
"Tau diri, Daddy ku ada di bawah. Dimana rasa malu mu sampai berani masuk ke kamarku!" Magma berkata sambil melepas kemeja yang di kenakan nya lalu menyampirkan nya di atas kursi.
Laura berdiri di belakang Magma, ia menoleh ke arah pintu yang terbuka sedikit. Laura baru sadar, benar yang di katakan Magma seharusnya ia tidak langsung masuk begitu saja ke kamar Magma.
Padahal tadi Laura sudah berakting di depan Benjamin seolah-olah menjadi gadis baik dan lugu. Tapi karena kedatangan Magma, membuat hati Laura senang berlebihan sampai mengikuti pria itu ke kamarnya.
Magma berbalik menatap Laura dengan atasan polos dan hanya mengenakan celana jeans hitam saja yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Kenapa diam? keluarlah!"
"Tanggung, sudah masuk. Biarlah ... aku tidak perlu lagi akting menjadi perempuan baik dan lugu di depan orang tuamu kalau begitu ..." Dengan tangan bersedekap dada ia tersenyum miring lalu berjalan mendekati Magma.
"Berhenti!" sergah Magma dengan memundurkan langkahnya.
"Darimana?" tanya Laura. "Kenapa tidak lama? aku pikir kau akan pulang besok."
"Aku tidak punya alasan untuk menjawab semua pertanyaan mu!"
Magma berjalan menuju ranjangnya. Ia duduk di ranjang, mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menyimpan nya di atas meja lalu merebahkan dirinya di kasur. Satu lengan nya ia simpan di atas kening sambil memejamkan mata.
Laura berdecih sambil tersenyum melihat itu. "Tuan, yang di bawah masih bangun. Gagal pergi ke klab kah?" tebak Laura setelah melihat celana Magma, ada sesuatu yang menonjol di sana.
Magma mendengus kasar kemudian bergerak tidur menyamping untuk mengalihkan bagian tubuh yang menjadi pusat tatapan Laura. Pria itu memeluk guling miliknya.
Dengan menggulum senyum di wajahnya Laura berjalan mendekati Magma lalu duduk di dekat telapak kaki Magma yang masih memakai kaos kaki.
"Laura!" Magma menarik kakinya dari tangan Laura ketika Laura hendak membukakan kaos kaki pria itu.
"Kau ini kenapa? aku hanya ingin membukakan kaos kakimu. Siapa yang tidur pakai kaos kaki? seperti orang sakit saja!"
"Berisik Laura!! enyahlah dari kamarku!!"
Magma kembali memeluk guling. Laura menghela nafas, ia tidak jadi membuka kaos kaki pria itu, Laura beranjak dari ranjang. Magma pikir Laura akan pergi dari kamarnya tapi yang terjadi malah perempuan itu berjalan mengitari ranjang dan tiduran di samping Magma membuat keduanya tiduran saling berhadapan.
Laura memandangi Magma dengan menggulum senyum di wajahnya. Magma menghela nafas tanpa membuka matanya, karena kalau membuka mata ia tahu mata Laura lah yang pertama kali di lihat olehnya.
Pria itu memilih bergerak membelakangi Laura. Perempuan itu menekuk wajahnya lalu kembali menarik tubuhnya untuk duduk.
"Magma ..." panggilnya.
Hening, tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Menurutmu, kalau kita menikah bagaimana ya?" tanya Laura sambil tersenyum berandai-andai.
Masih hening, tidak ada jawaban. Walaupun Magma mendengar pertanyaan Laura, dia enggan menjawabnya dan memilih mengacuhkan nya.
Laura tak henti-hentinya berandai-andai sambil tersenyum. "Nanti ... kita tidur bersama setiap hari seperti ini, kita masak bersama, mandi bersama, terus kita punya anak yang membuat keluarga kita semakin sempurna ..."
Magma masih tidak menjawab dia malah menghalangi telinganya dengan bantal sebagai tanda penolakan dan tidak mau mendengar semua ucapan Laura.
Laura yang melihat itu mengerucutkan bibirnya. Ketika ia hendak menarik tangan Magma tiba-tiba.
Tok tok tok.
Keduanya menoleh ke arah pintu.
Tok tok tok.
"Siapa ya?" gumam Laura.
Magma tanpa basa-basi beranjak dari ranjang untuk membukakan pintu. Laura membuntut di belakang pria itu.
"Mom ..."
Bayuni menatap Magma yang tanpa busana, hanya memakai celana jeans saja, lalu pandangan nya beralih ke arah Laura yang berada di belakang Magma.
"Eh hehe ..." Bayuni tersenyum memperlihatkan gigi-gigi nya.
"Sedang apa berduaan di kamar?" tanya Bayuni.
Bayuni sebenarnya datang karena di suruh oleh Benjamin yang takut Magma melakukan hal aneh-aneh kepada Laura. Bisa-bisa keluarganya habis oleh keluarga De Willson.
Magma dan Laura saling menoleh kemudian mereka berdua kompak menggelengkan kepala.
"Tidak melakukan apa-apa," kata Magma.
Bayuni dengan sopan menarik tangan Laura. "Laura ..."
Laura pun kini berada di dekat Bayuni.
"Laura kan belum menikah. Jadi Laura tidak seharusnya masuk kamar Magma ya ..."
Laura menatap bergantian Bayuni dan Magma. "T-tapi kita tidak melakukan apa-apa di dalam, Mommy ... Iya kan, Magma?" Laura menatap Magma.
__ADS_1
"Dia hampir memperk*sa ku!!" sahut Magma lalu menutup pintu.
"HEI KAU!" teriak Laura. "EH BISA-BISA NYA KAU FITNAH AKU YA!!"
"Kurang ajar sekali dia ini!" gerutu Laura.
Bayuni tercengang, perasaan Laura sangat ramah dan sopan tadi. Tapi sekarang, dia kaget melihat Laura marah sampai matanya melotot ke arah pintu karena tidak terima dengan ucapan Magma.
"Huh menyebalkan!"
DUG
Laura menendang pintu kamar Magma. Setelah mencoba menetralisir amarahnya yang menggebu-gebu dengan dada yang naik turun. Laura kembali menoleh ke arah Bayuni yang masih terlihat kaget. Laura pun yang sadar akting nya untuk terlihat menjadi perempuan baik dan lugu di depan Bayuni dan Benjamin kini gagal sudah.
"M-Mommy ..." ucap Laura terbata karena merasa tidak enak dengan amarahnya tadi.
"Maaf, tadi Lala marah ya ..." gumam Laura pelan.
Bayuni kemudian tersenyum dengan mengusap pundak Laura. "Tidak apa, Mommy tau Magma hanya bercanda saja."
"Hehe iya Mommy."
"Yasudah, ke kamar ya ..." Bayuni menarik tangan Laura untuk mengantar perempuan itu menuju kamar tamu.
Laura terus menggerutu di dalam hatinya. "Dia bilang apa, aku mau memperk*sa dia. Sial*n membuatku malu saja!!"
Sementara itu si tulang lunak alias Jeni sedang membagikan beberapa uang di sisi jalan kepada tiga orang pria yang penampilan nya terlihat biasa saja.
"Terimakasih Tu ---" Pria itu menggantung kalimatnya karena tidak tahu harus memanggil apa kepada Jeni. Rambutnya memang pendek seperti rambut lelaki tapi dia memaki rok dan lagi tidak nampak buah d*da di tubuh Jeni.
"Panggil aku Nona Jewni yang cuantik jelita ulalala ..." Kata Jeni dengan manja.
Tiga pria itu saling menoleh. "I-iya Nona Jeni ..."
"Nona Jeni apa?" Jeni mendekatkan telinganya.
"Nona Jewni cuantik jelita ulalala ..." ucap tiga pria itu kompak bersamaan membuat Jeni tersenyum senang.
"Okay, terimakasih sudah membantu Jeni menyebarkan paku di jalanan jadi si raja hutan itu sudah kembali ke kandangnya sekarang. Jeni pergi dulu, Bye ..."
Jeni menyuruh beberapa orang menyebarkan paku di jalanan agar ban mobil Magma kempes. Lail yang berada di apartemen hendak menyusul Magma tapi mobilnya juga kempes ketika di perjalanan.
__ADS_1
Mood Magma hancur sudah sampai tidak jadi pergi ke klab. Dan meminta anak buahnya menjemput dirinya lalu kembali ke mansion.
Bersambung