M & L

M & L
#Tidak suka melihat wajahnya


__ADS_3

Malam hari suara bel membuat Magma yang tengah berbaring di sofa menoleh ke arah pintu. Suara bel kembali berbunyi, Magma beranjak dari sofa membukakan pintu.


Laura berdiri di depan pintu dengan kantung belanjaan yang memenuhi lantai. Magma mengedarkan pandangan nya, bagaimana cara Laura membawa semua kantung belanjaan ini padahal tadi ia melihat istrinya menurunkan semua kantung belanjaan di mansion Arsen tapi malah di bawa kembali ke apartemennya.


"Kenapa diam? bawakan semua belanjaanku. Aku menyuruh anak buahmu yang membawanya ke sini."


"Belanja sebanyak ini?" tanya Magma pura-pura tidak tau.


"Iya!"


"Pakai uang siapa? Saldo di Atm ku masih banyak," seru Magma.


"Pakai uangku lah, aku tidak miskin tau!"


Magma menarik ujung bibirnya tersenyum kemudian berjalan mengambil beberapa kantung belanjaan di lantai sambil menggerutu pelan. "Aku pikir barang gratisan."


"Heh, apa kau bilang?" seru Laura yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ah tidak apa-apa sayang." Magma berjalan masuk membawa belanjaan istrinya. Laura ikut masuk dan duduk di sofa, Magma masih bolak-balik memasukan belanjaan istrinya.


"Dari kemarin sampai hari ini kau masih berbicara ketus kepadaku," seru Magma yang masih belum berhenti memasukan belanjaan Laura.


"Melihat wajahmu membuatku muak!" gerutu Laura pelan yang untungnya tidak terdengar oleh Magma.


Entah kenapa, Laura benar-benar merasa kesal ketika melihat wajah Magma. Tapi mau tak mau ia harus pulang dari mansion Ayahnya karena tidak mau membuat orang tuanya turun tangan soal rumah tangga nya.


Mungkin karena mengingat perlakuan menyebalkan Magma dulu yang membuat Laura kesal sekarang.


Ketika memasukan barang belanjaan terakhir dari luar ke dalam apartemen, Magma duduk di sofa tapi Laura langsung beranjak pergi ke kamar seakan tidak memberi waktu untuk mereka berbicara.


Magma menatap pintu kamar yang tertutup dengan menghembuskan nafas.


Bahkan ketika pria itu menyusul ke kamar, istrinya sedang mandi. Dia lagi-lagi harus menunggu Laura yang mandinya selalu lama, satu jam lebih baru selesai.


Magma menunggu sambil membaca buku dengan sesekali menoleh ke arah pintu.


"Mandi apa dia itu, lama sekali," gerutu Magma kemudian berdecak dan kembali membaca buku.


Sementara itu dengan memakai bathrobe Laura mematut dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi. Ia menggerutu sendirian.


"Kenapa aku ini, kenapa malas sekali bertemu dengan Magma. Apalagi tidur bareng dia ish! Kenapa dia tidak marah kepadaku dan tidur di kamar yang lain saja. Menyebalkan! Aku tidak mungkin diam di sini sampai Magma tidur!!"

__ADS_1


Laura menghela nafas kasar, memikirkan cara bagaimana agar malam ini tidak berbicara dengan suaminya, tidak mendengar suara Magma. Minimal, ketika ia keluar dari kamar mandi, Magma sudah tertidur. Itu yang Laura inginkan.


Laura menggaruk kepalanya frustasi ketika tidak menemukan ide selain menunggu di kamar mandi.


Tok tok tok


Laura menoleh ke arah pintu dengan mata membulat. Ia sudah tahu Magma pasti akan mengetuk pintu.


"Kau sedang apa di dalam?" teriak Magma. "Kenapa lama sekali!"


"Aku sedang mandi!" teriak Laura.


"Tidak mungkin belum selesai sayang. Cepatlah keluar dan ayo kita bicara!"


"Tidak ada yang perlu di bicarakan!! Lebih baik kau tidur saja!" Sahut Laura dengan terus berteriak.


"Laura keluar atau aku dobrak!!" Magma mengancam membuat Laura menggeram kesal.


Perempuan itu membuka pintu dengan kesal. "Tidak bisakah berhenti bertengkar?"


"Bertengkar?" Magma menaikan satu alisnya. "Siapa yang mengajak bertengkar? aku hanya mengajakmu berbicara."


"Soal apa? tidak ada yang perlu dibahas!"


"Kemarin itu tidak penting. Aku sudah melupakan pembahasan kemarin!" Laura berjalan melewati Magma dan duduk di meja rias.


Magma menghampiri Laura. "Kau tidak bisa melupakan ucapanmu yang ingin bercerai denganku!"


Laura menghela nafas kasar dengan memejamkan matanya. Ia benar-benar benci dengan suara Magma tapi Magma tidak berhenti berbicara.


"Sayang ---" Magma terkesiap kala ia memegang pundak Laura dari belakang dan Laura menepisnya dengan kasar.


"Ada apa denganmu Laura?"


"Jangan sentuh aku, jangan berbicara denganku dan lebih baik kau menjauh dariku untuk sementara waktu karena aku tidak mau melihat wajahmu!"


Magma menautkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Laura. Kenapa perempuan ini jadi seperti ini.


"Lala ---"


"Stop!" potong Laura sambil berdiri dan berbalik menatap Magma. "Jangan panggil aku Lala, karena aku benci nama itu!! Nama yang mengingatkanku tentang aku yang menjadi babu di Spanyol!!"

__ADS_1


Bola mata Magma bergerak ke kanan kiri untuk mencari jawaban dari raut wajah istrinya. Tapi yang Magma lihat hanyalah kemarahan dan kebencian dari bola mata Laura.


"Aku tidak mengerti denganmu, kenapa kau jadi seperti ini. Bukankah kau sudah memaafkanku?"


Laura tertawa jengkel. "Karena aku sudah memaafkanmu apa aku bisa melupakannya begitu saja?"


"La ---"


"Kau atau aku yang tidur di luar?" potong Laura kembali.


"Laura aku ---"


"Oke, aku saja!" Laura kembali memotong ucapan Magma.


"Tidak perlu. Biar aku." Magma mengalah.


Untuk menghentikan perdebatan dengan istrinya Magma memilih keluar dari kamar. Meninggalkan Laura yang kini mengulas senyuman miring di wajahnya.


Laura duduk di ranjang, menyenderkan punggungnya di kepala ranjang dan meluruskan kakinya. Ia mengetik sesuatu di ponselnya.


Istri yang tiba-tiba benci melihat wajah suaminya sendiri.


Laura mengetik kalimat itu di google dan artikel yang keluar cukup mengejutkan.


Kesal dan tidak mau dekat dengan suami saat hamil? ini penyebabnya.


"Hah, apa-apaan. Kenapa artikelnya seperti ini!" Laura langsung melempar ponselnya ke ranjang tidak mau membaca artikel yang menurutnya aneh itu.


Laura masuk ke dalam selimut, menatap atap-atap kamarnya hanya untuk memikirkan ada apa dengan dirinya. Kenapa begitu kesal ketika melihat wajah Magma.


"Aku hidup dengan dia selamanya. Tidak mungkin selamanya aku tidak mau bertemu dengan dia, kalau begitu lebih baik cerai saja kan."


Sementara itu Magma sedang mengintip Laura dengan membuka sedikit pintu kamarnya. Hanya untuk memastikan kalau Laura sudah tertidur, dengan begitu ia bisa masuk mengendap-ngendap dan tidur bersama Laura.


Tapi yang pria itu dapati malah Laura yang tengah berbicara sendirian sambil menatap atap kamarnya.


Magma kembali menutup pintu dengan hati-hati dan kembali duduk di sofa. Ia berdecak dengan tangan bersedekap dada. Magma akan menunggu sampai Laura tertidur.


Empat jam kemudian, Magma yang sempat tidur sejenak di sofa kembali bangun untuk kembali mengintip istrinya. Tapi ketika memutar knop pintu, Magma membulatkan matanya. Kamarnya di kunci.


Karena masih merasa tidak yakin, Magma terus memutar-mutar knop pintu. Dan benar-benar di kunci membuat Magma menendang pintu kamarnya dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2