M & L

M & L
#Merindukannya


__ADS_3

Mereka masih di Spanyol, Magma sudah pergi ke kantornya sementara Laura sedang makan apel sambil melihat beberapa pelayan sedang mencuci piring dan membersihkan dapur.


Dia merasa bosan karena tidak ada Magma di mansion, tidak ada yang bisa di ajak mengobrol. Ya, walaupun obrolan dengan Magma lebih banyak di bentak. Tapi untuk Laura, mendengar suara Magma saja sudah membuat hatinya seakan di hinggapi ribuan kupu-kupu yang menggelikan.


Laura sempat ingin ikut ke kantor Magma. Tapi Magma bersikeras melarang, sudah beberapa hari ini belum juga ada pemotretan dari Mahavir group untuknya.


"Pagi say ..." Jeni datang menghampiri Laura yang tengah berdiri di dekat pantry.


Laura menoleh kemudian berdecak melihat penampilan Jeni pagi ini, dia memakai celana sangat pendek dan kaos hitam yang ketat, sekarang Jeni punya buah d*da.


"Pasti balon," gumam Laura sambil berjalan menuju sofa.


Jeni menghela nafas. "Aku kesini, dia kesana ... bete deh ah."


Jeni pun berjalan menghampiri Laura dan duduk di sampingnya.


"Kapan pulang?"


"Apa itu?"


Mereka bertanya bersamaan.


"Kalau Magma pulang, Lala juga pulang."


"Loh, tidak bisa begitu La. Kalau dia tidak pulang lagi ke Indo bagaimana?'


"Itu masalahnya Jen ... kalau dia tidak pulang bagaimana, aku benar-benar harus menikah dulu dengan dia agar dimanapun dia berada aku pun ada di sisinya."


"Astaga Lala ..." Jeni tercengang dengan ucapan Laura sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"La ih, Lala pikir Tuan Arsen bakal merestui Lala gitu? Jeni yakin tidak akan!! Harimau Jantan dan macan betina tidak bisa menikah, La. Harus sejenis, Harimau jantan dan harimau betina, macan jantan dan macan betina. Begitu ..."


Laura sontak menoyor kepala Jeni. "Siapa yang kau bilang macan betina hah?" seru nya dengan wajah masam.


"Ya, Lala lah." Kata Jeni sambil mengusap-ngusap kepalanya dengan cemberut.


"Lagian, seperti tidak ada pria lain saja, huh!"


"Diamlah, kau tidak tau apa-apa dengan hati Lala!"


Jeni berdecak kemudian mengeluarkan kaca bundar di dalam saku celana nya lalu mematut dirinya di depan cermin tersebut untuk melihat wajahnya yang glowing dan bercahaya itu apakah make up nya luntur atau tidak.


Laura menoleh ke samping dan pandangan nya berhenti di buah d*da Jeni.

__ADS_1


"Ini balon ya ..."


"Eh astaga Lala!!" Jeni langsung memeluk dirinya sendiri dengan tatapan ngeri kepada Laura karena barusan Laura memegang buah d*da nya.


"Kau g*la, untuk apa pakai balon!!" Laura menggeleng tak habis pikir dengan isi otak Jeni.


"Jeni mau operasi ah, La. Biar kaya Lucinta Luna ... Kan enah tuh, di puji-puji cantik terus punya buah d*da juga, body nya melengkung seperti gitar spanyol."


"Tapi ada satu yang tidak di miliki kau dan Lucinta Luna."


"Apa?" Jeni menoleh menatap Laura kembali.


Laura mendekatkan wajahnya berbicara sedikit berbisik. "Ra-him ..."


Laura pun pergi setelah mengatakan itu membuat Jeni menjerit tidak terima karena ucapan Laura seakan menghalangi niat Jeni yang ingin merubah dirinya sepenuhnya menjadi perempuan.


*


Di kamar Laura duduk di ranjang dan menelpon Magma tapi sudah dua kali pria itu tidak mengangkat telpon nya. Laura tidak tahu kenapa begitu merindukan pria itu, rasanya ingin selalu melihat wajah Magam di setiap detiknya.


Laura mencoba menelpon Magma untuk yang ketiga kalinya.


"Hm?" tanya Magma di kantornya.


"Apa?" ulang Magma.


"Tidak. Kapan pulang?"


"Tidak tau."


"Kenapa tidak tau?" tanya Laura.


"Apa urusanmu!!"


"Ya tidak ada sih. Aku hanya ingin bertemu dengan mu saja, sudah dua jam kau pergi dari mansion ..." kata nya dengan senyuman manis terlukis di wajahnya.


Magma menghela nafas. "Lebih baik kau pulang sekarang!!"


Tut.


Laura memandangi ponselnya dengan mengerucutkan bibirnya. Magma malah mematikan panggilan telpon nya.


*

__ADS_1


Siang hari Magma kembali ke mansion untuk makan siang karena Bayuni terus menelpon dan meminta Magma makan siang di mansion.


Baru saja hendak masuk, Laura sudah menghadang Magma di depan pintu dengan tersenyum menyengir memperlihatkan gigi putihnya.


"Apa?" tanya Magma dengan wajah masam nya.


"Sini duduk dulu ..." Laura menarik tangan Magma, Magma segera menghempaskan nya.


"Kau ini apa-apaan!!"


"Duduk di sini. Sebentar saja ..." Laura menunjuk salah satu kursi.


"Untuk apa?" tanya Magma.


"Astaga Magma ... banyak bicara sekali, aku hanya menyuruhmu duduk."


Dengan menghela nafas kasar akhirnya pria itu pun duduk di kursi. Menggulum senyum di wajahnya Laura berjongkok di kaki Magma untuk membukakan sepatu pria itu.


"Kau mau apa!" Magma menepis tangan Laura yang hendak membuka sepatunya.


"Membuka sepatumu."


"Tidak perlu!" Magma kembali menepis tangan Laura.


"Sudah biar aku saja."


"Jangan!" sergah Magma. Mereka saling menepis satu sama lain.


"Akhh!!"


Magma yang geram akhirnya mendorong tubuh Laura sampai membuat perempuan itu jatuh tersungkur ke belakang.


"Lala ..." jerit Jeni berlari menghampiri Laura lalu membantu perempuan itu untuk bangun. Magma melepas sendiri sepatunya, Jeni menatap geram pria itu dengan tatapan tajam.


"Eh, Lala tidak pernah ya membuka sepatu orang lain!! kau yang pertama, bayangkan saja model terkenal seperti Lala duduk di bawah hanya untuk membukakan sepatu orang lain!"


Magma tidak menjawab. Dia malah melengos begitu saja setelah melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal khusus untuk di dalam mansion.


Laura menghembuskan nafas melihat kepergian Magma.


"Lala tidak apa-apa?" tanya Jeni yang tengah merangkul perempuan itu. Laura menggeleng lemah.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2