
Dengan bersenandung manja, Jeni merapihkan peralatan make up nya ke meja rias samping ranjang. Jeni dapat kamar di lantai satu sementara Laura berada di lantai dua.
Kamar Jeni tidak mirip seperti kamar pelayan yang sempit tapi lebih mirip seperti kamar tamu. Magma sengaja memberikan kamar itu karena tidak mau mendengar ocehan Jeni jika di berikan kamar sempit.
"Nah ... kan, cuantik make up Jeni nih."
Setelah selesai, Jeni beranjak dari duduknya pergi ke balkon, ini sudah pukul dua belas siang. Terlalu lama berada di pesawat membuat Jeni sedikit kelelahan dan membutuhkan asupan untuk tubuhnya agar kembali sehat dan bugar.
Asupan yang di maksud bukan tidur atau makanan tapi lebih tepatnya asupan Jeni adalah melihat pria-pria tampan yang berlalu-lalang di halaman mansion.
"Uhhh ... anak buah si tua bangka ternyata tampan-tampan, mana banyak yang masih muda lagi."
"Kulitnya putih, tinggi, berotot, pake baju serba hitam, mata biru, hijau. Untung matanya tidak ada yang warna merah, kalau ada mirip vampire." Jeni cekikikan sendiri sambil terus menatap anak buah Magma dengan tatapan seakan ingin menerkam mereka dan membawanya ke kamar.
*
Setelah sampai di mansion Magma, Laura membereskan baju-bajunya, ia memasukan nya ke lemari, Laura hanya membawa satu koper baju saja berbanding terbalik dengan Jeni yang membawa tiga koper.
Magma merebahkan dirinya di sofa sambil memainkan ponselnya. Laura menghembuskan nafas setelah selesai merapihkan baju-baju miliknya.
"Tidak terbiasa beres-beres?" sindir Magma tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel.
Laura berbalik. "Kata siapa? Lala yang membereskan kamar Lala sendiri."
"Oh, hanya kamar," sahut Magma lalu berdecih seolah meremehkan Laura.
"Memasak juga bisa tau," sahut Laura lalu berjalan menghampiri Magma dan duduk di depan pria itu.
__ADS_1
"Aku ingin membuat perjanjian baru," kata Magma beranjak duduk menghadap ke arah Laura.
"Pernjanjian apa?" Laura menaikkan alisnya.
Magma mengambil selembar kertas di tas hitam yang ada di atas meja.
"Perjanjian perusahaan ku menjadi milik De Willson ada padamu, maka aku ingin perjanjian yang baru antara suami dan istri."
Kertas itu di dorong ke arah Laura. Laura pun mengambilnya dan membaca satu-persatu isi dari perjanjian itu.
* Poin pertama : Laura Zahaira Bachtiar rela melepaskan karirnya menjadi seorang model dan hanya fokus menjadi istri dari Magma Mahavir.
* Poin ke dua : Laura Zahaira Bachtiar harus tunduk kepada perintah Magma Mahavir tanpa terkecuali.
* Poin ke tiga : Tidak boleh keluar dari mansion tanpa izin dari Magma Mahavir.
*Poin ke lima : Lantai dua di mansion Magma seluruhnya akan di bersihkan oleh Laura, bukan pelayan. Termasuk menyapu, mengepel dan membersihkan debu di beberapa hiasan yang ada.
*Poin ke enam : Semua pakaian Magma akan di cuci, di setrika sampai di lipat dan di simpan ke lemari oleh Laura, bukan pelayan.
* Poin ke tujuh : Setiap Magma hendak tidur, Laura akan memijat seluruh tubuh Magma.
* Poin ke delapan : Setiap bertemu keluarga di Indonesia Laura harus menunjukan sikap bahagia, begitupun sebaliknya dengan Magma.
"Tunggu, Lala tidak setuju kalau harus mengorbankan karir Lala, model itu hidup Lala!"
"Apa kau pikir aku setuju menikah denganmu? aku menikah denganmu demi menyelamatkan perusahaan ku. Aku juga ingin kau mengorbankan karirmu demi pernikahan bedeb*h ini!!"
__ADS_1
Laura menghela nafas panjang menatap jengkel Magma, pria itu hanya tersenyum miring merasa menang.
"Tapi bagaimana dengan poin ketiga? Bagaimana kalau dalam seminggu Lala tidak boleh keluar mansion, bagaimana kalau Lala stress? Lala minta keringanan di poin ketiga!"
Magma berdecak. "Keluar hanya hari senin saja!"
Laura tersenyum. "Nah gitu dong. Ah, kalau sisanya tidak apa-apa sih, Lala tidak keberatan karena ini sudah seperti tugas istri merawat suami." Senyum Laura semakin mengembang seakan kertas di tangan nya itu bukan apa-apa untuknya. Ia merasa bisa melakukan semuanya termasuk mengorbankan karir nya.
Lihat, seberapa lama kau bisa bertahan perempuan licik!
"Oh iya, kau juga tidak lupa dengan perjanjian yang Lala pegang kan? Perjanjian kedua, kau tidak boleh bermain wanita di klab lagi, tidak boleh tidur dengan wanita lain lagi. Yang ketiga kau harus memanggilku dengan sebutan Lala karena itu panggilan untuk orang-orang terdekat Lala saja. Sebenarnya Lala mau di panggil sayang, tapi Lala yakin kau tidak akan mau."
Magma mengangguk membenarkan kalau dirinya tidak akan mau memanggil sayang kepada Laura.
Laura kembali menyebutkan aturan-aturan yang di buat di perjanjian pertama. Laura sudah hafal apa saja isi perjanjian itu sampai tidak harus membaca isi perjanjian nya di kertas karena kertas itu Laura simpan di tempat rahasia.
"Perjanjian keempat setiap pagi kau harus menciumku sebelum berangkat bekerja, perjanjian ke lima setiap malam kita harus menonton film bersama, perjanjian ke enam, seminggu sekali kita harus dinner di luar."
Magma menggaruk telinganya sambil mendengarkan ocehan Laura.
"Bagaimana?" seru Laura dengan tersenyum.
"Hmmm." Magma berdehem sebagai jawaban setuju sambil menganggukan kepala samar.
"Tanda tangani itu," titah Magma. Kemudian dengan semangat Laura mengambil pulpen di meja dan menandatangi kertas itu di atas materai.
#Bersambung
__ADS_1