
Para tamu menikmati acara sementara Magma hanya duduk di kursi dengan wajah tak bersemangat sambil sesekali meneguk segelas wine di tangan nya. Ia mengedarkan pandangan nya dengan perasaan hampa, ini pernikahan nya tapi Magma tidak merasakan apa-apa. Tidak bahagia, tidak sedih. Dia hanya merasa kesal saja kepada Laura.
Sementara itu dengan balutan gaun yang panjang, Laura berjalan dengan memegang ujung gaun, celengak-celinguk mencari sosok sekretaris nya yang aneh itu.
Dari awal acara sampai ketika Laura mengucap janji suci pernikahan dengan Magma, Jeni tidak kelihatan sama sekali. Laura akan benar-benar marah kalau sampai Jeni tidak hadir di acara pernikahan nya.
Ia menaiki anak tangga pergi menuju lantai dua dengan terus memegang ujung gaun yang membuatnya sedikit kesulitan berjalan.
"Jeni ..." teriak Laura.
"Jen ..."
Laura mendengus kasar kemudian berjalan menuju balkon. Barulah ia melihat sosok perempuan dengan balutan dress ketat berwarna putih, rambutnya berwarna coklat.
"Jen ..." panggil Laura.
Perlahan Jeni berbalik dengan mimik wajah sedih dan make up yang sedikit menor mewarnai wajahnya, Laura mengernyit bingung, ada apa dengan Sekretaris nya ini.
"Lala ..." Jeni langsung memeluk Laura, ia menangis tanpa air mata di pelukan Laura.
"Kenapa Jen?" tanya Laura.
Jeni melepas pelukan nya kemudian mengenggam erat kedua tangan Laura sambil menggerutu. "Jeni sedih ih, gasuka Jeni Lala menikah dengan om tua itu, Jeni liat muka si tua bangka itu tadi, dia kayanya ada niat jahat sama Lala. Ih bete bete beteeee ..."
Laura menghela nafas panjang. "Jen, jangan berpikir yang jelek-jelek ah. Lala tadi cari Jeni malah di sini."
"Lala kenapa sih berubah jadi perempuan lembut kaya gini, Lala itu perempuan elegan yang tidak mudah tertindas orang, yang matanya mirip mata kucing yang tajam, senyumnya tidak manis tapi selalu membuat orang-orang takut ngeliat Lala. Sekarang Laura model terkenal udah berubah jadi Lala yang lembut hatinya, kenapa kaya gini sih La? kemana Laura Zahaira Bachtiar yang Jeni kenal. Lala itu engga mudah tergoda sama pria, tapi sama si tua bangka itu ---"
"Sssttt ..." Laura langsung menyimpan jari telunjuknya di bibir Jeni agar Jeni diam.
__ADS_1
"Lala itu sekarang seorang istri. Jadi harus berubah lah, Jen. Lala juga harus membuktikan ke Daddy dan Mommy kalau Lala bisa menaklukan hati Magma dan pernikahan Lala bakalan sama bahagianya dengan pernikahan Daddy dan Mommy."
"Iya, La. Tapi ---"
Ehemm.
Suara deheman itu membuat Jeni diam. Keduanya menoleh ke arah suara, Magma berdiri di belakang Laura dengan memasukan kedua tangan nya ke saku celana. Jeni mendengus kasar melihat Magma.
Pandangan Magma langsung tertuju ke arah buah d*da Jeni kemudian Magma tersenyum kecut.
"Balon?" seru Magma dengan pandangan meledek.
"Iya, kenapa kalau balon hah?" sahut Jeni dengan sewot. "Liat aja kalau Jeni udah oprasi kaya Lucinta Luna, kau bisa klepek-klepek melihatku tua bangka!"
"Heh, Jeni." Laura langsung menegur Jeni yang berbicara sewot kepada Magma.
"Pergi, aku mau bicara dengan nya!" Pandangan mata Magma langsung menoleh ke arah Laura.
"Oke," sahut Magma dengan enteng nya kemudian merogoh pistol di saku celana nya dan membidikkan nya ke arah Jeni.
Jeni dan Laura spontan melebarkan matanya.
"Langkahi dulu mayatmu kan?" seru Magma dengan tersenyum miring.
"T-tidak hehe, Jeni bercanda ..." Jeni langsung berhenti memeluk Lala dan mengangkat kedua tangan nya ke udara, ia berjalan menjauh dari Magma perlahan dengan tatapan ngeri menatap pistol di tangan Magma yang terus bergerak mengikuti langkah Jeni.
Laura hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala sampai akhirnya.
DUAR
__ADS_1
"ANJ*NG!" teriak Jeni yang suaranya berubah menjadi suara laki-laki yang gagah karena terlalu kaget. Satu balon di dada nya meletus seketika.
Pistol yang Magma pegang tidak berisi peluru tapi berisi jarum kecil saja yang berhasil membuat satu buah d*da Jeni meletus.
Laura tertawa terbahak-bahak melihat itu walaupun tadi ia juga sempat kaget dengan suara letusan balon tersebut.
"Pergi!" titah Magma dengan nada mengancam akhirnya Jeni tanpa basa-basi lari terbirit-birit menuruni anak tangga dengan heels tinggi yang ia kenakan. Beruntung Jeni sudah ahli berlari menggunakan heels tinggi, membuat dirinya tidak jatuh terguling ke bawah.
Setelah kepergian Jeni, Magma pun berjalan mendekati Laura membuat Laura yang tengah tertawa spontan terdiam.
Magma berdiri di depan Laura dengan kedua tangan yang kembali ia masukan ke saku celana.
Pria itu hanya menatap Laura tanpa bersuara, Laura pun diam menatap Magma selama beberapa detik. Tidak ada yang mulai berbicara.
"Aku mendengar ucapan Jeni. Dia benar, kemana mata kucingmu itu?" tanya Magma. Biasanya tatapan Laura selalu tajam, penuh percaya diri dan pantang takut dengan tatapan Magma.
Tapi kini, Magma seakan melihat sosok yang lain di tubuh Laura. Matanya memandang dengan teduh ke arah Magma.
"Perempuan yang pantang takut dan penuh percaya diri itu Laura bukan Lala. Karena aku sekarang seorang istri, aku akan menjadi Lala istri dari Magma Mahavir," sahut Laura dengan tersenyum.
Lagi, Laura selalu tersenyum miring ketika berbicara dengan Magma. Senyuman yang Magma benci, senyuman yang seakan menantang Magma. Tapi sekarang, Laura malah tersenyum manis ke arahnya membuat Magma heran dengan sikap Laura sekarang.
"Mulai sekarang, panggil aku Lala. Karena nama itu khusus untuk orang-orang terdekat Lala saja. Dan itu juga peraturan ketiga di surat perjanjian itu kan."
"Kau ..." Tunjuk Magma ke wajah Laura. "Jangan harap aku bisa mencintaimu setelah kau merebut perusahaan ku!" geram Magma di sela-sela giginya yang menggertak marah.
"Aku menikahimu demi perusahaan ku!!" lanjut Magma.
"Ya, Lala tau. Perusahaanmu itu jembatan yang membuat kita menikah sekarang. Iya kan? Dan yang membangun jembatan itu Lala, Mommy Bayuni dan Lail." Laura tersenyum kembali.
__ADS_1
Silahkan tersenyum sesuka hatimu. Aku akan membuatmu hidup seperti di Neraka, Laura.
Bersambung