
Dua hari kemudian acara pernikahan Magma dan Laura di gelar. Acara tersebut di siarkan di berbagai televisi bahkan sampai ke media luar pun ikut menyiarkan janji pernikahan M & L.
Dengan balutan gaun yang panjangnya sampai menjuntai ke lantai dan make up natural di wajahnya, Laura tersenyum menatap dirinya di depan cermin. Ini pernikahan nya, sungguh Laura seakan merasa ini hanyalah mimpi. Gaun yang di kenakan nya di pilih oleh sang kembaran, Lalita.
Lalita menghampiri Laura dengan tersenyum. "Gaun nya sangat pas di tubuhmu, La."
Laura menoleh, tersenyum serta menganggukan kepalanya.
"Dimana Mom?" tanya nya kemudian.
"Masih dandan," sahut Lalita.
Sementara itu Arsen tengah berdiri di balkon gedung dengan wajah lesu dan tak bersemangat. Ini pernikahan putri pertamanya, tapi ia begitu ragu untuk mengantarkan putrinya ke atas altar dan menyerahkan nya kepada Magma.
Hati Arsen begitu tidak tenang, ia menatap kosong pemandangan di depan nya dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.
Maxime yang melihat itu pun menghampiri Arsen dan berdiri di sampingnya.
"Seorang Ayah untuk anak perempuan sangat berbeda dengan seorang Ayah untuk anak laki-laki ternyata. Kau patah hati, Ar?"
Arsen menghela nafas kemudian menoleh ke arah Maxime. "Kau tidak akan mengerti, karena tidak punya anak perempuan. Satu-satunya perempuan yang harus kau jaga hanyalah Milan, tapi aku menjaga tiga perempuan sekaligus. Istri dan anak-anakku ... aku sangat ragu dengan Magma ..."
"Kita sudah berusaha melarangnya. Tapi keras kepala putrimu itu melebihi Miwa. Doakan saja yang terbaik, dia sudah dewasa Ar dan dia bukan perempuan lemah dan bodoh. Lala pasti bisa mengurus rumah tangga nya sendiri nanti."
Arsen hanya bisa mengangguk samar dengan hati yang masih belum tenang.
*
Tin
Tinnnn
"Cepat!" kesal Kenzo kepada Aris yang mengemudi mobil.
"Bos, kita hampir beberapa kali menabrak!" sahut Aris sambil terus menajamkan penglihatan nya ke depan takut tiba-tiba mobilnya menabrak pengendara lain.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu lagi, Aris!" sahut Kenzo.
Kenzo tidak di beritahu soal pernikahan Laura dan Magma. Padahal kemarin Kenzo bertemu dengan Arsen di perusahaan De Willson.
Bahkan Kenzo juga memberitahu siapa Kenzo sebenarnya. Dia yang pernah di bantu oleh Arsen, tapi respon Arsen hanya tersenyum takjub kepada Kenzo karena Kenzo sudah sukses menjadi seorang pengusaha kuliner.
"Kenapa Tuan Arsen tidak memberitahuku kemarin ya," gumam Kenzo.
"Karena kau tidak terlalu penting bos," sahut Aris membuat Kenzo berdecak.
"Laura ... dia juga tidak memberitahu ku." Kenzo terus berdialog sendirian dengan memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan tatapan kecewa.
Kenzo menghela nafas panjang, dada nya terasa sesak mengingat dirinya berjuang sebagai pengusaha kuliner dan membuka restaurant itu agar bisa mendekati Laura.
Dari dulu Kenzo selalu tidak percaya diri jika hendak mendekati Laura, sebab Laura lebih kaya dari pada dirinya. Yang di lakukan Kenzo hanya terus berusaha memajukan restaurant miliknya, berharap ia bisa menjadi pengusaha kuliner kaya raya, minimal kekayaan nya berada di urutan ketiga dari kekayaan De Willson. Tapi ternyata tidak mudah untuk Kenzo.
Dia belum sampai ke urutan ketiga tapi sudah harus kehilangan Laura. Rasa sakitnya bertambah ketika Laura dan Arsen tidak memberitahu dirinya.
Bahkan dengan nekat Kenzo berusaha datang ke gedung acara tanpa undangan. Acara di televisi belum memperlihatkan pengantin pria karena acara belum di mulai membuat Kenzo memilih datang ke gedung dari pada menunggu dengan penasaran di depan tv.
*
Magma sudah berdiri di atas altar dengan seorang pendeta.
"Mom, aku tidak yakin Kak Magma mau menikah," seru Yura kepada Bayuni. Sebab Yura tidak tahu apa-apa soal surat perjanjian antara De willson dan Mahavir group.
Bahkan Winter sendiri di larang memberitahu Yura oleh Benjamin.
"Bersyukur saja Yura, akhirnya dia menikah. Jangan berkata seperti itu, doakan yang baik-baik," sahut Bayuni.
"Iya sih Mom, tapi lihat muka Kak Magma ..." Yura menatap wajah Magma yang tidak terlihat bahagia sama sekali di pernikahan nya.
"Heh, dulu juga Winter wajahnya datar ketika menikah."
"Ah, Mom ini. Malah membandingkan nya dengan Winter," sahut Yura.
__ADS_1
Laura berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya, ia menggandeng lengan Arsen.
Melihat wajah Laura, Magma menghela nafas kasar, ia benci dan kesal melihat wajah perempuan itu membuat Magma memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.
Ketika sudah mengantar putrinya ke atas Altar, Arsen kembali turun dan duduk di samping Miwa.
Laura mengedarkan pandangan nya, ia menatap satu-persatu orang yang ia sayang. Entah kenapa Laura merasa di gedung sebesar ini hanya dirinya lah sendiri yang terlihat bahagia.
Arsen menatapnya dengan wajah datar, Sang Ibu Miwa memalingkan wajahnya enggan menatap Laura, Lalita tengah bermain ponsel dan yang paling sakit tatapan Magma yang menusuk dan penuh intimidasi kepada Laura.
Laura menghela nafas lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Magma. "Senyum lah, jangan menghancurkan pesta kita."
Hening, Magma seakan tidak perduli dengan ucapan Laura barusan. Para wartawan sudah membidikkan camera nya ke arah mereka berdua sebagai peran utama di acara nya hari ini.
"Kita mulai," ucap pendeta tersebut.
Magma dengan ragu meraih tangan Laura dan menggenggam nya lalu mau tak mau ia mengucapkan janji pernikahan nya di depan banyak orang.
"Saya, Magma Mahavir, menerima engkau Laura Zahaira Bachtiar, sebagai istri satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
"Saya, Laura Zahaira Bachtiar, menerima engkau Magma Mahavir sebagai suami satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
Setelah selesai mereka bertukar cincin lalu pendeta menyuruh Magma mencium kening Laura.
Tepat ketika Magma mencium kening Laura, Kenzo datang dengan nafas terengah-engah karena harus berusaha menerobos masuk dari kerumunan wartawan di luar yang menghalangi jalan.
Kenzo melebarkan matanya ketika melihat Magma mencium kening Laura. Ingatan nya langsung memutar kejadian dimana dirinya bertemu dengan Laura di lobby dan tidak sengaja menatap kepergian Magma yang tak jauh dari tempat Laura berdiri.
"Jadi pria itu suami Laura ..." gumam Kenzo dalam hatinya.
Setelah mengecup kening Laura Magma menatap intens bola mata Laura di hadapannya dengan tajam tapi Laura malah tersenyum.
"Kau mengambil alih perusahaan ku maka aku akan mengambil alih hidupmu Laura!" Magma berkata dalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1