarkan mata kala melihat Marvel mendorong Marsel yang tengah memeluknya.
"Marsel ..." Magma menghampiri Marsel dan sangat khawatir sebab kepala Marsel masih di perban.
"Daddy ada yang liatin kita ..." seru Marvel dengan mata terus memandang ke depan.
"Marvel kenapa mendorong Marsel?!" seru Magma yang tidak mendengar ucapan Marvel barusan.
Magma mengikuti arah pandang Marvel dengan mengedarkan pandangannya. Magma tidak melihat siapapun.
"Daddy sakit huuuu ..." Marsel menangis sebab Marvel mendorongnya cukup keras sampai membuatnya terjungkal ke belakang dan membuat kepala Marsel kembali sakit.
"Ayo masuk!" seru Magma kepada Melvin dan Marvel. Magma kembali menggendong Marsel.
Marvel bukan berniat mendorong Marsel tapi ia merasa pistol itu membidik ke arahnya yang dimana tadi Marsel tengah memeluk dirinya. Marvel takut jika benar itu pistol, peluru nya akan mengenai Marsel.
Marvel dan Melvin berdiri di depan Magma dengan pria itu yang duduk di sofa sementara Laura tengah menenangkan Marsel.
"Kenapa kau mendorong Marsel, Marvel?"
__ADS_1
"Aku tidak mendorongnya. Aku melindunginya, Daddy ..."
"Tau apa soal melindungi hm? Kau masih kecil dan melindungi Marsel dari apa?" tanya Magma.
"Dari orang jahat. Tadi ada yang intip kita."
"Kau melihat ada orang lain Melvin?"
Melvin menggelengkan kepala. Magma kembali menatap Marvel. "Bahkan dad juga tidak melihat siapapun. Banyak penjaga di depan."
"Aku tidak bohong," seru Marvel.
"Apa mungkin ucapan Marvel benar. Tapi kau tidak melihatnya, Magma ..." seru Laura yang kini tengah memeluk Marsel.
"Aku sudah melihat cctv dan tidak ada siapapun sayang," sahut Magma.
"Marvel, Dad tidak suka kau berbohong!"
Marvel terdiam. Tidak menjawab apapun lagi jika Ayahnya tidak percaya.
"Jangan bermain dengan menyakiti orang lain. Mengerti?"
Marvel mengangguk samar. "Iya Dad."
Bersambung
__ADS_1