
Malam harinya Laura tengah memasak di dapur setelah tadi siang tidur cukup lama. Magma berada di kamarnya, Laura sibuk memotong bahan-bahan sambil sesekali melihat ponselnya, karena ia memasak sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Laura masak. Jadi harus melihat resep di internet.
"Masak apa, La?" tanya Jeni mendekat ke dapur.
"Taco, sini Jen bantu Lala. Potongin daging nya."
Tanpa di perintah dua kali, Jeni hendak mengambil pisau tapi seseorang berteriak dari atas.
"Jangan di bantu!"
Sontak Laura dan Jeni mendongak ke atas dan melihat Magma berdiri di sana.
"Eh, apa maksudmu tu-- Tuan." Jeni langsung meralat ucapan nya yang tadinya mau menyebut Magma tua bangka.
"Aku bilang jangan di bantu! kau tidak dengar hah! biarkan Lala yang masak!!"
"Tuan yang terhormat, lihatlah ... istrimu sibuk sendirian di dapur. Kau tidak berniat membantu?"
"Itu tugas seorang istri!! kalau kau masih membantu Lala, enyahlah dari mansion ku!!" .
"Tapi ---"
"Jen, sudahlah." Laura langsung menegur Jeni yang selalu menjawab ucapan Magma.
"Sudah pergi sana, di luar banyak pria tampan. Hushh ... hushh ..." Laura langsung mengibaskan tangan nya di udara mengusir Jeni.
"Tapi Lala bisa masak sendiri?" tanya Jeni.
"Bisa lah, lagi pula mungkin Magma ingin makanan yang hanya di masak oleh tanganku saja. So Sweet kan." Laura tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Si bod*h!" hardik Jeni yang langsung melengos meninggalkan Laura.
__ADS_1
"Apa dia bilang, huh, berani sekali dia bilang si bod*h kepadaku!" cicit Laura dengan tangan yang masih sibuk memotong beberapa sayuran.
Jeni sendiri kesal. Menurut Jeni, Magma terlihat ingin mempermainkan Laura, bukan karena hanya ingin makanan yang di masak oleh tangan Laura saja.
Magma menatap jam di pergelangan tangan nya kemudian berdecak. "Waktumu tinggal tiga puluh menit lagi!" teriak Magma.
Laura kembali mendongak. "Eh, Lala tidak ikut master chef ya, kenapa pakai di hitung waktu segala!"
"Aku sudah lapar Lala!" sahut Magma dengan kesal.
"Iya-iya ... sabar dong."
*
Selesai memasak, Laura langsung menghidangkan semua makanan di meja makan. Ia tengah menuangkan air ke gelas sambil menunggu Magma turun.
Tak lama kemudian terdengar suara membuka pintu dari lantai atas, Magma keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga membuat Laura duduk tersenyum di kursi.
Magma duduk di tempat biasa, ia mengedarkan pandangan nya melihat beberapa makanan yang di masak Laura. Terlihat enak.
"Sampai kapan aku harus menunggu Lala?" tanya Magma.
"Apa? ini kan sudah jadi, tinggal makan," sahut Laura.
"Tuangkan ke piring ku," titah Magma.
"O-oh ... jadi kau menunggu Lala mengambilkan nya, bilang dong."
Dengan tersenyum Laura mengambil beberapa masakan nya dan menuangkan nya ke piring Magma. Magma sesekali menatap Laura, rambut Laura biasanya selalu bergelombang atau Curly karena di catok tapi kali ini rambutnya di gerai lurus dengan senyuman nya yang manis bukan lagi senyuman seakan menantang Magma.
Magma baru tahu ada sisi lain yang tersembunyi dari sikap Laura yang terlihat seperti model arogan itu.
__ADS_1
"Silahkan makan ..."
Magma langsung melahap makanan di piring nya.
Dengan menopang dagu menggunakan satu tangan nya di meja, Laura diam sambil senyum-senyum sendiri melihat suaminya tengah makan dengan lahap makanan yang ia masak sendiri.
Kebahagiaan Lala sederhana sekali. Melihat dia makan dengan lahap saja sudah sangat senang.
Apa kau berpikir mansion ku ini surga bagimu perempuan licik. Sabarlah, ini baru permulaan. Setelah kau merebut perusahaan ku, aku juga akan merebut hidupmu.
*
Sekitar pukul sepuluh malam, Magma sudah menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang menunggu Laura memijitnya.
Perempuan itu keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas ranjang untuk memijat suaminya. Laura memijat kedua bahu Magma.
"Seharusnya sebelum tidur kita nonton film bersama dulu," seru Laura.
"Besoklah, La. Aku lelah ... pijit yang benar!"
"Oke." Dengan semangat Laura memijat kedua bahu Magma.
Karena ini masih awal, perempuan itu masih tampak bersemangat mengurus semua urusan rumah tangga. Dia belum merasakan lelah, yang ada hanya perasaan senang karena Magma seakan percaya dengan dirinya kalau ia bisa menjadi seorang istri.
Beberapa menit kemudian, Laura mencoba mengintip mata pria itu yang sekarang sudah terlelap membuat Laura menghembuskan nafas lega. Akhirnya Magma sudah tidur.
Ketika ia hendak membaringkan tubuhnya di samping Magma. Ponselnya di nakas bergetar pendek, tanda pesan masuk dari seseorang.
Laura langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimi pesan. Dan ternyata Jeni.
La, perusahaan Alaya Group mengajak kerja sama. Jaraknya dari mansion hanya satu jam, kita pergi besok ya?
__ADS_1
Maaf Jen, Lala berhenti jadi model.
Bersambung