
Magma dan Laura berada di mobil dalam perjalanan pulang menuju mansion setelah mereka membahas pernikahan Kenzo dan Lalita yang akan di gelar lusa nanti.
"Aku mau mangga muda," seru Laura tiba-tiba.
"Mangga?" Magma menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalanan di depan nya.
Laura mengangguk.
"Oke, kita beli mangga dulu."
Saat di perjalanan, mata Laura terus memandang keluar jendela dengan tangan yang terus mengelus perutnya.
"Stop!" seru Laura.
"Berhenti, apa kau tidak dengar!"
Magma sontak menepikan mobilnya. "Ada apa sayang?"
"Aku mau mangga."
"Iya, ini kita mau beli mangga."
"Tapi aku mau yang di pohon itu." Laura menoleh ke belakang. Tepat di belakang mobil Magma ada pohon mangga yang berbuah cukup banyak.
Magma menghela nafas. "Itu bukan punya kita!"
"Ya tapi aku mau mangga yang itu."
"Bagaimana cara mengambilnya?"
"Manjat lah," sahut Laura dengan enteng nya.
"Sayang tapi ---"
"Mereka yang mau." Laura menekuk wajahnya dengan menatap perut yang sedang ia elus. Magma menatap perut Laura kemudian berdecak.
"Kalau kau tidak mau mengambilkannya, kita pulang saja!"
"Aku mau sayang, aku mau." Magma menghela nafas kasar, menoleh ke belakang dan dengan pasrahnya pria itu keluar dari mobil. Melihat itu Laura tersenyum senang.
Dengan tangan memercak pinggang, Magma mendongak menatap pohon mangga di atasnya kemudian matanya melirik gerbang yang terkunci. Pohon itu berada di halaman rumah, Magma akhirnya menekan bel yang ada di gerbang.
Ia menekan nya beberapa kali sebab tidak ada yang keluar membuat pria itu berdecak kesal. Karena gerbangnya tidak tinggi alhasil pria itu memanjat gerbang terlebih dahulu.
__ADS_1
Laura melihatnya dari spion mobil. "Lihat Daddy kalian ..." seru nya sambil menahan tawa dan mengelus perut.
Setelah berhasil masuk ke halaman rumah yang entah siapa penghuninya. Magma pun berjalan dengan santai nya menuju pohon mangga.
"Tinggi sekali!" gumam nya kemudian menghela nafas kasar.
Memanjat bukan hal yang sulit untuk pria itu, dia dengan mudahnya naik ke pohon mangga bak monyet yang handal.
Pria itu mengambil dua mangga yang menyatu dalam satu tangkai yang kecil lalu segera turun setelah mendapatkannya.
Tepat ketika kakinya menginjak tanah, seorang kakek keluar dari rumah tersebut.
"MALING!" teriaknya.
Magma menoleh, melebarkan mata lalu segera berlari secepat mungkin dan harus kembali menaiki gerbang terlebih dahulu. Kakek tua yang berjalan dengan tongkat itu tidak mampu mengejar Magma sebab cara jalan nya saja sangat lambat di tambah kakinya yang mulai gemetar akibat usia.
"Maling hei maling ..." teriak si kakek dengan berusaha berjalan mendekati gerbang rumahnya.
Tapi sayang, ketika hendak membuka gerbang, mobil Magma sudah melaju pergi dengan cepat meninggalkan si kakek yang menggerutu kesal sambil mengeluarkan sumpah serapah untuk Magma.
Laura tertawa terbahak-bahak di dalam mobil dengan memegang dua mangga muda di tangan nya.
"Sayang, berhentilah tertawa!" hardik Magma dengan menyetir mobil.
"Sayang, kakinya saja sudah serapuh ranting kecil. Dia bisa apa?!"
"Lalu kenapa kau lari kalau begitu?" seru Laura menahan tawanya menatap suaminya.
"Aku tidak suka di teriaki maling!"
"Sabarlah ... demi anakmu." Laura mengelus tangan Magma.
Magma menoleh, menatap istrinya dengan alis terangkat naik. Laura menyentuhnya dengan keinginannya sendiri, apa istrinya sudah mau dekat dengannya lagi setelah beberapa hari membuat Magma tersiksa sebab Laura tidak mau dekat dengan nya.
"Jangan melihatku, lihatlah jalanan!"
Magma tersenyum geli, kembali menatap jalanan. "Asal kau mau menyentuhku setiap hari aku rela memanjat puluhan pohon mangga sayang."
"Dih, sudah tua masih gombal!" Laura memalingkan wajahnya membuat Magma terkekeh pelan.
*
Di apartemen, Magma duduk di lantai bersama Laura. Keduanya duduk bersila dengan cobek dan ulekan berada di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Aku tidak tau cara membuatnya sayang," seru Magma ketika istrinya meminta di buatkan bumbu rujak. Magma pernah makan tapi cara membuatnya Magma tidak tahu sebab pria itu lebih lama tinggal di Spanyol dan lebih pintar membuat makanan khas Spanyol di bandingkan makanan khas Indonesia.
"Suruh Jeni datang kalau begitu."
"Sayang, kalau kau tau bumbu nya apa saja. Kau tinggal membuatnya tanpa harus menyuruh Jeni!"
"Tanganku malas menguleknya."
"Yasudah biar aku saja, masukan bumbunya apa saja." Dari pada memanggil Jeni datang, Magma memilih dirinya saja yang membuat.
Laura memasukan cabai dan kencur terlebih dahulu dan menunggu Magma menguleknya sampai halus terlebih dahulu.
Sesekali perempuan itu tertawa karena merasa Magma tidak begitu hebat mengulek bumbu, biasanya pria itu memakai blender untuk menghaluskan.
"Jeni tidak seperti itu tau!" seru Laura dengan tertawa.
"Si banci itu kampungan sayang, aku lebih memilih blender dari pada ulekan ini!"
Terakhir Laura memasukan gula dan asam. Setelah bumbu rujaknya jadi, perempuan itu langsung mengupas mangga muda nya.
Magma mengernyit kala melihat istrinya makan mangga mudah yang warnanya saja putih, Magma tidak tahu seasam apa mangga itu.
"Apa itu enak?" tanya Magma.
"Enak loh." Laura makan halap, mangga muda dan bumbu rajak, paduan yang pas untuk makanan Ibu hamil yang sedang ngidam.
"Kau mau?" Laura menyodorkan mangga di tangan nya.
"Asam?" tanya Magma.
"Harusnya sih asam. Tapi ini malah manis."
"Benarkah?" tanya Magma ragu yang di jawab anggukan kepala dari Laura.
Alhasil pria itu yang penasaran akhirnya memotong mangga muda tersebut sedikit lalu memakannya tanpa bumbu dan seketika Magma melepehkan kembali mangga tersebut dengan wajah keasaman.
"Hahahah." Laura tertawa puas karena sebenarnya mangga nya sangat asam.
"Kau ya!" kesal Magma.
Magma yang kesal akhirnya menggendong paksa Laura dan membawanya ke kamar.
"Eh lepaskan aku, aku mau makan rujak! kenapa membawaku ke kamar!" teriak Laura menggerak-gerakan kakinya di gendongan Magma.
__ADS_1
Bersambung