
Menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sudah sampai di mansion Magma. Magma buru-buru keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Dengan wajah datar Laura keluar berjalan melewati suaminya. Magma mematung menatap Laura yang meninggalkan nya. Magma seperti supir yang membukakan pintu untuk majikannya sekarang.
Kemudian Magma menghela nafas, menutup pintu mobil dan menyusul Laura.
"Sini, duduk dulu." Magma menarik tangan Laura.
"Eh kau mau apa."
"Sudah, duduk saja."
Laura di paksa duduk di kursi kemudian perempuan itu melebarkan mata kala Magma duduk di lantai membukakan heels yang ia kenakan.
"Cih!" Laura berdecih, ingat dirinya saat membukakan sepatu untuk Magma. Saat-saat menjadi Lala yang ikhlas bahkan ketika Magma tidak menatapnya sama sekali ketika ia membukakan sepatu pria itu.
Magma berdiri sambil memegang heels Laura setelah selesai.
"Mana sandalnya?" tanya Laura. Biasanya Laura menyimpan sandal di depan kaki Magma setelah melepas sepatunya. Ia pun meminta hal serupa kepada suaminya sekarang.
"Pakai tanganku saja."
"Apa --- Aaaa Magma turunkan aku!" Magma langsung menggendong istrinya ala bridal membawanya ke kamar.
Para pelayan wanita yang mengintip saling berbisik kala melihat Tuan nya menggendong istrinya untuk pertama kali. Apalagi terlihat Magma malah tertawa ketika Laura memukul-mukul dada nya meminta di lepaskan.
Dulu mereka sangat kasihan kepada Laura saat harus menjadi pelayan di mansion suaminya sendiri. Saat itu mereka tidak bisa membantu karena di larang oleh Magma.
"Sudah akur ya."
"Sweet sekali mereka sekarang."
"Nyonya Laura berhasil."
"Tidak sia-sia pura-pura mati."
Magma mendudukan Laura di sofa tempat mereka biasa menonton. Kemudian pria itu duduk di samping Laura dan langsung mengangkat kedua kaki perempuan itu menyimpannya di pahanya.
"Kau mau apa?" tanya Laura.
"Pasti pegal perjalanan panjang kembali ke sini, iya kan?" Magma memijat kaki Laura dengan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya ke istrinya itu.
Laura berdecih sambil memalingkan wajahnya. Ia mengambil remot di meja, menyalakan tv membiarkan suaminya terus memijat kakinya.
Laura asik menonton tv sendirian sampai ia merasa pijatan Magma semakin naik ke atas. Laura langsung menepis tangan Magma yang memijat pahanya.
"Turunkan pijatanmu!"
"Paha itu bagian dari kaki, jadi aku tidak salah memijat pahamu juga," sahut Magma dengan tersenyum.
__ADS_1
"Jangan mengambil kesempatan ya!"
"Aku tidak mengambil kesempatan, ini memang milikku." Magma mencubit paha Laura membuat Laura membulatkan mata dan menepuk tangan Magma lagi.
Magma terkekeh kemudian mencolek dagu istrinya. Lagi, Laura segera menggosok dagunya sendiri. Hal itu membuat Magma kembali tertawa karena istrinya yang tidak mau di sentuh.
Magma masih iseng, ia hendak mencubit gunung kembar milik istrinya tapi Laura langsung memeluk tubuhnya sendiri. "Mau apa kau?"
"Pura-pura tidak mau, dulu saja berani menggodaku," seru Magma dengan tersenyum menggoda.
"Ya itu kan dulu, ketika aku masih menyukaimu! Sekarang tidak lagi!" sahut Laura.
"Terus kenapa mau pulang ke sini?" tanya Magma menaikan alisnya.
"Karena aku masih jadi istri. Jadi aku pulang ke sini."
"Oh begitu ..." Magma mengangguk-ngangguk. "Kalau masih jadi istri berarti harus melayani suami. Iya kan?"
"Cih, itu mau mu!" Laura menarik kakinya dari paha Magma. Beranjak dari sofa pergi ke kamar mandi.
"Mau aku mandikan?" teriak Magma.
"Tidak!" sahut Laura sambil membanting pintu membuat Magma tersenyum menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
*
Selesai mandi Laura terbelalak melihat banyak kelopak bunga mawar merah di ranjang. Kelopak bunga mawar merah itu berbentuk hati.
"Untukmu ..." Magma memberikan bunga mawar merah di tangan nya.
"Apa-apaan ini?" tanya Laura.
"Ini semua untukmu ..." Magma menatap bagian bawah tubuh Laura. "Karena yang di sana masih tersegel, jadi harus di buat spesial untuk malam pertamanya, iya kan?"
Laura tersenyum ketus. "Tersegel?"
Magma mengangguk.
"Semua p*lacur yang melayanimu juga tersegel semua. Bedanya apa?"
"Oh tentu saja beda sayang, mereka satu kali buang. Sementara kau di nikahi dan di pakai berkali-kali."
Laura menghela nafas kasar dengan ucapan suaminya. Ia menggelengkan kepala lalu berjalan mendekati ranjang.
"Bagaimana aku tidur kalau seperti ini?" Laura menatap kelopak mata itu. Kalau ia naik ke ranjang dan menyibakan selimut otomatis kelopak bunga yang tersusun rapih itu jadi berantakan.
"Kelopak bunga itu ada untuk di buat berantakan oleh kita sayang ..." Magma memeluk istrinya dari belakang.
Laura berbalik menepis tangan Magma. "Jangan macam-macam ya! Aku lelah ingin tidur."
__ADS_1
"Mau di pijat dulu tidak?" tanya Magma.
"Kalau mau buka dulu bajunya."
"Kenapa di buka?" tanya Laura.
"Aku dulu juga di pijat tidak pakai baju."
"Oh ..."
Laura pun membuka tali bathrobe nya dengan tersenyum miring. Magma melihat tangan Laura yang perlahan membuka tali, ia tidak sabar. Laura baru selesai mandi, pasti tidak mengenakan apapun.
Seketika Magma menghembuskan nafas kecewa ketika Laura ternyata sudah memakai bra dan cel*na dal*m.
"Ayo pijat." Laura naik ke ranjang dan menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.
Magma naik ke ranjang dan duduk di samping istrinya. Kelopak bunga berbentuk hati itu sudah berantakan.
"Magma!!" Laura mencubit lengan suaminya karena Magma mengintip c*lana dalam Laura.
"Tidak jadi di pijat!" Laura dengan kesal menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Ia tidur membelakangi suaminya.
Magma langsung memeluk Laura dari belakang. "Lala ..."
"Hmm." Sahut Laura sambil terus bergerak karena tidak mau di peluk Magma.
"Apa saja yang kau lakukan dengan pria itu di apartemen?" tanya Magma sambil mempererat pelukannya.
"T-tidak ada," sahut Laura terbata karena Magma memeluknya terlalu erat. "Aku, tidak bisa nafas Magma!"
Magma melonggarkan pelukannya. "Aku tidak yakin kau tidak berbuat apa-apa. Aku harus mengeceknya sekarang."
"Mengecek apa?" tanya Laura.
"Yang di bawah, masih tersegel atau tidak."
PLAK
Laura langsung bangun dan menampar Magma. "Apa kau berpikir aku murahan dan akan tidur dengan Kenzo?"
Magma mematung memegang pipinya sendiri. Tidak menyangka Laura akan menamparnya, padahal Magma sedang membuat jebakan agar bisa tidur malam ini dengan istrinya. Magma sendiri yakin Laura tidak melakukan apapun dengan Kenzo.
"Aku tidak seperti para pelacurmu itu ya!" kesal Laura.
"S-sayang aku tidak bermaksud ---"
Laura langsung turun dari ranjang, memakai bathrobe nya kembali dan keluar dari kamar dengan kesal.
"Sayang aku hanya bercanda!" teriak Magma kemudian menghembuskan nafas. Laura marah sekarang.
__ADS_1
"Aku lupa dia Laura bukan Lala," gumam Magma.
Bersambung