
"Dimana Laura!" hardik Magma mengintogerasi kedua anak buahnya Fello dan Vincent di sebuah ruangan yang berada di mansion.
Fello dan Vincent saling menatap kemudian menggeleng pelan. "Kami belum menemukan nya Tuan ..."
"Jangan bohong!"
Tok tok tok.
Magma menoleh ke pintu. "Masuk!"
Lail membuka pintu di ikuti dua anak buah Magma yang lain yang di tugaskan mengikuti Jeni.
Lail padahal tadi sempat kembali ke apartemen untuk istirahat tapi Magma memberi tugas tambahan mendadak dengan meminta membawa dua anak buahnya yang di tugaskan mengikuti Jeni. Lail tidak bisa membantah.
Dua orang pria itu bergabung bersama Fello dan Vincent. Mereka bernama Dion dan Musab.
Mereka berempat menunduk, hanya menatap lantai di bawah tak berani menatap wajah Tuan nya. Sementara Lail berdiri di belakang Magma.
"Tidak ada yang becus! yang dua di suruh mencari Laura malah pergi ke tempat makan, yang dua di suruh mengikuti si banci itu saja tidak ada hasil! Kalian kenapa bodoh sekali hah!"
Hening.
"Jawab!"
Musab yang pertama mendongak. "Maaf Tuan, tapi Jeni tidak pergi kemana-mana selain di hotel. Dia sering nongkrong di balkon kamarnya, kami mengawasi dari bawah."
"Yakin?"
Dion dan Musab mengangguk.
Padahal yang sebenarnya terjadi. Di hotel itu ada dua banci, Jeni dan teman nya, yang hampir mirip dengan Jeni. Ketika di balkon, teman Jeni lah yang sering nongkrong dengan memakai masker. Dia berlaga seperti Jeni untuk mengelabui anak buah Magma yang tengah mengawasinya dari bawah.
Sementara Jeni yang asli keluar dari hotel dengan mengenakan topi dan masker, membawa mobil melewati anak buah Magma.
"Dan kalian ..." Magma kembali menatap Vincent dan Fello. "Jelaskan kenapa berani berbohong kepadaku!!"
Dion dan Musab pun sontak menoleh ke samping, Fello dan Vincent masih menunduk dengan saling menyikut.
"Kalian tau kan hukuman apa yang akan aku berikan kalau kalian berani berbohong!"
"Kami, kami tadi hanya lapar Tuan. Jadi kami pergi makan dulu. Sumpah! tembak saja kepala kami kalau nanti ternyata Nyonya Laura masih hidup."
Fello sontak menyikut Vincent atas ucapan nya itu.
"Yakin?"
__ADS_1
"T-tidak ---"
"Yakin Tuan," potong Vincent ketika Fello hendak berbicara.
Magma mengangguk kemudian keluar dari ruangan tersebut di ikuti Lail. Vincent akan meminta bantuan Laura setelah ini.
Magma berjalan menuju sofa dan Lail duduk di hadapan nya.
"Apa anak buahku sudah banyak yang berkhianat, Lail? Aku tidak bodoh, aku tau mereka berbohong. Dan masalah Jeni, aku yakin dia berhasil mengelabui Dion dan Musab."
"Aku sangat yakin Laura masih hidup!"
"Maaf, Tuan. Setau saya, Nyonya Laura dulu sering berbincang dengan para anak buahmu Tuan, apalagi anda hanya memberikan jadwal hari senin saja untuk Nyonya Laura keluar. Beliau pasti bosan di mansion dan kemungkinan beberapa anak buah anda sudah dekat dengan Nyonya Laura ..."
Magma mengangguk. "Aku juga berpikir seperti itu, Lail. Hanya kau yang aku percaya!"
Magma menghela nafas panjang. Dia marah kepada anak buahnya, tentu saja. Tapi entah kenapa dia tidak berselera untuk menghukum mereka, ia hanya ingin fokus menemukan Laura. Setelah ini Magma tidak akan lagi mengandalkan anak buahnya, ia akan mencoba menyuruh orang lain, mungkin anak buah dari beberapa teman nya di saat anak buahnya sendiri tidak ada yang bisa di percaya.
*
Maxime mengikuti Jeni diam-diam bersama Arsen. Jeni memakai rambut panjang berwarna biru dan dress berwarna putih, tasnya kecil berwarna putih senada dengan heels nya. Jeni masuk ke sebuah hotel sementara Maxime dan Arsen masih berada di mobil.
Mereka berdua buru-buru keluar dari mobil ketika melihat Jeni masuk ke dalam lift. Ponsel Maxime bergetar.
"Tuan, lantai tiga."
Di dalam lift merasa di perhatian oleh seseorang di belakangnya. Jeni mengambil ponsel dan mengirim pesan ke sebuah grup. Jeni hanya mengirim angka satu sebagai kode untuk mereka.
Dengan gerakan cepat, Jeni berbalik dan menendang burung pria di belakangnya. Ia menendangnya beberapa kali sampa pria itu memekik kesakitan karena burungnya terasa ngilu. Pria itu jatuh bersimpuh memegang burungnya sendiri.
Pintu lift terbuka, ketika Jeni keluar, beberapa pintu hotel terbuka dan semua orang yang berpenampilan seperti Jeni keluar. Rambut biru panjang, dress putih, tas kecil berwarna putih yang senada dengan heels nya.
Maxime dan Arsen di buat bingung ketika keluar dari lift karena mereka melihat puluhan orang yang berpenampilan mirip dengan Jeni.
Jeni asli yang berada di tengah-tengah tersenyum miring karena berpikir siapa yang berani mengelabui Tuan Maxime dan Tuan Arsen selain dirinya.
"Yang mana Max!"
"Si*l! kenapa jadi banyak begini!" pekik Maxime.
"Dia sama liciknya seperti putrimu, Ar."
Arsen berdecak. Apalagi melihat mereka semua kembali masuk ke kamarnya masing-masing. Tidak mungkin kan Maxime dan Arsen harus mengetuk pintu satu persatu.
"Sudahlah, kita ikuti Jeni nanti lagi saja."
__ADS_1
Arsen masuk ke Lift di ikuti Maxime.
Jeni merebahkan dirinya di sofa, ia menghela nafas lega.
"Liat, hanya Jeni si cantik manjalita yang pintar mengelabui dua kelompok mafia. Ah pinter banget deh Jeni ..."
"Kau di ikuti lagi say?" ucap Sarah, nama aslinya Sandra. Dia sama seperti Jeni, pria tulang lunak.
Jeni menoleh menatap Sarah yang baru selesai mandi. "Iya cin, bete deh ah. Gasuka Jeni diikutin terus, mentang-mentang Jeni cantik ya say."
Sarah duduk di depan Jeni dengan mengenakan bathrobe dan handuk melilit di kepalanya.
"Awas ya say, kalau sampe ketauan eyke jangan di bawa-bawa. Gamau mati eyke ni."
"Tenang ... selama Lala masih hidup, kita juga masih hidup say."
"Rambut you panjang juga, Wig baru?"
"Ah rempong say pake rambut panjang, kena angin terbang-terbang."
Sarah tertawa dengan suara banci nya. "Untung You ga ikut terbang."
Ponsel Jeni berdering di dalam tas nya. Ia mengambil ponselnya tersebut dan langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hallo."
"Dimana Laura?" tanya Magma.
Mata Jeni membulat, ia mencoba melihat siapa yang menelpon.
"Anjir Magma!" hardik Jeni.
"Jeni!" teriak Magma di telpon.
"Apalagi sih ah," seru Jeni. "Kenapa tanya Jeni sih, yang bikin Lala kecelakaan siapa. Hayo?"
"Dimana Laura, Jeni!!" ulang Magma dengan geram.
"Jeni bilang tidak tau ih!" Sahut Jeni dengan gemas kemudian mematikan panggilan telpon nya.
"Bete deh, udah Ayahnya sekarang suaminya yang ganggu Jeni!"
"Sudah, mendingan mandi dulu. Muka You dah kusut begitu ih."
Jeni menghela nafas. "Tenang Jeni tenang ... jangan marah-marah nanti cepat tua. Lebih baik Jeni luluran saja."
__ADS_1
Jeni pun beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kamar mandi, Sarah hanya menggelengkan kepala melihat Jeni.
Bersambung