
"Wanita murahan dan air mata murahan," seru Laura dengan tersenyum miring kala melihat video Byanca di ponselnya. Byanca tengah menangis di samping Ayahnya yang tengah koma.
Video itu di ambil oleh salah satu perawat yang sudah bekerja sama dengan Laura. Laura sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari. Perempuan itu meminta anak buah Magma untuk menabrak Ayah Byanca di jalanan yang dekat dengan Rumah Sakit. Dengan begitu ia mudah berinteraksi dengan salah satu perawat di sana.
Anak buah Magma yang memihak kepada Laura tak lain adalah Fello dan Vincent. Vincent pura-pura kaget di depan Magma kala memberitahu jika mobil Laura masuk jurang, padahal Vincent sendiri masuk ke dalam rencana Laura.
"Kau sedang apa?" tanya Aris membuat Laura yang duduk di sofa terhentak kaget dan segera mendekap ponselnya.
"Ish, kau ini mengagetkanku saja! aku sedang nonton film, kenapa?" tanya Laura.
"Si banci sudah pulang?" tanya Aris.
"Sudah."
"Laura, makan dulu," panggil Kenzo yang tengah memasak dengan Farel.
"Giliran makan langsung saja berdiri," seru Aris yang melihat Laura langsung pergi ke dapur tanpa di panggil dua kali.
*
Mereka baru sampai di Spanyol pukul tiga pagi, perjalanan panjang yang menyiksa pikiran Arsen tentang putrinya.
Mereka berada di dalam mobil menuju mansion Magma.
"Lebih cepat!" seru Arsen kepada anak buah Maxime yang juga ikut ke Spanyol.
Ia menginjak pedal gas dan mobil melaju lebih cepat membelah jalanan kota pagi ini. Ada dua mobil lain yang mengikutinya dari belakang.
Klakson mobil berbunyi keras membuat satpam di mansion yang tengah tertidur terhenyak kaget. Ia segera berlari ke gerbang dan membukanya begitu saja tanpa bertanya dulu siapa yang bertamu. Karena satpam yang tak lain anak buah Magma belum sadar sepenuhnya dari tidur.
Mobil berhenti di teras depan, Arsen segera membuka pintu dan dengan langkah cepat ia masuk ke dalam mansion di ikuti Maxime dan yang lain.
"MAGMA!" teriaknya.
"MAGMA!!" Arsen mengedarkan pandangan mencari pria itu sampai akhirnya terdengar suara seseorang membuka pintu dari lantai atas.
__ADS_1
Magma turun ke bawah dan seketika amarah Arsen semakin membabi buta. Tangan nya mengepal kuat, ia menghampiri Magma tepat ketika Magma menginjak anak tangga terakhir.
BUGH
"Kak Magma!" jerit Yura yang lengan nya langsung di tahan Winter kala gadis itu hendak menghampiri kakaknya.
Arsen menarik kerah baju Magma dengan kasar. "Dimana anakku?!" geram Arsen dengan gigi menggertak marah.
"Dimana anakku sial*n!" ulang Arsen.
"Apa benar Lala yang mengendarai mobil yang masuk ke jurang itu, Magma!" teriak Miwa dengan menangis.
"Benar!" sahut seseorang yang baru saja masuk ke mansion Magma. Dia adalah Jeni, dengan tangan bersedekap dada, pandangan angkuh menatap Magma ia berjalan menghampiri mereka.
"Magma menemukan gelang Lala," seru Jeni.
"Itu hanya gelang, Laura bisa saja masih hidup! awak media yang melebih-lebihkan!" sahut Magma.
"Kalau begitu dimana putriku sekarang kalau benar Laura masih hidup!" hardik Arsen masih menarik kerah baju Magma.
"Magma menjadikan Lala pembantu, Tuan. Memintanya berhenti jadi model, Lala di mansion ini setiap hari bersih-bersih seperti seorang pelayan. Mengepel, menyapu, membersihkan hiasan, mencuci piring dan memasak," seru Jeni yang sontak mendapatkan tatapan tak percaya dari semua orang. Terutama Miwa dan Lalita.
Jeni mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan nya kepada Arsen. Arsen melepas cengkraman tangan nya di kerah baju Magma kemudian mengambil ponsel tersebut. Magma hanya diam menunduk dengan memegang ujung bibirnya yang terluka karena bogeman mentah dari mertua nya sendiri.
Raut wajah Arsen awalnya terlihat biasa saja tapi lama-lama ia melebarkan matanya dengan mencengkram kuat ponsel Jeni kala melihat Laura tengah menyapu dan mengepel. Padahal hal itu tidak pernah Laura lakukan di mansion nya.
Kemudian Arsen melotot ke arah Magma. "Kau ..."
"Winter, bagaimana ini?" seru Yura.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa Yura. Ini bukan masalah kita," sahut Winter.
"Tenangkan dirimu ..." Milan masih berusaha menenangkan Miwa yang menangis kala mendengar ucapan Jeni. Putrinya di jadikan pembantu, padahal ia sangat tahu kehidupan Laura yang selalu ingin bersih dan jauh dari debu.
"Tidak hanya itu, Tuan ..." seru Jeni kembali. "Setiap malam sebelum tidur, Lala harus memijat Magma. Tidak boleh tidur sebelum Magma tidur duluan." Jeni tersenyum miring ke arah Magma. Ini yang Jeni tunggu-tunggu selama ini, Magma di salahkan oleh keluarga Laura. Jeni sangat puas melihatnya.
__ADS_1
"BEDEB*H!" teriak Arsen sampai suaranya serak karena amarah yang meluap-luap. Ia merogoh pistol di saku celana nya tapi Maxime segera merebut pistol tersebut.
"Jangan gegabah!! Pastikan dulu keadaan putrimu!!" .
"Kembalikan, Max!! kau tidak mengerti seberapa marahnya aku mendengar putri yang aku rawat dari kecil seperti seorang princess di jadikan pelayan oleh suaminya sendiri!! bahkan memegang piring kotor pun aku melarangnya!! tapi dia ..." Arsen menunjuk Magma.
"Dia menjauhkan putriku dari karier nya!! aku tidak bisa membayangkan seberapa menderitanya Lala tinggal di sini!!"
Tiba-tiba tubuh Magma jatuh bersimpuh di hadapan Arsen dengan penuh penyesalan. Ia menunduk meminta ampun kepada mertuanya sendiri, hal itu membuat semua orang terkejut, apalagi Jeni yang sampai menutup mulutnya sendiri. Kapan lagi ia melihat Magma merendah seperti itu.
"Maafkan aku ..." lirihnya dengan suara gemetar. "Aku bersalah, aku akan menebus kesalahanku kepada Laura ..." suara gemetar penuh penyesalan.
DUG
Magma di tendang oleh Arsen sampai jatuh tersungkur ke belakang. Tepat ketika Arsen hendak menendang Magma, Winter langsung menutup mata istrinya.
"Hentikan omong kosong mu itu sial*n!!"
Magma terbatuk menepuk-nepuk dada nya sendiri berusaha bangun.
"Sampai satu bulan putriku masih belum di temukan aku akan membunuhmu! camkan itu!!" Arsen kemudian pergi dari mansion diikuti Maxime dan yang lain. Yura sempat ingin menghampiri Magma tapi lagi, Winter melarangnya dan mengajak Yura pergi.
Tersisalah Jeni seorang diri yang melihat Magma berusaha untuk berdiri setelah merasakan dada nya begitu nyeri dan sesak akibat tendangan Arsen yang memang cukup keras.
Dengan pandangan angkuh dan tangan bersedekap dada, Jeni tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana Tuan? enak ..."
"D-dimana ... i-istriku, Jen." tanya Magma setelah berhasil berdiri kembali.
"Kenapa kau bertanya kepadaku? kau yang menyakiti dia," sahut Jeni.
"Aku yakin kau tau dimana istriku, Jeni!!"
"Lihat mata cantik Jeni yang sembab ini, kalau Jeni tau Jeni tidak mungkin menangis tau," sahut Jeni kemudian berbalik meninggalkan Magma.
Bersambung
__ADS_1