
"Aku yakin Laura masih hidup Lail." Kata Magma berdiri di dekat jendela kamar sambil menatap halaman yang kosong karena para penjaga masih berkeliaran mencari Laura.
"Maaf, Tuan. Tapi bagaimana anda bisa seyakin itu?" tanya Lail.
"Laura bukan perempuan sembarangan. Dia berani menanggung resiko, dari awal menjebakku agar menikah dengan nya, bukankah itu termasuk perbuatan yang licik. Perempuan biasa tidak akan memikirkan hal itu, dan lagi ... dia kerabat De Willson dan masih keturunan Javier De Willson. Hal itu membuat dia semakin berani melakukan apapun."
Lail mengangguk. "Anda benar, Tuan."
Laura pasti tidak mati. Dia hanya ingin menjauh dariku saja. Aku yakin itu.
*
"Kau sedang apa?" tanya Aris berdiri di ambang pintu kamar Laura yang tadinya kamar Farel. Tapi Farel kini tidur satu kamar dengan Kenzo.
"Punya mata kan? kenapa bertanya?" seru Laura yang tengah mewarnai rambutnya sendiri dengan warna Rose gold.
"Basa-basi," sahut Aris. "Lagi pula kenapa tidak ke salon."
"Ck, aku kan tidak bisa keluar dari sini!" sahut Laura.
"Aku sudah lama tidak mewarnai rambutku. Sial*n ketika aku jadi Lala, rambutku warna hitam dan lurus. Jelek sekali!"
"Kalau tau warna hitam jelek kenapa tidak dari dulu saja kau mewarnai rambutmu? kenapa baru sekarang, cih." seru Aris.
"Kau tau ..." Laura berbalik menatap Aris. "Penampilan seseorang memunculkan karakter yang berbeda. Kalau rambutku hitam dan lurus, karakter ku lebih manis, baik hati dan tidak suka melawan. Tapi Laura tidak seperti itu, warna rambutnya harus cerah dan rambutnya curly, karakternya pemberani, pantang menyerah dan tidak bisa di lawan," seru Laura dengan begitu percaya diri.
"Cih, lebay!" seru Aris lalu melengos meninggalkan Laura.
"KAU BILANG AKU APA, LEBAY? KAU YANG LEBAY!" teriak Laura.
Laura mendengus kasar. "Dia tidak tau saja aku seperti memiliki dua kepribadian," gumam Laura lalu kembali menyemir rambutnya sendiri.
__ADS_1
Ponsel Laura di meja bergetar tanda pesan masuk dari seseorang.
Kenzo : Laura, makan siangmu aku antar dari sini ya. Aris tidak bisa memasak. Kecuali kalau kau mau makan makanan dari luar, biar Aris yang belikan.
Laura : Masakanmu saja, aku malas menyuruh asistenmu itu! Yang enak ya ...
Kenzo : Siap!
Laura menggulum senyum di wajahnya, menaruh ponselnya kembali, ia kembali mewarnai rambutnya.
*
Maxime dan yang lain menyewa satu apartemen yang besar, mereka berkumpul untuk membahas Laura. Arsen dan Miwa terlihat masih nampak gelisah, mata Miwa sembab karena terus menangis.
Belum ada kabar dari mereka yang mencari Laura. Hal itu membuat Arsen dan Miwa benar-benar terpukul.
"Bukankah itu aneh, mobilnya hangus terbakar tapi tidak ada jasad siapapun di dalam mobil," ucap Winter.
"Bagaimana bisa kau seyakin itu!" ujar Arsen.
"Kau tidak bodoh, Ar. Hanya karena pikiranmu sedang kacau, melihat mobil terbakar saja kau sudah tidak bisa berpikir lagi!" ucap Maxime.
"Dia putriku, Max!" Arsen setengah kesal dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tau!! justru karena dia putrimu kau seharusnya sadar Laura seperti apa! Kau ingat saat kecil dia berani masuk ke kandang harimau di saat Lalita dan Nala malah menangis ketakutan. Winter, Summer dan Laura yang hari itu masuk ke kandang harimau. Laura satu-satunya perempuan yang berani! Sampai dewasa sikap dia tidak berubah, Ar. Dia hanya terkadang bersikap baik dan manis saja kepada keluarganya!"
Arsen menghela nafas berat, pikiran nya benar-benar kalut sekarang sampai tidak bisa memikirkan apapun selain ingin bertemu dengan putrinya itu. Sementara Miwa sudah diam lemas di pelukan Lalita.
"Apa mungkin Laura menjauh sebentar karena Magma?" seru Lalita kini.
"Lebih baik cari tau, sebelum kejadian itu apa Magma dan Laura sempat bertengkar," lanjut Lalita.
__ADS_1
"Bertengkar sudah pasti, Magma tidak mencintai Laura," sahut Maxime.
"Kalau sampe Laura sembunyi, aku benar-benar akan menghukum anak itu," kesal Arsen.
*
Jeni datang ke apartemen Kenzo dengan mengenakan Wig panjang, dress perempuan dan heels tinggi. Ia memakai masker warna ungu. Sengaja di lakukan agar tidak ada yang mencurigai Jeni.
"Lala ... Jeni datang!" teriak Jeni ketika membuka pintu apartemen.
"Ssstt! berisik!" seru Aris yang tengah membuat kopi di dapur.
"Ih, rempong deh ah!" Jeni mendelik masam kepada Aris lalu berjalan menuju kamar Laura.
"La ih."
"Hmm?" sahut Laura yang sekarang tengah maskeran.
"Wih rambut baru nih, La." Jeni duduk di ranjang.
"Apa?" tanya Laura.
"Lala kapan mau ngasih tau Tuan Arsen."
"Nanti, setelah Byanca catwalk. Aku masih harus menghancurkan karier Byanca dulu, kalau aku ngasih tau sekarang ke Daddy kalau aku masih hidup. Aku takut Daddy menghalangiku menghancurkan karier Byanca. Kau tau sendiri kan, Jen. Daddy memintaku hidup normal seperti orang lain."
"Ya ... kalau Tuan Arsen tau Lala yang membunuh Ayahnya Byanca kayanya Lala udah di gantung hidup-hidup." seru Jeni walaupun itu tidak mungkin.
PRANG
Jeni dan Laura langsung menoleh ke pintu ketika mendengar suara sesuatu yang pecah. Jeni langsung berdiri membuka pintu dan terlihat Aris dengan wajah terkejutnya kala menguping pembicaraan Laura dan Jeni. Gelas berisi kopi di tangan Aris sudah pecah di lantai.
__ADS_1
Bersambung