
"Kalau kau yakin dia masih hidup, biarkan dia sendiri dulu ... mungkin dia ingin menjauh darimu sejenak, Magma." Kata Benjamin di telpon kepada Magma.
Magma terdiam di sofa kamarnya. Ia menceritakan semuanya kepada Benjamin, bagaimana perlakuan nya terhadap Laura selama ini. Bagaimana dirinya menjadikan Laura pembantu di mansion.
Benjamin cukup kaget mendengar hal itu. Ia yakin Arsen sudah mengetahui hal tersebut dan pasti marah besar kepada Magma.
Ucapan Ayahnya itu membuat Magma menghentikan pencarian Jeni kepada Wiski. Padahal Wiski dan Jeni sedang bernegosiasi di kamar hotel Jeni.
Jeni mengancam akan meloncat dari balkon sementara Wiski sudah di hadapan nya.
"Kalau Jeni mati, si tua bangka ga bakalan ketemu sama Lala. Karena hanya Jeni yang tahu dimana Lala!"
"Dari pada kau mati dan masuk neraka lebih baik kau ikut denganku!" sahut Wiski.
"Lompat nih! Lompat nih!"
"E-eee jangan!" Wiski kaget kala Jeni hendak naik ke pagar balkon.
Ponsel Wiski tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari Magma, ia segera mengangkatnya. Jeni mendekatkan kupingnya seolah-olah ingin menguping nyatanya tidak terdengar apa-apa.
"Ya, Tuan."
"Baik Tuan."
Panggilan berakhir, Wiski kembali mengantungi ponselnya. "Sana lompat saja!" seru Wiski kemudian dengan wajah datar lalu melengos dari hotel membuat dahi Jeni mengkerut seketika.
"Kenapa tiba-tiba dia pergi," gumam Jeni.
Bukan hanya Magma saja tapi Arsen dan Miwa pun sepakat menghentikan pencarian ketika salah satu anak buahnya tak sengaja memotret foto Laura yang hendak pergi ke bandara tadi. Ia memperlihatkan foto itu kepada Arsen, Arsen sangat yakin itu Laura walaupun fotonya tidak terlalu jelas.
Mereka tahu perangai Laura seperti apa, mereka tahu otak licik Laura, mereka hanya tetap berharap Laura masih hidup dan akan kembali.
*
Laura tiba di New Zealand dan ia langsung menyewa apartemen untuknya, Kenzo, Farel dan Aris.
Perempuan itu merebahkan dirinya di sofa. "Astaga lelah sekali ..." ujarnya.
"Aku akan memesan makanan," seru Farel berjalan menuju balkon sambil melihat suasana kota dari atas.
"Aku ke kamar mandi dulu." Aris beranjak dari duduknya. Tersisalah Kenzo dan Laura saja di sana.
"Laura, kau mau tidur di kamar mana?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Mana saja lah," sahut Laura. "Oh iya, panggil aku Lala saja," ujar Laura dengan tersenyum.
"Lala?" Kenzo menaikan alisnya.
Laura mengangguk. "Itu panggilan untuk orang-orang terdekatku saja."
"Oh, jadi aku sekarang orang terdekatmu?" tanya Kenzo di iringi senyuman di wajahnya.
"Benar, kau sekarang orang terdekatku."
"Pantas saja waktu hari pernikahanmu aku tidak di undang, ternyata aku baru jadi orang terdekatmu sekarang ..." seru Kenzo sambil memalingkan wajahnya pura-pura merajuk.
"Yang mengatur undangan Ayahku. Temanku saja banyak yang tidak di undang." Laura hari itu terlalu sibuk memikirkan Magma, bagaimana reaksi Magma hari itu bisa menikah dengan nya, bagaimana rumah tangga nya setelah menikah.
Hal itu yang Laura pikirkan sampai-sampai ia lupa untuk memikirkan soal undangan.
"Ah pantas saja, Tuan Arsen yang tidak mengundangku ternyata."
*
"Cheerss!" teriak mereka mengadukan gelasnya masing-masing sampai mengeluarkan suara berdenting kemudian mereka meminum minuman nya.
Mereka berempat seakan sedang merayakan keberhasilan kabur dari Spanyol tanpa terhalang Magma maupun anak buahnya.
Farel mengambil ice cream, Aris mengambil seafood sementara Kenzo hanya diam memegang gelasnya sambil memperhatikan Laura yang duduk sambil lahap makan spageti.
Kenzo menarik ujung bibirnya tersenyum melihat Laura makan dengan lahap.
"Astaga Laura ..." Kenzo mengusap ujung bibir Laura yang belepotan.
Melihat itu sontak Aris dan Farel berhenti mengunyah, mereka langsung menatap dua objek di depan matanya. Laura sendiri berhenti mengunyah menatap sikap Kenzo kepadanya.
"M-maaf ..." Kenzo langsung menarik kembali tangan nya yang reflek.
"Tidak apa-apa," sahut Laura dengan tersenyum kemudian kembali makan.
Aris menggelengkan kepala berharap Kenzo tidak menyukai Laura lagi.
Kenzo yang tiba-tiba merasa gugup kembali meneguk minuman nya.
Hening beberapa detik. Mereka sibuk dengan makanan nya, Laura makan sambil sesekalin menoleh ke arah Kenzo. Tiba-tiba antara keduanya timbul rasa canggung satu sama lain.
Selesai makan, Aris membereskan sisa makanan sementara Farel mengantar Laura membeli beberapa hiasan untuk di apartemen. Laura tertarik untuk membeli lukisan.
__ADS_1
Sementara Kenzo tengah menonton tv sendirian.
"Perempuan masih banyak, jangan sampai kau bermasalah dengan suami Laura, bos." Seru Aris sambil berjalan menuju tempat sampah setelah membereskan meja.
"Kau ini bicara apa!"
"Kiw ini biciri ipi!" ledek Aris lalu duduk di sofa bersama Kenzo.
"Bos, kau menghabiskan banyak uangmu untuk menyewa apartemen sebesar ini. Salah besar kau meminta Laura memilih apartemen, dia pasti memilih yang paling mewah! padahal kau selalu hemat dan meminta kami jangan menghambur-hamburkan uang tapi untuk Laura beda lagi!" kesal Aris.
"Uang bisa di cari!" sahut Kenzo.
"Uang bisi di ciri!" Aris kembali meledek Kenzo.
"Padahal dulu kau bilangnya uang bisa di cari tapi hemat tetap harus di lakukan!"
Kenzo berdecak menatap Aris. "Dimana harga diriku kalau menolak keinginan Laura?"
"Bos, dia bukan istrimu. Jadi tidak apa menolak keinginan dia, dia sih keenakan!"
"Sudahlah ..." Kenzo beranjak dari duduknya pergi ke kamar. Aris menggelengkan kepala melihat itu, akhirnya Aris memilih menonton tv saja, mengambil remot dan mencari film yang ia suka.
Tak lama kemudian Laura datang bersama Farel dengan membawa banyak sekali barang. Farel terlihat membawa kotak coklat yang cukup besar.
"Senangnya bisa shopping lagi ..." seru Laura lalu duduk di sofa. "Astaga lelah sekali ..." Laura menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.
Aris menatap satu persatu barang yang di beli Laura. Kebanyakan barangnya tidak terlalu penting, hanya untuk di pajang saja kemudian Aris menatap Farel yang duduk di samping kirinya.
"Mau bagaimana lagi ..." seru Farel mengangkat kedua bahunya. Kenzo meminta Farel untuk tidak melarang Laura membeli apapun yang dia suka.
Laura sudah mengatakan ia akan memakai uangnya sendiri tapi Kenzo memaksa agar memakai uangnya karena soal harga diri.
Aris berdecak memijat keningnya. "Niat hemat malah miskin kalau begini," gumam Aris pelan.
"Bantu aku menata semua lukisan ini ya," seru Laura. "Kau juga, jangan enak-enakan nonton tv!" Laura menatap jengkel Aris.
"Aku tidak enak-enakan, aku sedang memikirkan hidupku di masa depan," seru Aris yang membayangkan jika Kenzo miskin bagaimana nasib dirinya sedangkan Aris harus membiayai hidup ibu dan adiknya.
"Huh alasan!" Laura mengambil kotak dan masuk ke kamarnya. Ia menata lukisan tersebut di kamarnya, ia juga menyimpan pot bunga di meja rias agar terlihat lebih cantik.
Bukan hanya itu, Laura juga membeli jam dinding yang baru.
Bersambung
__ADS_1