
Magma, Laura, Farel dan Aris pulang ke Indonesia. Sementara Lalita dan Kenzo masih berada di Spanyol. Lalita masih berada di Spanyol sebab ia di perintahkan oleh Laura untuk membantu perusahaan suaminya yang tengah merancang gaun pengantin.
Mahavir group akan merancang gaun pengantin, itu alasan Laura dan Magma saja.
Sementara Kenzo tidak bisa pulang karena pasport nya kini hilang entah kemana. Dan lagi, Laura juga menyuruh Kenzo untuk membantu Lalita. Jadi mau tak mau dia masih berada di Spanyol.
"Kalau kau tidak mau membantu perusahaan Magma, seharusnya kau tolak saja," seru Lalita sambil menggambar gaun pengantin di kertas.
"Aku mau, lagi pula di Indonesia aku tidak ada kerjaan yang penting."
"Ya, kau kan bos nya," seru Lalita seraya terkekeh.
"Bos? ah, aku hanya punya satu restaurant saja," sahut Kenzo.
Mereka berdua tengah berada di kantor Magma. Lalita tahu soal Kenzo yang menyukai Laura sebab mulut Jeni memang tidak bisa di jaga. Semua hal dia ceritakan kepada Lalita tentang sikap Kenzo yang sangat baik kepada Laura.
Lalita menatap Kenzo sejenak dengan ujung matanya kemudian kembali menggambar pola gaun pengantin.
"Ini menurutmu bagus tidak ..." Lalita memperlihatkan hasil yang ia gambar.
"Atau lebih baik pake brokat saja?"
"Pakai brokat akan lebih bagus?" Kenzo balik bertanya karena jujur saja dia tidak mengerti apa-apa soal fashion apalagi sampai merancang gaun pengantin.
"Bagus sih, terlihat mewah. Kalau tidak pakai terlihat simpel."
"Begini, kalau kau punya istri gaun pengantin yang mau kau lihat dari istrimu yang seperti apa?"
"Istri ..." gumam Kenzo. Ia terdiam sebab tidak tahu siapa yang bisa ia bayangkan menjadi istrinya.
"Aku tidak tau, aku tidak bisa membayangkannya," sahut Kenzo kemudian.
"Eum, coba kau lihat aku ..."
Kenzo pun menoleh menatap Lalita, membuat keduanya kini saling bertatapan.
"Kalau aku yang jadi pengantin nya, gaun seperti apa yang cocok?"
Keduanya saling menatap lekat dengan jarak yang sangat dekat, sebab Kenzo duduk di samping Lalita. Kenzo menatap bola mata Lalita, berbeda dengan Laura yang memiliki mata kucing yang tajam, justru Lalita mempunyai mata yang teduh dan sedikit sayu.
Kenzo membayangkan Lalita memakai gaun pengantin. Yang pertama gaun pengantin yang full brokat dengan bawahan yang mengembang seperti gaun disney. Lalita memakai mahkota dengan rambut terurai panjang, di bayangan Kenzo Lalita tersenyum sambil memegang buket mawar merah.
Dan yang kedua Kenzo membayangkan Lalita memakai gaun pengantin yang simpel dengan kerah off shoulder atau sabrina, menunjukan bahunya yang terbuka tapi tidak terlalu s*xy.
__ADS_1
Rambutnya bergelombang dan diikat setengah, Lalita memegang buket bunga mawar putih. Lalita tidak memakai mahkota tapi jepitan berbentuk bunga dan daun di samping kanan kepalanya.
Kenzo tersenyum. "Aku suka yang kedua ..."
"Hah?" Lalita mengerutkan dahinya. "Yang mana?"
"Gaun pengantin dengan bahu model sabrina, tidak ada brokat apapun, tidak ada mahkota, hanya ada jepitan kecil di sisi samping kepalamu dan kau memegang buket bunga mawar putih. Itu lebih simpel tapi terlihat cantik ..."
"A-apa ..."
Itu kan gaunku di butik.
Beberapa tahun yang lalu Lalita membuat sebuah gaun pengantin di Indonesia, tepatnya di butik miliknya sendiri. Ketika calon pengantin datang untuk fitting baju dan memilih gaun yang terlihat mewah di hari pernikahannya, Lalita justru membuat gaun pengantin model sabrina yang simpel untuk dirinya sendiri.
Dia juga sudah menyiapkan jepitan rambut berbentuk bunga dan daun untuk kelak di pakai di hari pernikahan nya. Kenapa gaun yang di bayangkan Kenzo sama persis dengan gaun miliknya padahal yang di gambar di kertas modelnya tidak seperti itu.
"Bagaimana?" tanya Kenzo. "Itu menurutku, kalau kau tidak setuju tidak apa-apa."
"Eum, ini kan gaun pengantin untuk mahavir group. Magma memintaku membuat gaun yang modelnya tidak sama dengan yang kau bayangkan. Bukan off shoulder. Tapi seperti ini atau ini ..." Lalita menunjuk dua gambar di kertas itu yang memang tidak ada yang off shoulder. Malah yang satunya lebih terlihat s*xy.
"O-oh. Kalau begitu ini saja."
"Astaga, kau benar-benar suka yang simpel." Lalita tersenyum. Kenzo tidak memilih gaun yang s*xy dan mewah, malah yang tertutup tanpa ada embel-embel pernak-pernik yang menghiasi gaun tersebut.
Keduanya makan siang di restaurant yang jaraknya setengah jam dari perusahaan Magma. Sambil menunggu makanan datang mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang kenapa Lalita memilih menjadi desainer dan kenapa Kenzo menyukai dunia kuliner.
Mereka menjelaskan bakat mereka masing-masing dalam bidang yang mereka kerjakan. Desainer dan pengusaha kuliner.
"Oh, jadi karena Ibumu meninggal kau jadi ingin membuat restaurant agar resep Ibumu bisa di nikmati orang-orang."
Kenzo mengangguk. "Itu caraku dan Farel agar tidak melupakan Ibu kami."
Lalita tersenyum. "Niatmu sangat bagus, aku yakin suatu saat nanti kau jadi pengusaha kuliner yang sukses, Ken."
"Ken?" Kenzo menaikan alisnya. Ia jadi ingat Laura yang pertama kali memanggilnya Ken.
"Kenapa?" tanya Lalita.
"Tidak." Kenzo menggeleng.
Dia ini suka dengan Lala, Lala menikah dan dia masih menuruti ucapan Lala untuk membantuku di sini. Bukankah seharusnya dia sakit hati lalu menjauh dari Lala dan semua keluarganya, termasuk aku.
"Lalita, ini makanannya ..." seru Kenzo membuyarkan lamunan Lalita yang bahkan tak sadar jika pelayan sudah menaruh makanan di meja.
__ADS_1
"Ah, iya." Lalita tersenyum kikuk.
Mereka pun makan bersama dengan masih berbincang tentang banyak hal.
"Kau tidak sedih karena tidak bisa pulang? sementara adik dan Sekretarismu sudah pulang."
"Farel harus bekerja di restaurant De Willson. Restaurant ku biarkan Aris yang mengatur, aku di sini membantumu karena permintaan Lala."
"Kalau Lala tidak memintamu membantuku, kau tidak mungkin ada di sini sekarang. Iya kan?" seru Lalita dengan terkekeh kecil.
Kenzo hanya menjawab dengan senyuman.
"Ken."
"Ya?"
"Kau ... menyukai Lala?"
Kenzo berhenti mengunyah. Ia mengambil segelas air dan meneguknya.
"Tidak," sahut Kenzo kembali makan.
"Terus kenapa kau banyak membantu Lala?"
Kenzo mendongak. "Lala ..." Ia menghela nafas, menyimpan sendok dan garpuh di tangan nya.
"Dari kecil aku ingin berteman dengan Lala. Tapi karena dia anak orang kaya, Ibuku melarangku berteman dengannya. Jadi aku baru bisa berteman setelah dewasa dengan dia, tidak salah kan aku banyak membantunya."
"Oh begitu ..." Lalita mengangguk-ngangguk. "Beruntung kalau begitu Lala punya teman sepertimu."
Lebih tepatnya beruntung di cintai pria sepertimu.
Kenzo tersenyum. "Bagaimana denganmu Lalita? kau punya teman baik?"
"Teman?" Lalita menaikan alisnya. "Ada sih, tapi aku tidak punya yang selalu membantuku, yang selalu ada denganku. Aku terlalu sibuk di butik dan jarang kumpul bersama teman-temanku, jadi tidak terlalu dekat."
"Memangnya kau mengurus butik dari kapan?"
"Dari jaman sekolah. Pulang sekolah aku langsung ke butik, membuat pola pakaian yang banyak dan belajar menjahit. Pokoknya aku jarang main dari dulu, kalau teman Lala banyak sekali. Dia memang mudah berteman dengan siapa saja. Tapi yang setia sampai mati kayanya hanya Jeni."
Kemudian keduanya tertawa. Menyebut nama Jeni saja entah kenapa mereka merasa lucu saja.
Bersambung
__ADS_1