M & L

M & L
#Akhirnya ...


__ADS_3

"Kau kenapa?" tanya Magma sambil membuka kancing bajunya kala melihat Laura keluar dari kamar mandi dengan mendesis memegang kepalanya yang terasa berat tiba-tiba.


"Kepalaku berat sekali," sahut Laura kemudian duduk di sisi ranjang.


"Kenapa?" Magma memegang pipi Laura.


Kemudian Laura menguap, Magma menaikan alisnya sambil menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Kau sangat kelelahan sepertinya. Tidurlah ..."


"Padahal aku sudah tidur tadi siang," sahut Laura lemah lalu mengangkat kedua kakinya ke ranjang dan perempuan itu pun tidur.


Saat tidur pun, Laura masih bisa merasakan ada yang mengelus pahanya. Laura menggerakan kaki kanannya kemudian elusan itu pindah ke kaki kiri.


Perempuan itu pun bergerak tidur menyamping dan sekarang ia merasa elusan di punggungnya. Walaupun setengah sadar, Laura tahu itu ulah suaminya.


Perempuan itu tidak perduli dengan apa yang Magma lakukan sampai pada akhirnya ia merasakan cium*n bertubi-tubi di pipi dan telinganya.


Ia juga bisa merasakan tangan suaminya bermain-main di perutnya sampai menelusup masuk ke dalam pakaian.


Laura ingin menepis tangan Magma, tapi anehnya ia merasa seluruh tubuhnya lemas seketika. Ia hanya bisa diam merasakan tubuhnya di sentuh Magma.


Magma berbisik di telinganya. "Tidak bisa berbuat apa-apa kan Nona?" serunya dengan tersenyum.


"Di ajak secara lembut tidak mau, begini kan akhirnya ..." lanjut Magma.


"Hmmm Magma ..." lirih Laura dengan lemas.


"Ya sayang?" Magma mengecup pundak istrinya.


"Buka ya." Pria itu membuka kancing piyama yang di kenakan istrinya. Laura tidak bisa mengiyakan dan juga tidak bisa menolak. Ia hanya pasrah.


"Di saat perempuan lain lebih memilih pria yang belum pernah tidur dengan wanita. Kau malah memilihku."


Magma membuka semua pakaian istrinya, ia menggulum senyum di wajahnya kala istrinya telanj*g bulat. Ia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


"Kau pura-pura tidak mau hm."


Magma berseru sambil terus menciumi tubuh istrinya di dalam selimut.


"Magma ..." lirih Laura sambil berusaha menggerakan tubuhnya.


"Panggil aku sayang," seru Magma.


"Hmmm ... jahat."


Magma terkekeh geli mendengar istrinya berbicara dalam keadaan setengah sadar. "Aku atau kau yang jahat?"


"Bukankah ini yang kau mau sayang?"


"Aku pembantumu ..." sahut Laura pelan.


"Tidak sayang, kau istriku." Magma mendekap erat istrinya di dalam selimut. "Masa lalu itu salahku, sekarang kita perbaiki semuanya."


Pria itu terus menciumi Laura, mendekapnya erat dan menyalurkan apa yang ia inginkan selama ini dalam keadaan istrinya setengah sadar.


*


Laura membuka matanya perlahan kala sinar matahari menerobos masuk di sela-sela jendela. Ia menghalangi wajahnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Sudah bangun sayang?" Magma yang baru membuka tirai berjalan mendekati istrinya dengan atasan tanpa busana.


"Kau ..." Laura langsung tersadar ketika kejadian semalam berputar di benaknya.


Laura mendekap erat selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menyipitkan matanya memberikan tatapan intimidasi kepada suaminya.


"Apa yang kau lakukan semalam?" tanya Laura dengan wajah yang tidak ramah.


Magma yang duduk di sisi ranjang tersenyum. "Kalau kau bertanya, itu artinya kau ingat sayang ..."


"Aku tidak pakai baju sekarang. Jelaslah aku bertanya!"


"Sssstt ... jangan galak-galak, baru buka segel semalam." Magma tersenyum menggoda.


"Ish! Kau ya!" Laura melempar bantal ke arah Magma.


"Kau curang, kau meracuniku semalam ya!!"


Magma terkekeh sambil memeluk bantal. "Aku hanya menaruh obat tidur di minumanmu ..."


Mata Laura membulat. "Kau ---"


"Ayo mandi dulu."


"Magma tidak mau, lepaskan aku!" teriak Laura ketika ia di gendong oleh suaminya yang membawanya ke kamar mandi.


*


"Kita harus lebih rajin, agar anak ajaib itu cepat hadir di perutmu. Kalau tidak, kita akan di suruh berpisah." Magma berbisik kepada Laura di meja makan.


Miwa menyikut Arsen melihat menantunya berbisik seperti itu. Arsen pun menatap Magma.


"Ada apa? kenapa berbisik di meja makan!"


"Tidak apa-apa, Dad. Hanya berbicara kata-kata manis saja. Iya kan sayang?" Magma merangkul istrinya, Laura tersenyum dengan menganggukan kepala.


"Awas ya macam-macam dengan putriku lagi!" Miwa memperingati.


"Macam-macam di ranjang," sahut Magma pelan sambil mengambil segelas air.


"Apa?" tanya Miwa yang tidak terlalu mendengar ucapan Magma. Laura menginjak kaki Magma di bawah meja.


"Ah tidak apa-apa Mom."


*


Selesai makan Magma dan Laura pergi ke rumah Benjamin. Di perjalanan tak henti-hentinya Magma tersenyum kala menatap istrinya.


"Kau kenapa menatapku seperti itu?" tanya Laura sewot.


"Semalam, malam yang panjang dan menyenangkan ya." Magma tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.


"Aku tidak ingat apapun!"


"Bohong!"


"Tapi semalam kau menc*um dadaku," seru Magma.


"Tidak ya, kau yang melakukan itu kepadaku!!"

__ADS_1


Magma tertawa. "Katanya tidak ingat."


"A-aku ..." Laura tidak melanjutkan kalimatnya, ia mendengus kasar sambil memalingkan wajahnya membuat Magma tak henti tertawa.


Si*lnya walaupun setengah sadar Laura mengingat semuanya. Lebih tepatnya ia merasakan semua yang di lakukan suaminya kepadanya semalam. Kejadian itu seakan berputar jelas di benaknya sekarang membuat Laura menghela nafas sambil memejamkan matanya.


"Tidak apa-apa sayang, jangan di ingat terus. Nanti malam kita lakukan lagi." goda Magma.


Laura berdecak. "Sembarangan kalau bicara, aku tidak mengingat itu!"


*


Sesampainya di rumah Benjamin, mereka di sambut hangat oleh Benjamin dan Bayuni. Laura bergantian memeluk mertuanya itu.


"Mom senang kau masih hidup Laura ..." seru Bayuni memegang tangan Laura.


"Bagaimana istriku, pintar kan aktingnya? sampai di kira mati masuk jurang." seru Magma dengan bangga.


"Hehe ... Maaf ya Mom." Laura berkata canggung.


"Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, Laura. Ini salah suamimu yang tidak memperlakukanmu dengan baik. Kami yang malu denganmu dan keluargamu. Maafkan sikap Magma ya," ujar Benjamin.


Laura hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.


"Yuk masuk ..." ajak Bayuni. Mereka semua masuk dan duduk di sofa.


"Yura belum datang?" tanya Magma.


"Memangnya Yura mau ke sini?" Laura ikut bertanya.


"Suamimu yang meminta," sahut Benjamin.


"Kita harus belajar merawat bayi sayang. Bayi dia kan ada dua, kita pinjam lah satu."


"Kau ini, pinjam bayi seperti pinjam boneka saja!" seru Benjamin.


"M-memangnya kau mau punya anak Magma?" tanya Bayuni yang tahu jika dulu Magma mengatakan tidak mau punya anak.


Magma mengangguk. "Jelaslah, kita adukan dengan si anak curut itu!"


Laura berdecak menepuk paha Magma. "Mulutmu itu ya! anak curut, anak curut!"


Bayuni menghembuskan nafas lega dengan tersenyum kepada suaminya. Ia senang, akhirnya putra pertamanya mau membina rumah tangga seperti yang lain.


"Rencananya mau punya anak berapa?" tanya Benjamin menatap bergantian Laura dan Magma.


"Du ---"


"Lima saja bagaimana?" potong Magma.


"Hah, banyak sekali!" sahut Laura.


"Sebelas baru banyak sayang," sahut Magma.


"Mau apa, buat klab sepak bola?" ujar Laura membuat Magma, Benjamin dan Bayuni tertawa.


Bersambung


Maaf cuman up satu bab. sibuk nyiapin pernikahan kakak saya 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2