M & L

M & L
#Menonton bersama


__ADS_3

Magma sudah duduk di depan tv, sesuai kesepakatan yang di buat Laura, mereka akan menonton film bersama sebelum tidur.


Dengan wajah sumringah, Laura membawa nampan yang berisi beberapa cemilan dan juga dua es jeruk untuk menemani mereka menonton.


Keduanya menonton bersama di kamar. Laura membuka pintu kamar lalu berjalan mendekati Magma dan menyimpan nampan nya di atas meja.


"Lampu nya matikan ya," ucap Laura yang di jawab deheman dari Magma.


Laura pun mematikan lampu kamarnya lalu mengambil selimut tebal di ranjang dan membawanya ke sofa.


"Untuk apa?" tanya Magma.


"Kita," sahut Laura lalu duduk di samping Magma.


"Nih, pakai selimutnya." Laura menyelimuti tubuh Magma juga. Magma berdecak sebal tapi tidak bisa apa-apa selain menuruti kesepakatan yang di buat di surat perjanjian itu. Laura mengambil satu toples popcorn.


"Lain kali, kalau aku menyuruhmu melakukan sesuatu itu di ingat, bukan di tinggal tidur!" seru Magma dengan mata memandang televisi di depan nya yang menyiarkan film horror.


"Aku tadi kelelahan," sahut Laura.


Magma berdecih. "Belum sampai satu minggu sudah kelelahan, bagaimana nanti setahun, dua tahun."


Laura menoleh dengan tersenyum. "Kau mau setahun, dua tahun denganku? atau mungkin selamanya?" goda Laura.


Kalaupun terjadi, kau akan selalu jadi babu ku.


Laura cekikian sendiri karena Magma tidak menjawab. Ia berpikir Magma memang mau setahun atau bahkan selamanya hidup bersama dengan dirinya padahal Magma tengah menggerutu sendirian di dalam hatinya.


"Sampai kapan menonton film ini?" tanya Magma kemudian.


"Huh, baru juga mulai. Mau es jeruk tidak?" Laura mengambil es jeruk di meja.

__ADS_1


"Tidak!" sahut Magma.


"Yasudah ..." akhirnya Laura menyeruput es jeruknya itu.


"Membosankan!" pekik Magma.


"Tidak bosan, kalau kau ikhlas sepenuh hati menemani istrimu ..."


Sepanjang menonton film, hanya Laura yang menunjukan berbagai ekspresi. Takut, tertawa, kaget, menangis.


Sementara Magma hanya duduk dengan wajah datar seperti patung yang menemani Laura. Bahkan cemilan di meja tidak di sentuh sama sekali.


"Aaaaahhh ... akhirnya, selesai juga," ucap Laura setelah film nya tamat sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal.


Laura menoleh ke samping, Magma masih duduk dengan tangan bersedekap dada dan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


"Seru kan?" ucap Laura. "Aku sering nonton film ini bersama Lalita."


"Kalau sudah nonton, kenapa nonton lagi, cih!"


"Sudahlah ..." Magma menyibakkan selimutnya. "Sekarang pijat aku!" pinta Magma yang kemudian beranjak dari duduknya dan beralih pindah ke atas ranjang.


Laura mendengus lalu ikut menyibakkan selimut dan pindah ke ranjang. Magma sudah telungkup tanpa memakai baju.


Laura naik ke ranjang dan duduk di samping pria itu. "Mana yang mau di pijat?" tanya Laura.


"Seperti biasa," sahut Magma.


Akhirnya perempuan itu memijat kedua pundak Magma terlebih dahulu, lalu memijat lengan dan terakhir Laura memijat kaki Magma. Pijatan itu berlangsung selama satu jam lebih sampai akhirnya Laura menghembuskan nafas lega ketika mengintip Magma sudah tidur.


*

__ADS_1


Pagi harinya, seperti biasa Laura bangun lebih awal untuk membersihkan lantai dua mansion, setelah selesai ia pergi ke dapur untuk memasak.


"Untung saja keranjang baju kotor kosong, tidak menumpuk seperti kemarin," gumam Laura sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas.


Jeni keluar dari kamar hendak membantu Laura tapi perempuan itu malah melarangnya.


"Jen, ingat ya ..." Laura menunjuk wajah Jeni dengan pisau di tangan nya. "Jangan ikut campur lagi rumah tangga Lala dan Magma!"


"Hmm." Jeni hanya berdehem sebagai jawaban sebab kemarin malam sebelum nonton ia sudah di tegur habis-habisan oleh Laura.


"Jeni mau ke depan aja ah, cuci mata!" Jeni pun memilih menjauhi pantry karena di larang membantu Laura, ia memilih menghampiri Fello dan Vincent saja di post satpam.


*


Selesai masak, Laura menaruh satu persatu masakan nya di meja dengan menggulum senyum di wajahnya.


"Pagi!" teriak seseorang yang baru saja masuk ke dalam mansion.


Ketika Laura mendongak ia tercengang melihat Byanca.


Byanca menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah Laura seakan sedang menyapa Laura.


Laura dan Byanca bermusuhan, mereka selalu bersaing dalam dunia permodelan. Lebih tepatnya Byanca yang terlalu iri kepada Laura.


"Sudah lama tidak berjumpa, Nona L ..." Byanca tersenyum miring.


"Kenapa kau kemari?" tanya Laura.


"Kenapa?" ulang Byanca dengan menahan tawa nya. "Apa aku tidak salah dengar? atau Magma tidak memberitahumu ..."


"Memberitahu apa?" tanya Laura.

__ADS_1


Byanca berjalan selangkah demi selangkah mendekati Laura. "Memberitahu kalau aku yang menjadi brand ambassador dari produk Mahavir group," ucap Byanca dengan tersenyum bangga.


Bersambung


__ADS_2