M & L

M & L
#Bayinya menendang


__ADS_3

Makan malam mereka kali ini Magma yang memasak. Dia berjibaku di dapur sendirian, sesekali pria itu membuat cemilan kecil untuk mertua nya yang tengah menonton tv. Dia juga membuat beberapa minuman, sementara istrinya masih tidur di kamar.


Sebenarnya Magma juga kelelahan apalagi jarak Spanyol ke Indonesia sangat jauh, walaupun ia tidur selama di pesawat tapi rasanya berbeda jika tidur di kamar.


Magma menghidangkan semua masakan nya di atas meja. Hidangan yang ia masak berbagai macam, ada yang dari Spanyol, ada juga makanan Indonesia.


Laura menuruni anak tangga dengan rambut setengah basah, ia baru saja selesai mandi. Laura menautkan alisnya kala melihat suaminya sibuk sendirian di meja makan sementara Ayahnya sedang sibuk dengan laptop di atas pahanya dan sang Ibu, Miwa sedang belanja tas di onlineshop.


"Siapa yang memasak?" tanya Laura sambil menarik kursi dan duduk di kursi tersebut.


"Aku," sahut Magma dengan tersenyum. Ia melayani Laura seperti pelayan yang melayani dengan baik Tuan nya. Magma menuangkan air ke gelas kemudian menyimpan nya di depan Laura.


Pria itu pun duduk di samping istrinya. "Panggil orang tuamu, kalau aku yang memanggil mereka mendadak tuli," seru Magma dengan pelan.


Laura berdecak. "Berani sekali bilang orang tuaku tuli!"


Magma tertawa lalu berbisik. "Sayang, kita harus cepat mempunyai anak. Kalau tidak, orang tuamu akan tahu kalau kita berbohong."


"Kau yang berbohong bukan aku!"


"Tapi kau juga tidak mau berpisah denganku kan? itu sebabnya kau tidak bisa mengelak ketika aku berbohong ..." Magma tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Cih, menyebalkan!"


"Mom ... Dad ..." teriak Laura membuat orang tuanya menoleh. "Makan ..."


"Lala saja dulu, Mommy tidak berselera." Sahut Miwa dengan sinis menatap Magma.


"Ayolah, makanan sudah jadi. Banyak seperti ini."


"Ayo makan saja," ajak Arsen kepada istrinya.


Dengan tidak bersemangat Miwa pun mengikuti langkah suaminya ke meja makan. Arsen dan Miwa duduk di depan Laura dan Magma.


Magma tersenyum menyimpan dua gelas air di depan mertuanya itu.


"Untung putriku sedang hamil. Kalau tidak, aku sudah menyuruh kalian berdua berpi ---"


"Silahkan dimakan, Dad." potong Magma yang tidak suka jika Ayah mertuanya membahas perpisahan.

__ADS_1


Arsen berdecak dan mereka berempat pun makan bersama dalam keheningan. Walaupun Magma sudah beberapa kali mencoba mencairkan suasana yang hening ini, tapi Arsen dan Miwa tetap diam memilih makan saja.


Selesai makan, Magma mencuci piring membuat pria itu di bicarakan diam-diam oleh kedua mertuanya.


"Kenapa dia mau cuci piring?" tanya Miwa kepada putrinya.


"Rasa bersalah kepadaku, Mom." Kata Laura sambil memakan pisang.


"Baguslah, kalau dia merasa bersalah. Bertanggung jawab dengan kesalahannya sendiri, memang harus begitu sebentar lagi kan mau jadi Ayah."


Miwa spontan berhenti mengunyah mendengar perkataan Ayahnya. Menelan pisang di mulutnya terasa sulit tiba-tiba, bagaimana kalau kedua orang tuanya tahu Miwa belum hamil.


"Eh La, kapan mau cek kandungan? harus sering-sering di periksa, agar tahu pertumbuhan janinmu," sambung Miwa semakin membuat Laura malas mengunyah pisangnya lagi. Ia menyimpan pisangnya di piring.


"Aku sedang malas mom," sahut Laura lalu mengambil segelas air untuk menyembunyikan wajah kebohongannya.


"Rasa malas waktu hamil memang wajar, tapi tetap harus rutin di lihat perkembangannya. Sudah berapa minggu kehamilanmu?" tanya Miwa dengan tersenyum menunggu jawaban putrinya.


"T-tiga minggu hehe ..."


"Ah baguslah ..." Miwa menghembuskan nafas lega.


"Eum ..." Laura mengusap tengkuk lehernya, ia sedang berpiki. "Kemarin, kemarinnya lagi."


"Bagaimana kata Dokternya?" tanya Miwa kemudian.


"K-kata Dokter ---- Aduuhhh." Laura tiba-tiba memegang perutnya, memekik kesakitan.


"Lala, Lala kenapa?" Miwa dan Arsen langsung menghampiri putrinya dengan khawatir.


Magma yang sedang mencuci piring langsung berlari menghampiri Laura. "Sayang kenapa ..."


"Perutku sakit aw." Laura menatap Magma dengan wajah kesakitan tapi perempuan itu mengedipkan sebelah matanya, isyarat berbohong.


Magma menghela nafas mengerti. "Ayo ayo ... ke kamar."


"Hati-hati," seru Miwa melihat Magma menggendong Laura ke kamar.


*

__ADS_1


"Pelan-pelan ..." seru Arsen.


"Bagaimana ini," bisik Laura ketika Magma hendak menidurkannya di ranjang.


"Tidur saja!" sahut Magma pelan.


"Mom, telpon dulu Dokter --"


"E-eh jangan!" seru Magma dan Laura bersamaan.


"Kenapa?" tanya Miwa heran menatap bergantian Magma dan Laura.


"Perutku sudah tidak sakit lagi Mom hehe."


"Tadi bayinya mungkin menendang ya sayang, jadi sakit?" seru Magma dengan tersenyum.


"Menendang bagaimana? usianya baru tiga minggu, kau pikir anakmu ajaib sudah punya kaki!" seru Arsen sambil menggelengkan kepala.


"Anakku beda dari yang lain. Beda dengan anak curut itu! Iya kan sayang?"


"Siapa yang kau maksud anak curut?" tanya Miwa.


"Sudah-sudah!" geram Laura. "Aku ingin istirahat! Kenapa malah ribut!"


Arsen menghela nafas. "Yasudahlah, Lala yakin kan tidak mau di panggilkan Dokter?"


"Tidak Dad. Lala baik-baik saja sekarang, ngantuk saja. Hoamm." Laura menguap.


Arsen dan Miwa pun mengangguk dan akhirnya keluar dari kamar. Ketika pintu tertutup, Magma langsung duduk di sisi ranjang.


"Lihatkan, mau sampai kapan begini hm? sampai kapan menunda punya anak?"


"Aku harus cepat-cepat membuat anak ajaibku tumbuh di perutmu." Magma menatap perut Laura.


Laura menghela nafas sambil memalingkan wajahnya.


#Bersambung


Maaf telat, sibuk ngurusin pernikahan kakak saya hehehe

__ADS_1


__ADS_2