M & L

M & L
#Kembali ke mansion


__ADS_3

Mendengar suara deruman mobil masuk halaman mansion, Jeni buru-buru mengintip dengan membuka sedikit pintu kamarnya.


"Lala!" teriak Magma dengan kesal.


Laura yang baru selesai mencuci piring pun menghampiri Magma dari arah dapur. Magma masuk mansion dengan membuka kancing bajunya satu-persatu kemudian melempar kemejanya ke wajah Laura.


"Cuci!"


Jeni terbelalak melihat itu. Berani sekali Magma sampai melempar bajunya seperti itu.


Pria itu berjalan menuju kamarnya sementara Laura yang bingung mengambil baju di wajahnya dan mengerutkan dahinya ketika melihat baju Magma sangat kotor.


"Jadi Jeni ini sebenarnya bantu Lala atau nyusahin Lala sih ih!" Jeni menepuk jidatnya merasa bersalah kepada Laura karena niat mengerjai Magma berakhir dengan Laura harus mencuci baju pria itu.


*


"Magma, kenapa bisa kotor seperti ini?" Tanya Laura masuk ke kamarnya.


"Cuci saja jangan banyak tanya!" sahut Magma sambil meminum sebotol wine di sofa.


"Kau jatuh?" Laura berdiri di depan Magma.


"Aku bilang cuci saja jangan banyak tanya!"


Laura menghela nafas kemudian berbalik pergi hendak mencuci baju pria itu tapi langkahnya terhenti dengan suara Magma.


"Iya, By?"


"By ..." gumam Laura. Laura kembali berbalik dan melihat suaminya tengah menelpon.


"Aku tidak pergi ke kantor hari ini."


"Tidak perlu, By."


Dia sedang menelpon siapa. Kenapa memanggilnya By.


"Oke, By." Magma mematikan panggilan telpon nya dengan mata tertuju ke arah Laura.


"Kenapa diam di situ?" tanya Magma kemudian.


"Siapa yang kau panggil, By?" Laura balik bertanya dengan satu tangan memegang kemeja Magma yang kotor.


"Byanca."

__ADS_1


"Apa?" sontak mata Laura membulat sempurna.


"Kau memanggil dia By, Magma? aku tidak salah dengar?"


Magma menghela nafas, meminum wine nya kembali lalu memalingkan wajah sambil berkata. "Namanya Byanca."


"Ya aku tau, tapi bisakah jangan memanggil dia By? kau bisa memanggil dia dengan nama aslinya!"


"Hanya nama, kenapa kau ini?!" kesal Magma.


"Magma aku istrimu bisakah kau menghargai itu. Aku tidak mau kau memanggil dia By, itu terdengar seperti panggilan sayang!"


"Yang menjadikanmu istriku itu kau sendiri, bukan kemauanku Lala!" sahut Magma.


"Ya tapi ---"


"Cukup Laura!!" Magma menyimpan botol wine nya di meja kemudian beranjak dari duduknya menghampiri perempuan itu dengan sorotan tajam nya.


"Dengar ya, kau yang mengadakan pernikahan sial*n ini, jadi jika ada sesuatu yang menyakiti hatimu maka itu bukan salahku!" seru Magma berkata tepat di depan wajah Laura.


Kemudian pria itu pun pergi meninggalkan kamar membuat Laura diam-diam mengepalkan tangan dengan nafas memburu karena amarah.


*


Laura berjalan sambil membawa air kelapa untuk suaminya. Ia menyimpan nya di meja lalu duduk di samping Magma.


"Karena kau ada di rumah, aku pikir dinner kita bisa pergi dari sore hari," seru Laura.


"Kau tidak lihat aku di rumah juga bekerja!" sahut Magma dengan laptop di atas paha nya.


"Ya kan ini masih siang, siapa tau sore nanti kerjaanmu selesai."


Ponsel Magma di samping paha nya bergetar panjang. Tanda panggilan masuk dari seseorang, ia melihatnya dan itu ternyata Yura sang adik.


"Hmm?"


"Apa kabar kak?" tanya Yura.


"Baik, kenapa kau menelponku?"


"Memangnya adik tidak boleh menelpon kakaknya, huh."


Laura diam mendengarkan.

__ADS_1


"Aku tau kau pasti mau minta sesuatu dariku lagi, kan."


Terdengar tawa dari Yura. "Hehe iya sih, kak."


"Apalagi?" tanya Magma.


"Tolong carikan baju yang fotonya aku sudah kirim kepadamu ya."


"Baju apa? kenapa beli di sini?" tanya Magma.


"Di Indonesia tidak ada. Lagi pula itu produk Spanyol, ayolah ya ya ..." rengek Yura.


Magma berdecak. "Yasudah iya!"


"Terimakasih, nanti langsung kirim ke sini ya. Oh iya, Mommy tanya kabar Laura."


Magma menoleh ke arah Laura lalu berkata. "Dia baik."


"Laura belum hamil, kak?" tanya Yura dengan nada berbisik di telpon.


"Menikah baru beberapa hari. Sudahlah, aku sedang bekerja!"


Magma mematikan panggilan telpon nya kemudian menyimpan laptopnya di meja dan beranjak dari duduknya.


"Magma kau kemana?" teriak Laura yang di acuhkan oleh pria itu.


"Dia mau beli baju untuk Yura ..." gumam Laura. "Terlihat jutek tapi dia langsung pergi membeli baju untuk Yura, sikapnya sangat manis." Laura tersenyum merasa kagum dengan sikap Magma yang diam-diam perduli dengan adiknya.


Laura berharap Magma juga sebenarnya perduli dengan dirinya diam-diam.


*


Cukup lama Magma pergi, dia baru kembali sore hari ke mansion, Magma menyuruh Laura dan Jeni untuk membungkus baju yang akan ia kirim ke Indonesia untuk Yura, Benjamin dan Bayuni.


"La, lihat. Baju sebanyak ini dia belikan untuk keluarganya, tapi dia tidak membelikan baju satu saja untukmu, istrinya."


"Sudahlah, Jen. Bungkus saja bajunya jangan banyak bicara!" hardik Laura.


"Ih Jeni kalau punya suami kaya dia. Sudah Jeni ceraikan saja!"


"Sembarangam kalau bicara!"


Beesambung

__ADS_1


__ADS_2