M & L

M & L
Lalita membantu merawat Tripel M


__ADS_3

Lalita sering datang ke mansion Magma untuk membantu Laura menjaga tripel M. Sebab ketika Kenzo tengah mengurus restaurant nya, Lalita bosan sendirian di rumah dan butiknya sudah banyak para pekerja yang menjaga membuat perempuan itu tidak harus pergi ke butik setiap hari.


Lalita tidak lagi merasa kecil hati karena belum hamil sebab kembarannya itu meminta Lalita menganggap ketiga anaknya sebagai anak Lalita juga.


Satu tahun berlalu, tripel M sudah menunjukan keaktifan yang luar biasa. Marvel pandai berjalan walaupun sesekali jatuh, Marsel baru bisa merangkak. Kedua anak itu juga sudah pandai berbicara walaupun tidak jelas dan Melvin satu-satunya yang paling berisik, berteriak dan tertawa paling kencang.


"Ih lucunya ..." seru Lalita mengambil Marsel yang merangkak mendekati bola yang ada di ujung ruangan kamarnya.


"Tuh ... Tuh ..." Marsel menunjuk bola yang di inginkannya membuat Lalita terkekeh.


"Oh Arsel mau bola ya. Tunggu biar aunty ambil ya."


Lalita mendudukan Marsel dan mengambil bola tersebut.


"Sini maju sini," seru Lalita berdiri tak jauh dari tempat Marsel duduk.


"Jalan dong. Jangan merangkak gitu," ujar Lalita kala melihat Marsel merangkak ke arahnya. Marsel ini baru bisa berjalan selangkah dua langkah berbeda dengan Marvel yang terkadang anak itu berlari kencang, walaupun ujung-ujungnya jatuh juga.


"No ... No ..." seru Marsel dengan mengangkat jari telunjuknya.


"Apa hm? Gamau jalan? Ih kok males belajar sih Arsel."


"Cel ... Cel ..." Marvel yang baru di turunkan dari gendongan Laura langsung berlari menghampiri Marsel sambil terus memanggil kembarannya yang diam dengan posisi merangkak.


"Cel ... Cel ..."


DUG


"Astaga!" Lalita langsung membawa Marvel yang tidak sengaja jatuh menimpa badan Marsel dan Laura langsung menggendong Marsel yang menangis keras.


"Sayang ... Sayang cup cup cup ..." Laura menimang-nimang Marsel dengan mengelus-ngelus punggungnya. "Marvel engga sengaja. Iya kan Marvel?"


Laura menatap Marvel yang tengah melayangkan wajah datarnya mendengar tangisan Marsel. Hal itu membuat Laura tertawa sebab wajah polos dan wajah merasa bersalah Marvel sangat lucu.


"Mii ... Mii ..."


Melvin berdiri di box bayi sambil melentangkan kedua tangannya meminta di gendong.


"La, dia udah bangun tuh," seru Lalita.


"Kau saja yang gendong. Marvel dudukan saja, dia tidak apa-apa kok."

__ADS_1


Lalita mengangguk lalu mendudukan Marvel karena Laura masih mencoba menenangkan Marsel yang masih menangis.


Lalita mengambil Melvin di box bayi. Di saat Marsel dan Marvel tidak mau tidur di box bayi lagi, Melvin justru sebaliknya. Tidak bisa tidur jika tidak di box bayi.


"Uuuu ... Bau acem," seru Lalita setelah mencium pipi Melvin. "Belum mandi ya. Mandi dulu yu ..."


"La, aku mandiin Melvin dulu ya."


"Oke," sahut Laura.


Melvin selalu mandi paling akhir dan paling jarang. Entah kenapa jika Melvin mandi, anak lelaki itu selalu menangis. Sepertinya Melvin tidak mandi karena tidak suka air.


Laura menghela nafas panjang ketika mendengar drama permandian telah di mulai. Lalita dan Melvin berdebat. Di mulai Melvin yang mau keluar dari kamar mandi dan Lalita menghalanginya.


Laura menghela nafas panjang mendengar itu kemudian menggelengkan kepala.


"Marvel sama Marsel makan dulu ya biar nanti Mommy tinggal suapin Melvin. Yuk."


Laura menggendong Marvel dan Marsel. Untung pinggangnya baik-baik saja setiap menggendong anaknya yang hanya bisa dua anak yang di gendong.


*


"Sayang Melvin dimana?"Tanya Magma yang kini berada di Spanyol. Magma menelpon lewat laptop di kantor.


"Huh, anak itu. Jam segini baru mandi."


"Ya. Entah menurut ke siapa. Dia malas sekali mandi tau," sahut Laura membuat Magma terkekeh.


"Beruntung dia punya wajah tampan jadi jarang mandi tidak masalah kan sayang."


"Huh, bau tau! Kau kapan pulang?" tanya Laura.


Sebenarnya dari awal Magma hendak membawa istri dan anak-anaknya untuk kembali ke Spanyol tapi orang tua dan mertuanya meminta Magma meninggalkan Laura dan tripel M di Indonesia sebab mereka ingin ikut merawat Tripel M.


"Aku belum tau sayang. Mungkin beberapa hari lagi, pekerjaanku banyak di sini."


"Huh kerja terus!" Laura menekuk wajahnya sementara Marvel dan Marsel tengah mengunyah makanan mereka sambil memegang robot mainan dan mobil-mobilan.


"Aku harus menyiapkan banyak aset untuk anak-anak kita. Siapa tau kita mau nambah lagi sayang." Magma mengedipkan sebelah matanya menggoda.


"Ish sudah tua masih genit!"

__ADS_1


"Daddy ... Dy dy ..." Seru Marsel melambaikan tangan ke arah ponsel Laura yang di simpan di meja.


"Hai bos. Sudah bisa berjalan bos?"


"Dia masih tetap suka jatuh," sahut Laura seraya kembali menyuapi Marvel.


"Daddyyyy!" teriak Marvel kencang kemudian terbatuk sebab makanan di mulutnya belum tertelan habis.


Laura dan Magma tertawa. Kemudian Melvin terlihat berlari mendekati Ibu dan dua kakaknya walaupun harus beberapa kali jatuh.


"Melvin pakai baju dulu ..." teriak Lalita berlari mengejar Melvin.


Melvin tertawa renyah lalu memeluk Laura.


"Wouw ... Wouw ... tuyul darimana itu tidak pakai baju," seru Magma di telpon melihat Melvin menempel kepada Laura.


"Pakai baju dulu sayang."


Laura menyimpan mangkuk makanan di tangan nya untuk fokus dulu kepada Melvin. Ia tidak sadar jika mangkuk makanannya di perebutkan Marsel dan Marvel sampai nasinya tumpah kemana-mana.


"Astaga Marvel, Marsel!" hardik Lalita melihat kekacauan yang di buat Marsel dan Marvel.


Laura sontak melebarkan matanya. Lalita langsung membawa Melvin.


"Ya ampun kalian ini ya ..." Laura mengambil mangkuk makanan di tangan Marsel. Magma yang melihat itu tertawa, tingkah putra-putranya selalu membuat Laura marah.


"Mamam ... Mamam." Marvel memasukan sendok kosong ke mulutnya.


Melvin tertawa sebab Lalita memakaikan baju sambil menggelitik tubuhnya. Tangan Marsel yang tidak bisa diam malah semakin mengotori karpet memainkan nasi yang berantakan itu.


Laura mendengus kasar. "Marsel!"


"Jangan di marahi sayang. Mereka hanya anak kecil."


"Enak sekali bicara. Coba kau yang merawat mereka ..." sahut Laura sambil mengelap tangan nya dengan tissue.


"Sayang kau tinggal suruh pelayan untuk membereskannya. Apa susahnya? Mereka bekerja denganku untuk membantumu ..."


"Aku tidak mau anak-anakku dekat dengan pelayan kalau mereka keseringan melihat pelayan. Mereka bukan bagian dari keluarga, aku tidak terlalu percaya membiarkan mereka berada di dekat anak-anakku."


Laura, Lalita dan tripel M selalu diam di lantai dua mansion. Dan para pelayan lebih banyak di lantai bawah.

__ADS_1


"Yasudah. Kalau itu mau mu ..."


Bersambung


__ADS_2