
Laura menunggu dengan kesal di sebuah taman. Entah mengapa Magma malah mengajaknya bertemu di taman malam-malam setelah mengancam Kenzo, Farel dan Aris.
Laura mendengus kasar, berdiri mengedarkan pandangannya, apa suaminya main-main dengan nya, sudah setengah jam menunggu pria itu belum datang. Laura berdecak menatap jam di pergelangan tangan nya. Setengah jam lagi, kalau Magma belum datang ia akan kembali ke apartemen.
Kemudian seseorang memeluk dari belakang.
"Maaf aku terlambat, sayang ..."
Laura yang kaget langsung berbalik dan Magma tersenyum sambil melentangan kedua tangan nya. "Tidak merindukanku Nona?"
"Jangan berani mengangguku, Ken." ujar Laura menunjuk wajah Magma sebagai peringatan. Laura sengaja salah memanggil nama untuk membuat Magma marah.
"Ken?" alis Magma terangkat naik, ia menurunkan kedua tangan nya dengan senyuman memudar di wajahnya. "Kau panggil dia Ken?"
"Ya, kenapa?" tanya Laura dengan tersenyum miring.
"Apa dia memanggilmu juga Lala?" tanya Magma.
"Ya."
Magma mengerutkan dahinya dengan kesal. "Bukankah kau bilang Lala itu seperti panggilan sayang dariku untukmu?"
"Ya, dan Lala juga panggilan untuk orang-orang terdekatku!" sahut Laura dengan tangan bersedekap dada
"Kau menganggap Ken orang terdekatmu?" tanya Magma dengan kesal.
"Ya, tentu saja." sahut Laura enteng.
Magma menghela nafas kasar.
"Pulang!" Magma menarik tangan Laura tapi Laura menghempaskan nya.
"Jangan berani menitahku seperti itu lagi! karena aku tidak akan pernah tunduk kepadamu lagi!!"
"Aku menyuruhmu untuk pulang, Lala!!"
"Dan aku tidak mau!" sahut Laura mengangkat kedua bahunya.
Magma merogoh ponsel di sakunya. "Tembak dia seka ----"
"Jangan!!" sergah Laura.
Magma menurunkan kembali ponselnya dengan tersenyum.
"Kenzo ada di apartemen nya, apa maksudmu menembak dia."
"Anak buahku ada di dekat apartemen juga," sahut Magma membuat Laura berdecih.
"Cih, anak buah yang mana. Seperti mereka tunduk denganmu saja ..." Laura berjalan melengos melewati Magma.
Magma tersenyum kemudian menyusul istrinya. Pria itu berjalan lebih cepat lalu membukakan pintu untuk istrinya itu.
Laura mengernyit kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Magma menutup pintu, mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi hendak membawa Laura ke bandara untuk pulang ke Spanyol.
*
Sesampainya di bandara, Magma buru-buru keluar dari mobil, berlari untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Lagi-lagi Laura mengernyit heran dengan sikap Magma yang membukakan pintu untuknya.
"Aku bisa sendiri!" seru Laura keluar dari mobil.
Magma menarik pinggang Laura agar berjalan lebih dekat dengannya, sementara mobilnya tadi di urus oleh Wiski.
"Bisa tidak jangan seperti ini!" Laura menepis tangan Magma dari pinggagnya.
Tapi lagi, Magma melingkarkan tangan nya di pinggang Laura. Laura menghentikan langkahnya, mendengus kasar menatap Magma. "Aku bilang jangan seperti ini!"
"Oke-oke, aku minta maaf." Magma mengalah mengangkat kedua tangan nya.
Ponsel Laura berdering, panggilan masuk dari Kenzo. Magma langsung merebut ponsel Laura dan mengangkatnya.
"Dia sudah kembali bersamaku, jangan hubungi dia lagi!!"
Panggilan di matikan. Laura menggelengkan kepala beberapa kali dan kembali berjalan.
*
"Dia sudah kembali dengan suaminya kan, bagus lah ..." seru Aris sambil menonton tv.
Kenzo menatap ponsel di tangan nya.
"Aku suka caramu, bos. Ya walaupun belum move on sepenuhnya tapi kau tidak terlalu mengejar-mengejar dia."
"Kan masih ada kembaran kak Laura." seru Farel yang berjalan dari arah kamar.
Kenzo berdecak menatap adiknya lalu beranjak dari sofa membuat Aris dan Farel saling menatap.
"Kakakmu tuh ..." seru Aris.
*
Di dalam pesawat, Laura hanya duduk sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Ish! bisa diam tidak!" kesal Laura ketika Magma tiba-tiba mengelus pahanya.
"Dari pada kau diam terus, mendingan kita melakukan sesuatu. Ada kamar di sini, mau?" Magma tersenyum menggoda.
Laura melebarkan matanya. "Kau benar-benar pemain wanita ya!!"
"Iya, wanitanya hanya satu sekarang. Kau saja." Magma mencolek dagu Laura membuat Laura langsung menggosok dagunya sendiri.
"Jangan lupakan aku pernah di anggap pembantu olehmu!!"
"Ah, aku menyesal sayang ... setelah masuk kamar, kau akan merasakan rasanya jadi istriku. Ayo ..." Magma menarik tangan Laura tapi lagi-lagi Laura menghempaskan nya.
Magma menghela nafas. "Tolong jangan di balik lah, dulu kau yang mau tidur denganku. Kenapa sekarang tidak?"
Laura mendekatkan wajahnya berbicara dengan penuh penekanan. "Aku sudah tidak berselera denganmu!!"
"Kan belum di coba," sahut Magma tersenyum dengan mengedipkan matanya.
"Ck. Dasar pria tua!" Laura kembali menatap ke luar jendela.
"Tua-tua begini membuatmu tergila-gila." sahut Magma dengan bangga.
"Itu dulu!"
__ADS_1
"Jangan gengsi ..." Magma lagi-lagi memegang paha Laura. Laura bergerak menjauh.
"Bisa tidak jangan memegang tubuhku seenaknya!"
"Kalau bukan aku yang memegang, siapa lagi?" Magma menaikan alisnya.
"Kau ... kau bisa diam tidak?" seru Laura dengan frustasi.
"Aku suka berdebat denganmu ..." Magma mencubit gemas hidung Laura. "Kau jadi Laura lebih menyenangkan membuatku tertantang sayang ..." Magma mendekatkan wajahnya.
Matanya langsung fokus ke bibir Laura. Laura yang mengerti arah pandang suaminya langsung membekap mulutnya sendiri.
Laura sebenarnya ingin membuat Magma mengejar-ngejar dirinya terlebih dahulu. Ia ingin suaminya merasakan apa yang ia rasakan dulu. Walaupun dalam hati, Laura senang melihat Magma yang sekarang.
Tapi ia tidak boleh mudah tergoda lagi dengan Magma.
"Kau bilang tubuhku haram di sentuh olehmu karena keturunan De Willson. Sekarang kau mau apa?" seru Laura masih membekap mulutnya.
"Kau hanya kerabatnya saja jadi tidak terlalu haram. Yang haram tubuh si musim dingin dan musim panas itu!" sahut Magma dengan menarik ujung bibirnya tersenyum di depan wajah istrinya yang masih menutup mulut.
"Kau mau mencium Winter dan Summer?" tanya Laura.
Magma berdecak dengan wajah datar membuat Laura terkekeh di balik tangan nya.
Kemudian pria itu melingkarkan tangan di pinggang Laura lalu menarik pinggang perempuan itu tapi spontan Laura mendorong tubuh Magma.
"Kau mau apa?!"
Magma menghela nafas. "Aku tau kau ingin dekat denganku tapi kau masih dendam denganku. Iya kan?"
"T-tidak." Laura menggeleng.
"Baik, mulai sekarang. Aku akan menebus semua kesalahan ku, aku akan beres-beres di mansion, aku yang akan memasak, mencuci baju, mencuci piring, aku yang akan memijatmu setiap malam, aku akan melayanimu dengan sepenuh hati. Bagaimana, deal?" Magma mengulurkan tangan nya.
Laura menatap wajah Magma lalu beralih menatap tangan pria itu. "Aku masih belum setuju."
"Alasannya?" tanya Magma.
"Ya belum setuju saja," sahut Laura.
"Ah, kau masih gengsi. Lihat saja, kau akan semakin tergila-gila kepadaku."
"Jangan terlalu berharap!"
"Itu akan terjadi."
"Tidak!"
"Akan terjadi!"
"Aku bilang tidak akan!"
"Mari berhenti berdebat Nona L. Lebih baik kita ke kamar sekarang! Aku sudah tidak tahan kalau berdebat denganmu seperti ini!"
Laura tersenyum miring. "Rasakan!"
Bersambung
De Willson series 4 (Reagan Louis De Willson) Udah up satu bab. Di favoritin dulu ya hehehe. Bab dua dan seterusnya menyusul setelah cerita ini selesai ❤
__ADS_1
Judul : Dosenku seorang mafia