M & L

M & L
Frustasinya Lita


__ADS_3

Hampir empat tahun lebih Lalita dan Kenzo menanti buah hati mereka tapi keinginan terbesar mereka belum terwujud juga.


Rasa mual di pagi hari bukan karena gejala hamil, Lalita sudah muak mengetes rasa mualnya dengan tespack dan berujung negatif.


Ternyata ada masalah pencernaan di tubuh Lalita yang di sebabkan gaya hidup yang kurang baik. Lalita sering menunda makan dan mudah stress setelah menikah. Tentu nya bukan karena Kenzo tapi karena memikirkan kapan dirinya akan hamil.


Sekarang, Lalita sudah tidak memperdulikan soal itu lagi. Ia tidak mau sakit-sakitan lagi.


Perempuan itu sudah sarapan pagi hari ketika suaminya sudah selesai memasak.


"Sandwich nya enak ..." seru Lalita.


"Makan yang lain juga dong. Jangan hanya sandwich. Kau tidak sedang diet kan Lita?" tanya Kenzo yang duduk di depan Lalita.


"Tidak lah. Sandwich saja sudah cukup lagi pula aku sudah makan tiga kan."


Kenzo tersenyum seraya menganggukan kepala. "Aku hari ini tidak pergi ke restaurant."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Ingin punya waktu bersamamu saja," seru Kenzo membuat Lalita menggulum senyum di wajahnya seketika.


Hari ini Kenzo benar-benar menghabiskan waktu bersama istri tercinta nya. Di mulai dari pergi jalan-jalan ke danau setelah sarapan agar pikiran istrinya tenang, mengajaknya pergi ke mall untuk menonton, mengajaknya shopping dan terakhir mengajaknya pergi ke festival ice cream.


Lalita berdiri menunggu suaminya membeli ice cream durian yang ia suka. Perempuan itu mengedarkan pandangannya kala melihat keluarga kecil yang utuh membawa dua anak mereka yang masih kecil mencoba berbagai macam ice cream.

__ADS_1


Lalita tersenyum melihatnya apalagi mendengar interaksi antara ibu dan anak itu.


"Mommy makasih udah ajak aku ke sini. I Love you Mommy," kata anak perempuan yang berusia tiga tahun itu kepada Ibunya.


"I love you too sayang."


Lalita kembali tersenyum getir. Kapan ada anak kecil yang mengatakan i love you kepada dirinya. Perempuan atau laki-laki Lalita sangat mengharapkannya tapi kemudian ia menghela nafas untuk mengatur emosionalnya.


Jangan, jangan sampai stress lagi. Lalita tidak mau kembali sakit dan membuat Kenzo khawatir.


"Lita ..."


Lita menoleh melihat Kenzo berjalan ke arahnya dengan membawa dua ice cream di tangan nya. Ia memberikan ice cream pesanan Lita.


"Suka?" Tanya Kenzo seraya menyeka ujung bibir istrinya yang belepotan.


Lalita tersenyum malu seraya menganggukan kepala.


"Kita cari tempat duduk ..." Kenzo menarik tangan istrinya menuju kursi yang kosong.


Mereka menikmati ice cream seraya menonton kembang api di langit. Banyak pengunjung ikut merayakan kebahagiaan malam ini. Hanya ice cream dan kembang api di malam hari dapat membuat mereka tersenyum bahagia. Salah satunya Lalita dan Kenzo.


Sepulangnya dari festival tersebut, di dalam mobil Lalita terlihat murung. Kenzo yang menyadari ada yang salah dengan istrinya itu pun bertanya.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


Lalita menoleh, tersenyum samar seraya menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja?"


"Benarkah?"


Lalita mengangguk.


"Aku tau kau bohong Lita. Aku bisa melihatnya dari matamu. Ada hal yang membuatmu sedih, iya kan?"


"T-tidak kok."


Kenzo menepikan sejenak mobilnya ke pinggir jalan kemudian ia menatap Lalita. "Jangan stress lagi dan berhenti memikirkan soal anak Lita. Aku tidak menuntut untuk kau memberikanku anak."


"Tapi aku ---"


"Lita melihatmu sehat saja aku sudah sangat bahagia."


"Aku ingin punya anak, Ken. Kenapa rasanya sulit sekali? Kalau terus seperti ini lebih baik kau ceraikan aku saja!"


"Lita!" Kenzo setengah membentak. "Kenapa kau bicara seperti itu!"


"Dokter bilang aku baik-baik saja tapi kapan aku punya anak? sampai kapan aku harus menunggu Ken!" Lalita mulai terisak.


Kenzo menghela nafas, ia bukan tidak sakit hati melihat istrinya menangis seperti ini. Tangan nya menyeka air mata Lalita. "Aku masih punya banyak waktu untuk menunggu entah sampai kapan itu. Tapi jika kita tidak punya anak pun aku akan terus bersamamu Lita ..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2