M & L

M & L
#Ayah Byanca meninggal


__ADS_3

Magma kembali menaiki anak tangga dengan langkah tertatih seakan menyeret penyesalan di bawah kakinya. Laura masih belum jelas kondisinya, hidup atau mati. Walaupun Magma yakin Laura masih hidup.


Di bukanya pintu kamar, matanya langsung tertuju ke sofa tempat dimana mereka selalu menonton berdua.Magma seakan melihat Bayangan Laura dan dirinya menonton bersama dengan Laura yang tertawa keras, pandangan nya beralih ke ranjang dan ia melihat Laura sedang memijitnya dengan menekuk wajahnya. Tapi sedetik kemudian bayangan itu kembali menghilang menyisakan kamarnya yang kosong.


Magma menutup pintu lalu berjalan ke sofa, ia duduk menyenderkan punggungnya di kepala ranjang kemudian menengadah menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan hampa sambil merasakan sudut bibirnya yang sakit dan dada nya yang sesak.


Matanya mulai berkaca-kaca, ia menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata dan akhirnya air matanya lolos begitu saja.


Ia merogoh ponsel di saku celananya yang bergetar kemudian mengangkat telpon tanpa melihat siapa yang menghubungi.


"Hallo ..."


"Maaf Tuan, kami sudah menelusuri sekitar hutan tempat kejadian. Tidak ada Nyonya Laura di sini," seru Fello berbohong.


Karena sebenarnya Fello dan Vincent sekarang sedang membakar daging di depan tenda yang di buat tengah hutan. Tapi jauh dari jurang tempat kecelakaan, karena mereka memihak kepada Laura, mereka juga tahu dimana Nyonya nya itu berada.


Vincent yang tengah mengunyah paha ayam di samping Fello menahan tawa nya.


Magma tidak berkata apa-apa lagi, ia mematikan panggilan telpon nya.


Ponsel Magma kembali bergetar, kali ini panggilan masuk dari Byanca. Magma melihatnya, berdecak kemudian menolak panggilan tersebut.


"Ish, malah di tolak!" kesal Byanca.


"Aku mau tau perempuan itu beneran mati atau tidak!" Byanca mencoba menelpon kembali tapi lagi-lagi Magma menolaknya.


Byanca kemudian tersenyum. "Kalau dia benar-benar mati ---"

__ADS_1


"Bukan itu kalimat yang benar, jal*ng!!" Byanca berbalik dan mendapati Jeni tersenyum miring sambil tangan bersedekap dada.


"Yang benar itcuh, kalau Bram benar-benar mati, idupmu sengsara ... ya kan, ya kan?" Jeni tersenyum sinis.


"Untuk apa kau sepagi ini ada di sini?"


"Ini Rumah Sakit, bukan Rumah mu! Jadi Jeni bebas dong mau dimana aja!"


"Apa Laura ada di Rumah Sakit ini?"


"Bukan urusanmu!" hardik Jeni lalu melengos meninggalkan Byanca.


"Kok dia terlihat biasa saja ya padahal Laura masih belum jelas keadaanya," gumam Byanca menatap kepergian Jeni.


Baru saja Byanca hendak menyusul Jeni ia di kagetkan dengan Dokter dan perawat yang berlari masuk ke kamar Ayahnya.


"Loh, Ayah ..." Byanca pun ikut berlari masuk ke ruang pasien dan ketika sampai di sana ia mendengar suara nyaring dari monitor di ikuti garis lurus di layar.


Jeni berjalan di lorong Rumah Sakit dengan pinggangnya yang melenggak-lenggok, ia tersenyum sinis karena tahu Byanca pasti sedang menangisi kepergian Ayahnya.


Gitu lah akibatnya kalau ganggu Lala dan Jeni si cantik manjalita ini ...


*


Laura tengah sarapan bersama Aris, Kenzo dan Farel. Pagi ini Kenzo dan Farel juga akan pergi bekerja kembali.


"Kak Laura, keluarga Kak Laura tidak akan menyalahkan kami kan?" tanya Farel.

__ADS_1


"Menyalahkan soal apa?" tanya Laura lalu mengambil segelas air.


"Nanti mereka berpikir kami menyekap Kak Laura di sini."


Kenzo pun menatap Laura, ia juga khawatir jika keluarga Laura menyalahkan dirinya.


"Jangan khawatir, aku akan menjelaskan secepatnya kepada Daddy ku."


Ponsel Laura bergetar, panggilan masuk dari Jeni. Laura segera mengangkatnya.


"Beres!" ucap Jeni di telpon.


"Hm, bagus." Laura mematikan kembali panggilan telpon nya dan kembali makan.


Aris menatap bergantian Laura dan Kenzo, sebab dari tadi Kenzo mencuri pandang ke arah Laura.


"Kalian tau, di film orang yang gagal move on selalu terlihat menyedihkan ..." sindir Aris menatap Kenzo.


Kenzo balik menatap Aris kemudian berdecak dan mengambil segelas air.


"Film apa?" tanya Laura.


"Film si pria yang malang," sahut Aris dengan menahan tawa nya. Farel yang mengerti pun ikut menahan tawa nya.


"Makan jangan banyak bicara!" hardik Kenzo.


"Makan jangan banyak pandang sana sini," sahut Aris.

__ADS_1


Laura menaikan alisnya tidak mengerti dengan Kenzo dan Aris yang berbicara sambil menatap seperti itu.


Bersambung


__ADS_2