
Setelah bernegosiasi cukup lama dengan dua anak buah Magma akhirnya gerbang di buka. Laura sudah memberikan tanda tangan, foto bersama dan menjamin nyawa mereka selamat dari ancaman Magma walaupun mereka membuka gerbang untuk Laura.
Laura dan Jeni berjalan menuju pintu utama dengan Jeni yang terus tertawa geli.
"Hahaha ... otot saja besar, tapi ternyata Lala lovers. Jeni harus berusaha buat dapetin nomor mereka pokoknya, La. Semangat Jeni!!" Jeni mengepalkan tangan nya di udara memberi semangat untuk dirinya sendiri. Laura hanya menggelengkan kepala melihat Jeni yang dari tadi meminta nomor dua anak buah Magma yang berotot.
Lala lovers adalah nama fans bar-bar Laura. Setiap kota atau setiap Negara akan ada pemimpin untuk Lala Lovers, Pemimpin itu lah yang mengatur anggotanya untuk tidak terlalu bar-bar ketika bertemu dengan Laura dan berjanji akan selalu membela dan mengidolakan Laura apapun yang terjadi.
Jeni mengetuk pintu kemudian seorang pelayan perempuan datang membukakan pintu. Jeni pun menghela nafas.
"Apalagi sekarang ... tadi di hadang dua pria, sekarang satu wanita, huh ..."
"Dimana Magma?" tanya Laura tidak mau basa-basi lagi.
"Tuan Magma ada di kamarnya. Nona ini ..." Pelayan perempuan itu menatap dari atas sampai bawah, meneliti siapa kira-kira perempuan di depan nya ini. kemudian ia membulatkan mata.
"Astaga Nona Laura ..."
"Aku mau bertemu dengan Magma. Bisa?" tanya Laura dengan ramah karena tidak mau perempuan di depan nya ini berpikir Laura memiliki sikap jutek lalu membuat artikel yang aneh-aneh tentang dirinya yang akan merusak cita dirinya sebagai seorang model.
Karena biasanya wanita lebih menyebalkan dari pada pria. Apa-apa selalu di buat snapgram atau tweet untuk menghancurkan karir Laura. Laura harus lebih hati-hati.
"S-saya coba tanya Tuan Magma dulu ya ... tapi, boleh tidak saya minta foto?" tanya nya dengan menggulum senyum di wajahnya.
"Boleh, tapi biarkan aku masuk dulu ya. Kau tau kan, Yura itu menikah dengan sepupu ku, Winter ... jadi aku bukan orang asing untuk Magma ..."
Jeni mengangguk setuju dengan ucapan Laura.
Setelah berpikir beberapa detik akhirnya pelayan itu mengangguk dan membuka pintu lebih lebar mempersilahkan Laura masuk.
Laura tersenyum senang. "Terimakasih ya ..." ucapnya sambil menepuk pelan pundak pelayan perempuan itu lalu berjalan menuju tangga.
"Eh tunggu ..." Laura menghentikan langkahnya. Jeni pun ikut berhenti.
Laura kembali menoleh. "Tuan Benjamin dan ..."
"Mereka sudah tidur Nona ..." ucap pelayan perempuan tersebut.
__ADS_1
Laura tersenyum lega. "Bagus lah ... tolong satu kamar untuk asisten ku ini ya." Laura menunjuk Jeni kemudian kembali berjalan menaiki anak tangga.
Jeni berteriak dengan suara nya yang tertahan karena takut Tuan Benjamin bangun. Jeni kemudian mendengus kasar melihat kepergian Laura menuju kamar Magma.
Tidak habis pikir kalau sampai Laura tidur di kamar Magma.
*
Magma keluar dari kamar mandi dengan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil kemudian menyampirkan handuk itu di atas kursi.
Dia naik ke ranjang dengan boxer yang menutupi bawahan tubuhnya saja. Kedua tangan nya di lipat di bawah kepala sebagai bantalan. Ia menatap langit-langit kamarnya yang kosong.
Semenit, lima menit, sepuluh menit perlahan Magma menutup matanya dan terlelap.
Lemari terbuka sedikit demi sedikit, Laura mengintip memastikan jika Magma sudah tidur. Kemudian senyumnya merekah perlahan, tidak sia-sia ia masuk ke dalam lemari untuk sembunyi dari Magma.
Dengan langkah mengendap-ngendap, ia berjalan setengah membungkuk mengitari ranjang Magma kemudian naik perlahan-lahan ke atas ranjang tepat di samping kiri Magma.
Di tatapan nya sangat dalam pria yang tengah tertidur di sampingnya itu. Laura menggulum senyum di wajahnya, satu ranjang berdua dengan Magma. Ini akan terjadi di masa depan, pikir Laura.
Laura terkekeh geli ketika membayangkan apa saja yang akan terjadi di ranjang kalau tidur berdua bersama Magma.
Magma menggerakan tubuhnya ke samping tapi ia merasa ada yang aneh dengan tangan nya. Tangan nya seperti berada di atas sesuatu yang empuk tapi bukan kasur.
Perlahan Magma membuka mata kemudian ia mendongak perlahan dan sontak matanya melebar sempurna ketika sadar tangan nya berada di atas buah d*da Laura.
"LAURA!!" Sentak Magma seraya bangun dari tidurnya. Dia sedikit menjauh dari posisi tidur Laura.
"Bangun kau Laura!" Magma dengan kesal memukul paha Laura dengan bantal karena perempuan itu masih tertidur.
Beberapa kali Magma dengan kesal memukul paha Laura menggunakan bantal akhirnya perempuan itu mengerjapkan matanya beberapa kali sambil meregangkan otot-ototnya.
Magma menghela nafas kasar, bukannya langsung bangun perempuan itu malah seenaknya meregangkan otot.
Perlahan Laura duduk lalu menoleh ke samping, ia tersenyum dengan mata setengah terbuka membuat Magma mengernyit heran.
"Ini tidurku yang paling nyenyak ..." ucap Laura dengan suara serak khas orang bangun tidur kemudian ia menguap.
__ADS_1
"Berapa jam aku tidur di sini?" tanya nya.
Kemudian Magma melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul lima pagi, ia pun menghela nafas panjang.
"Kenapa kau ada di sini, Laura? siapa yang memberitahu alamat mansion ku dan siapa yang mengizinkanmu masuk ke mansion ku hah?!" sentak Magma memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Laura.
Laura bukannya menjawab dia malah memandangi otot-otot di tubuh Magma dengan terpesona. Apalagi Magma hanya memakai boxer saja.
Magma yang menyadari tatapan Laura segera menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Buanglah tatapan menjijikanmu itu, Laura!!"
Laura terkekeh. "Jam berapa biasanya kita sarapan?" tanya Laura setelah cukup sadar dari tidurnya.
"Sarapan?" satu alis Magma terangkat naik.
"Kau bukan tamu ku dan kau mau sarapan di sini? setelah masuk ke mansion orang sembarangan hah? kau ini sudah di pecat, sekalipun kau masih bekerja denganku, kau tidak bisa masuk ke kamarku seperti ini Laura!!" geram Magma.
"Di mansion ku ini ada orang tuaku---"
"Bilang saja aku bertamu semalam ketika mereka sudah tidur, apa susahnya!" potong Laura.
Magma berdecak, Laura benar-benar tidak mengerti maksud ucapan nya.
"K-kau tidak melakukan apapun kepadaku semalam kan?" Laura memeluk tubuhnya sendiri.
"Hah?" Magma mengerutkan dahi nya bingung. Dia yang masuk dia yang ketakutan.
"Hahaha bercanda, Magma! Sekalipun kau melakukan sesuatu kepadaku, aku sangat ikhlas. Dengan begitu ..." Laura mengulurkan tangan nya hendak menyentuh Magma dengan senyuman menggoda di wajahnya tapi Magma segera menepisnya.
"Astaga Magma ... kau takut denganku?" Laura menahan kedutan di ujung bibirnya agar tidak tertawa.
"Aku tidak takut denganmu aku hanya jijik!" sahut Magma di sela-sela giginya yang menggertak marah.
Laura mendekatkan wajahnya ke arah Magma. "Kau melihatku seperti sampah saja Magma, kalau pun aku sampah ... aku ini sampah yang ber-ki-lau ..."
Magma mendorong kening Laura menjauh dengan jari telunjuknya. "Cerna ucapan ku dengan baik Nona L. Kau sudah di pecat!"
__ADS_1
Bersambung