M & L

M & L
Akan melahirkan


__ADS_3

Laura dan Magma baru keluar dari mall dengan Magma yang mendorong troli belanjaan berisi perlengkapan bayi seperti biasa.


"Lita ..." mereka menghentikan langkahnya ketika melihat Lalita dan Kenzo akan masuk ke mall.


"Lala ..." Mata Lalita beralih menatap perut Laura yang cukup besar. "Kau masih bisa berjalan di usia kandunganmu yang sudah sembilan bulan itu."


"Ah, aku bersyukur masih cukup kuat berjalan Lita," sahut Laura dengan mengelus perutnya.


Magma hanya diam sebab tidak tahu harus bertanya apa kepada Lalita. Jika bertanya soal Lalita sudah hamil atau belum pasti Laura akan marah karena berpikir Magma tidak bisa menjaga perasaan saudara kembarnya itu.


Begitupula dengan Kenzo, pria itu hanya diam sambil mengenggam tangan istrinya.


"Sudah menyiapkan nama untuk anakmu?" tanya Lalita.


"Magma yang sudah menyiapkannya," sahut Laura sambil tersenyum.


"Ah baguslah ... Kalau begitu aku dan Kenzo masuk dulu."


Laura mengangguk, Lalita dan Kenzo berjalan melewati Laura dan Magma.


"Dia itu tidak punya mata dan mulut? Menatapku tidak, berbicara kepadaku juga tidak!"


"Siapa?" tanya Laura.


"Si tukang masak itu!"


Laura berdecak. "Kalau dia bicara padamu, kau bilang dia so akrab. Dia tidak bicara padamu, kau bilang dia tidak punya mulut. Maumu apa?"


"Tidak tau lah sayang, aku selalu kesal melihat wajahnya!" Magma mendorong trolinya membuat Laura menggelengkan kepala dengan sikap Magma.


*


Sesampainya di mansion, beberapa anak buahnya membawakan semua kantung belanjaannya menuju kamar anak yang berada di samping kamar Magma dan Laura.


Magma lah yang akan menata semua belanjaannya tersebut. Dari mulai memasukan pakaian ke lemari, menyimpan sepatu ke tempatnya, menata mainan di beberapa meja. Sementara Laura hanya duduk di ranjang sambil tersenyum mengelus perutnya.


"Lihat Daddy kalian. Pintar sekali kalian membuat dia kerepotan sendiri," gumam Laura seraya terkekeh.

__ADS_1


Magma menghela nafas panjang dengan memercak pinggang setelah menyelesaikan mainan yang sudah tersusun rapih di meja. Akhirnya selesai juga menata semua mainan itu.


"Sayang, ini stok mainan untuk sepuluh tahun ke depan juga bisa. Ini sudah sangat banyak."


"Setiap harinya orang-orang membuat mainan baru yang lebih bagus dan lebih canggih. Tidak mungkin kita tidak membelinya untuk mereka." Laura kembali mengelus perutnya dengan tersenyum.


"Apa aku akan miskin karena membeli mainan." Magma berjalan mendekati istrinya kemudian duduk dan ikut mengelus perut Laura.


*


Malam harinya Laura tidak bisa tidur, ia terus bergerak tak nyaman di atas ranjang. Sejak usia kandungan tujuh bulan perempuan itu memang sering sulit tidur, untungnya Magma selalu menemani istrinya.


"Mau aku buatkan susu?" tanya Magma.


"Tidak."


"Teh hangat?"


"Tidak."


"Atau makanan?"


"Lalu kau mau apa sayang?" tanya nya sambil mengelus perut Laura yang terbaring di ranjang.


"Perutku tidak enak. Kenapa ya?"


"Tidak enak bagaimana?" Wajah Magma berubah cemas.


"Mules. Tapi aku ---"


"Kita ke Rumah Sakit sekarang," potong Magma.


"Untuk apa?"


"Sayang, mungkin kau akan melahirkan!"


"Hari perkiraan lahir dari Dokter bukan hari ini."

__ADS_1


"Bisa saja Dokter salah. Bisa saja lebih cepat."


"Ah besok saja lah."


Magma berdecak, beranjak dari ranjang dan mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan kamarnya.


"Ayo sayang jangan membantahku."


Laura menekuk wajahnya ketika melihat wajah serius suaminya yang itu artinya tidak bisa di bantah lagi.


Akhirnya perempuan itu duduk di kursi roda di bantu Magma. Magma langsung mendorong kursi roda tersebut keluar dari kamar.


Laura menunduk kala merasakan ada sesuatu yang membasahi kakinya.


"Ketubannya sudah pecah," gumam Laura.


"Hah?" Magma spontan berheni mendorong kursi rodanya lalu mencoba mengecek kaki Laura dengan berjongkok di depan perempuan itu.


"S-sayang?" Magma yang panik langsung mendongak menatap Laura ketika ia mengelus kaki Laura yang ternyata memang benar air ketubannya sudah pecah.


*


"DOKTER! DOKTER! ISTRIKU MAU MELAHIRKAN!"


Magma terus berteriak ketika keluar dari mobil sementara Laura tengah meringis kesakitan di dalam mobil. Beberapa suster langsung membawa brankar menuju mobil Magma.


"Tenang sayang ..." Magma menggendong istrinya keluar dari mobil dan menidurkannya di brankar tersebut.


Mereka langsung mendorong brankar itu menuju ruang operasi sesar. Ketika Laura di bawa ke ruangan tersebut, Magma diam sejenak di depan ruangan untuk menelpon orang tua dan mertuanya.


Ia mondar-mandir tidak jelas dengan menggaruk kepalanya frustasi. Malah dirinyalah yang ketakutan saat ini.


"Tuan, Nona Laura memanggil anda." Seorang suster berujar kepada Magma.


"Lima menit, aku menelpon keluargaku dulu! Dokter sedang menyiapkan peralatannya kan?"


Suster tersebut mengangguk. "Iya Tuan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2