M & L

M & L
#Melihat Laura


__ADS_3

Magma pergi ke hotel tempat Jeni menginap, ia penasaran dengan pria tulang lunak itu. Menyuruh anak buahnya ia merasa tidak becus jadi Magma ingin bertemu Jeni langsung.


Magma memarkirkan mobilnya lalu masuk menemui resepsionist. Resepsionist yang duduk itu spontan berdiri lalu membungkukan badan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan ..."


"Jeni di kamar nomor berapa?" tanya Magma duduk di hadapan Resepsionist perempuan tersebut.


"Sebentar Tuan." Perempuan itu duduk sambil mencari nama Jeni di komputernya.


"Maaf, Tuan. Bisa saya tau nama lengkapnya?"


Magma menaikan alisnya. Nama lengkap Jeni, mana dia tahu. Magma mengangkat kedua bahunya.


"Maaf, Tuan. Ada sekitar tiga puluh orang yang bernama Jeni di sini."


Magma menghela nafas kasar. "Cari Jeni yang check in dua sampai tiga hari yang lalu."


"Semuanya check in di hari yang sama, Tuan. Tiga hari yang lalu."


"Apa?!"


Magma berdecak kemudian menelpon Lail. Tidak tunggu lama Lail langsung mengangkatnya.


"Iya, Tuan?"


"Apa kau tau nama asli Jeni?" tanya Magma.


"Setau saya, Jenifer Favour Tuan."


Magma langsung menatap resepsionist tersebut. "Jenifer Favour," kata Magma.


"Semua namanya sama Tuan. Jenifer Favour."


Magma mencengkram kuat ponselnya. "Kau meminta kartu nama dia kan? ada fotonya kan?" seru Magma dengan geram.


"A-ada Tuan ..." seru perempuan tersebut terbata kala melihat amarah di bola mata pria itu.


"T-tapi, semua fotonya juga sama." lanjut perempuan itu membuat mata Magma membulat sempurna.


"WISKI" Teriak Magma dengan keras membuat Wiski, anak buah teman nya yang berada di depan hotel berlari tergopoh-gopoh menghampiri Magma. Magma sudah tidak percaya dengan semua anak buahnya, jadi ia meminjam anak buah teman nya.


"Iya Tuan?"


"Bawa seluruh temanmu untuk memeriksa semua kamar di hotel ini. Temukan Jeni dan seret ke hadapanku sekarang aku sudah mengirimkan fotonya!!"


"Baik Tuan." Wiski mengangguk lalu berlari kembali ke luar untuk memanggil teman-temannya.


Magma menghela nafas panjang. Berani sekali Jeni mempermainkan dirinya seperti ini.

__ADS_1


Magma kemudian beranjak dari duduknya, ia kembali masuk ke mobil untuk perjalanan pulang, ia akan menunggu kabar dari Wiski dan berharap dia bisa menyeret Jeni ke hadapannya.


Magma mengenderai mobilnya seorang diri. Miwa sang mertua terus mengirimi pesan menanyakan apakah Magma sudah menemukan Laura atau belum. Hal itu membuat Magma frustasi.


Ketika lampu merah, Magma terdiam dengan tatapan kosong menunggu lampu kembali hijau. Tapi ketika ia tak sengaja menoleh ke samping, Magma menyipitkan matanya.


"Laura ..." gumam nya.


Entah pandangan nya benar atau salah, Magma melihat Laura di mobil yang berada di sampingnya.


Magma mengerjapkan matanya mencoba kembali melihat, tiba-tiba mobil di sampingnya melaju karena lampu sudah berubah menjadi hijau. Klakson di mobil belakang berbunyi keras.


"Laura," gumam Magma.


Magma menekan pedal gas dengan kuat menyusul mobil di depan nya. Anehnya, mobil itu seakan tahu kalau Magma sedang mengejarnya, mobil tersebut melaju sangat cepat membuat Magma yakin kalau di mobil itu ada Laura.


Dua mobil itu seperti balapan, saling menyalip mobil yang lain. Magma berusaha mengejar mobil di depan nya yang entah siapa supirnya tapi dia cukup lihai membawa mobil.


Magma menekan klakson beberapa kali, ia hendak menyalip dari kanan tapi Mobil di depan segera membanting stir ke kanan menghalangi mobil Magma. Kalau Magma tidak menginjak rem, dia sudah menabrak mobil itu.


"S*l!"


Ciiittt


Suara decitan kembali terdengar, lagi-lagi Magma gagal menyalip mobil tersebut. Di pertigaan Magma memukul stir dengan keras kala ada truk melaju dari arah kiri.


Magma kembali mengejar mobil itu, jaraknya sudah cukup jauh, Magma berusaha menambah kecepatan.


"Aku tau kau masih hidup Laura!" pekik Magma. "Kau tidak bisa lari dariku!"


Magma menyalip mobil itu dan pria itu langsung membanting stir dengan keras membuat mobilnya berputar untuk menghalangi mobil yang ia yakini di dalamnya ada Laura.


Mobil hitam itu berhenti karena mobil Magma memalang di depan nya. Magma keluar dari mobil, ia menggedor jendela mobil dengan tidak sabaran.


"Laura! Laura keluar!"


Perlahan jendela mobil turun, Magma membulatkan mata karena ternyata bukan Laura di dalam mobil tersebut.


"Maaf, Tuan cari siapa ya?" ujar perempuan di mobil itu.


"Tuan, kau mengenal kekasih saya?" seru si pria yang duduk di balik kemudi.


"Siapa di belakang?" tanya Magma.


"Kosong Tuan," sahut perempuan tersebut. Magma yang tidak percaya mencoba memeriksa, ia membuka pintu mobil tersebut dan memang benar, di belakang kosong.


Masih tak percaya, Magma membuka bagasi mobil tersebut. Dan lagi, kosong.


Sepasang kekasih itu saling mengernyit bingung dengan sikap Magma. Magma mengacak-ngacak rambutnya frustasi, ia sangat yakin tadi mobil ini membawa Laura. Tapi kenapa sekarang tidak ada.

__ADS_1


"Tuan, apa kami boleh pergi?" teriak si pria.


"Pergilah!" sahut Magma.


"Mobil anda menghalangi jalan kami, Tuan." seru si pria itu kembali.


Magma dengan kesal masuk ke dalam mobil dan menepikan mobilnya ke sisi jalan. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Apa aku berhalusinasi," gumam Magma dengan dada naik turun berusaha menetralisir jantungnya yang berdegup kencang akibat kekesalan yang semakin memuncak.


*


Laura keluar dari mobil dengan memakai masker, kacamata dengan rambut yang di masukan ke dalam kupluk berwarna hitam.


Kenzo merangkul perempuan itu agar tidak di lihat oleh siapapun. Laura berjalan menunduk, Kenzo lah yang mengarahkan langkah Laura.


Di belakangnya ada Farel dan Aris yang mengikuti. Mereka sekarang berada di bandara, Laura hendak pergi ke New Zealand bersama Kenzo, Aris dan Farel.


"Cepat kak," seru Farel.


Mereka berempat mempercepat langkahnya sampai tibalah mereka di dalam pesawat. Laura langsung membuka maskernya dan menghela nafas lega.


"Astaga aku kaget sekali ..." gumam Laura karena tadi Magma mengejar mobilnya. Dan Kenzo lah yang pintar mengendalikan mobil sampai Magma tidak bisa menyalip.


Beruntung, sebelum pergi mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang. Apa saja yang harus di siapkan jika bertemu Magma di jalanan.


"Kau hebat, Kak." Farel mengacungkan jempolnya.


Laura menoleh ke samping, tersenyum dan ikut mengacungkan jempolnya. "Hebat!" seru Laura membuat senyuman di wajah Kenzo mengembang seketika.


"Kau mengendarai mobil dengan baik, Ken."


"Jantungku hampir copot," sahut Aris.


Laura menoleh ke arah Aris yang duduk bersama Farel. "Tidak sekalian copot beneran saja?"


Aris berdecak sementara Farel tertawa.


"Bagaimana dengan Jeni?" tanya Kenzo.


"Jangan di pikirkan, dia cukup pintar untuk kabur," sahut Laura.


"Kak, sesakit apa dengan suamimu sampai kabur seperti ini," seru Farel.


"Jangan ikut campur masalah rumah tangga orang lain, Farel!" hardik Kenzo sang kakak.


"Huh, kita membantu Kak Laura sekarang saja sudah termasuk ikut campur," sahut Farel membuat Laura tertawa.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2