
"Sayang siapa itu?" tanya Miwa yang tengah membuat jus di dapur. Ia menoleh ketika mendengar suara bel.
"Tidak tau, sebentar." Arsen yang duduk di minibar dapur beranjak untuk membuka pintu.
"Lala ..." Mata Arsen membulat sempurna.
Laura tersenyum dan langsung memeluk Ayahnya. "Apa kabar, Dad?" tanya nya setelah melepas pelukan nya.
"Baru membaik sekarang! kemarin-kemarin Dad frustasi karenamu," sahut Arsen sedikit kesal.
"Hehe, maaf Dad." Laura terkekeh.
Kemudian mata Arsen beralih menatap Magma. Tatapan Arsen berubah dingin dan tak bersahabat menatap menantu nya itu. Sementara Magma tersenyum sambil mengulurkan tangan nya. "Apa kabar, Dad?"
Satu alis Arsen terangkat naik. "Masih bisa tersenyum?"
"Aku tidak mungkin datang dengan menangis. Iya kan sayang?" Magma menoleh kepada Laura. Laura hanya mengangkat bahunya membuat Magma mendengus kasar kemudian ia kembali menarik tangan nya karena Arsen tidak mau berjabat tangan.
"Masuk," seru Arsen. Mereka berdua pun masuk.
"Mommy ..." teriak Laura.
Miwa mematikan blender nya ketika mendengar suara putrinya. Ia buru-buru berlari dari dapur. "Aaaaa Lala ..." jerit Miwa langsung memeluk Laura saking senangnya.
Magma hanya diam di belakang istrinya yang tengah berpelukan. Sesekali ia melempar senyuman untuk mertuanya yang terus menatapnya dengan tidak ramah.
"Duduk," titah Arsen.
Mereka semua pun duduk. Laura duduk bersama Miwa untuk melampiaskan kerinduannya selama ini.
Pletak.
"Akkhh!!"
Miwa yang tersenyum bahagia tadi kini berubah. Ia menyentil kening putrinya dengan kesal. "Berani mempermainkan orang tua ya!"
"Mom, bisakah jangan menyakitinya?" seru Magma membuat Miwa menoleh seketika. Laura masih mengelus-ngelus keningnya sendiri yang teras perih.
"K-kau ... sejak kapan kau ada di sini?" tanya Miwa yang tidak sadar dengan kehadiran Magma sebab ia terlalu bahagia dengan kehadiran putrinya.
"Cih, besar dan brewokan begini masa tidak kelihatan sayang," sahut Arsen seraya tersenyum ketus.
"Ah, salahnya lebih besar sayang. Jadinya tubuh yang besar itu tertutup oleh kesalahannya sendiri," seru Miwa dengan penuh penekanan. Ia masih belum terima dengan putrinya yang di jadikan babu di mansion Magma.
Magma tertawa. "Mommy dan Daddy ini lucu ya .."
"Kau panggil aku apa?"
"Mommy."
__ADS_1
"M-mommy?" Miwa tertawa jengkel mendengarnya. Laura hanya diam menatap suami dan orang tuanya.
"Tidak pantas kau memanggilku Mommy di saat kau menjadikan putri kesayanganku babu di mansionmu!" Miwa memalingkan wajahnya.
"Itu salahku, Mom. Sekarang, putrimu ratu di mansionku. Iya kan sayang?" Magma menatap Laura.
Lagi, Laura hanya mengangkat kedua bahunya membuat Magma berdecak.
Dia ini suka melihat kedua orang tuanya tidak menyukaiku.
"Lihat, putriku saja tidak membelamu. Itu artinya ada yang tidak beres!" seru Arsen.
"Ya, yang tidak beres putrimu, Dad. Karena belum memaafkanku. Itu saja," sahut Magma.
"Heleh, alasan saja!" pekik Miwa. "Lebih baik kalian berpis ---"
"Laura sedang hamil," potong Magma agar mertuanya tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tahu Miwa memintanya berpisah.
"A-apa?" Seru Miwa dan Arsen bersamaan.
"Hah? T-tidak ---"
"Lala hamil? ada bayi? Coba Mommy lihat."
"Mom tidak mom!" Laura berusaha menepis tangan Miwa yang ingin menyentuh perutnya. Magma menunduk, menggosok hidungnya yang tak gatal sama sekali untuk menyembunyikan senyumannya.
"La, sudah periksa ke Dokter belum?" tanya Miwa.
"Mom, Dad. Aku tidak ---"
"Dia belum memaafkanku, tapi dia sudah hamil. Jadi kalian tidak bisa memisahkan kami, bukan?"
"Magma kau --"
"Jangan marah-marah sayang. Kasihan bayi kita," potong Magma dengan tersenyum.
"Iya Lala, jangan marah-marah dan jangan stress. Ibu hamil harus bisa mengelola emosi," seru Miwa.
Magma tahu, Arsen dan Miwa sangat menginginkan cucu sebab mereka hanya memiliki dua anak dan di antara keduanya belum ada yang memberinya cucu.
"Mommy senang sekali Lala, Mommy akan jadi grandma," seru Miwa dengan wajah sumringah.
"Hehe ..." Laura tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus mengatakan apa sebah Magma terus memotong ucapan nya.
Hamil bagaimana, membuatnya saja belum.
"Sayang, antar Lala ke kamar. Biarkan dia istirahat saja," seru Arsen.
"Iya. Ayo La, Mom antar ke kamar. Pokoknya Lala harus banyak istirahat jangan kecapean, selama hamil Lala tinggal di sini saja dulu. Berjaga-jaga agar dia ..." Miwa menatap Magma dengan jengkel. "Tidak menjadikan Lala babu lagi," lanjut Miwa.
__ADS_1
Magma mengangguk sambil tersenyum. "Ayo sayang ke kamar." Magma menarik lembut tangan istrinya.
"Kau tinggal di sini juga?" tanya Miwa.
"Mom, aku Ayah si bayi. Nanti dia rewel kalau di pisahkan dengan Ayahnya. Iya kan sayang?" Magma merangkul pinggang istrinya.
Laura terpaksa mengangguk untuk menghentikan drama tidak jelas ini. "Aku mau istirahat ya Mom, Dad."
"Sudah, biarkan saja. Jangan buat Lala stress," seru Arsen kepada Miwa dengan pelan. Akhirnya Miwa pun terpaksa mengangguk.
Mereka berdua naik ke anak tangga menuju kamar Laura. Magma terus mengenggam tangan istrinya.
"Hati-hati bumil, nanti jatuh." Magma berbisik di telinga Laura membuat perempuan itu menyikut lengan nya sambil berdecak. Magma hanya cekikikan.
Sesampainya di kamar, Magma berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Ia mengedarkan pandangan nya melihat seisi ruangan yang di desain warna putih.
Sementara Lala sedang duduk di sofa sambil melepas heels yang ia kenakan.
"Sini aku bantu sayang." Magma langsung berjongkok membantu Laura membuka heels.
Laura beranjak dan langsung merebahkan dirinya di sofa. "Lelah sekali ..."
Magma menyimpan heels Laura di rak sepatu kemudian beranjak menghampiri istrinya. Ia mengangkat kedua kaki Laura dan menyimpan nya di atas pahanya. "Aku pijat ya ..."
Magma dengan lembut memijat kaki Laura. Laura tidak banyak protes, ia hanya diam sampai perempuan itu tertidur.
Pria itu tersenyum melihat istrinya tertidur. Ia beranjak dari sofa perlahan-lahan, mengambil selimut dan menutupi setengah tubuh Laura.
Sekarang, ia harus caper alias cari perhatian kepada kedua mertuanya itu agar diterima dan di maafkan dengan ikhlas.
Magma keluar dari kamar menghampiri mertuanya yang tengah meminum jus sambil menonton tv.
"Hei, kau. Antar jus ini untuk Lala," seru Miwa berbicara seakan sedang menyuruh pelayan ketika melihat Magma menuruni anak tangga.
"Ah siap Mommy. Jus untukku tidak ada?" tanya Magma sambil mengambil segelas jus strawberry di meja.
"Mau? bikin saja sendiri!" sahut Miwa dengan ketus. Arsen hanya fokus dengan tv yang menyiarkan berita.
"Mommy ini mirip sekali dengan Lala ketika jutek seperti itu." Magma tersenyum. Pria itu masih berdiri di dekat sofa.
"Jelas lah, aku Ibunya!"
"Ah iya, benar juga. Kalau aku boleh menyarankan, jus tomat lebih cocok untuk kecantikan, Mom."
Magma tersenyum lalu pergi ke dapur sambil menyeruput jus strawberry yang tadinya untuk Laura.
"Itu untuk putriku yang sedang hamil!" teriak Miwa.
"Mereka sedang tidur mom," sahut Magma.
__ADS_1
Arsen menggelengkan kepala. "Sudahlah, jangan teriak begitu. Lala sedang istirahat ..."
Bersambung