
"Sayang sudah sampai kantor?" tanya Milan kepada Maxime di telpon.
"Baru sampai. Ada apa?"
Milan menoleh sejenak ke belakang. Laura duduk di sofa seorang diri dengan wajah gelisah.
"Laura ada di sini. Katanya mau bicara denganmu."
"Bicara apa sepagi ini?" tanya Maxime.
"Tidak tau, tapi dari wajahnya dia tampak gelisah. Mungkin sedang ada masalah dengan orang tuanya," seru Milan.
Maxime menghela nafas. "Berikan telpon nya kepada Laura."
"Pulanglah dulu, tidak enak bicara di telpon ketika dia sedang ada masalah."
"Tapi aku baru sampai sayang," sahut Maxime.
"Sebentar saja. Kasian Laura ..."
"Yasudah, aku pulang sekarang."
Milan mengangguk lalu mematikan panggilan telpon nya kemudian berjalan menghampiri Laura di sofa.
"Minum dulu ..." seru Milan duduk di hadapan Laura.
"Iya Aunty." Laura tersenyum tipis lalu mengambil secangkir teh hangat.
"Paman mu sebentar lagi pulang. Tunggu ya ..."
Laura mengangguk. "Oh iya Grandma apa kabar?"
"Baik, grandma sedang tidur, tadi baru saja selesai mandi, sarapan lalu tidur lagi ..."
Laura mengangguk-ngangguk. "Kasian ya sudah tua masih suka memikirkan grandpa."
Milan menghela nafas. "Mau bagaimana lagi, grandma mu sangat mencintai grandpa. Padahal dulu kan grandma sendiri yang menolak menikah."
"Hehe iya Aunty, bisa begitu ya. Yang awalnya menolak jadi yang paling mencintai."
"Ya begitulah kalau menikah dengan orang yang sama-sama saling mencintai, Laura ..."
Semoga saja Magma juga seperti grandma Sky. Awalnya menolakku tapi lama-lama mencintaiku.
Milan mengernyit bingung pasalnya Laura sekarang sedang senyum-senyum sendiri. Perempuan itu sedang membayangkan Magma di pikiran nya.
__ADS_1
Aneh, Laura kenapa ya ...
Lima belas menit kemudian akhirnya Maxime pun sampai ke mansion.
"Laura ..." panggilnya.
Milan dan Laura menoleh, Laura tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Paman nya, Maxime. Kemudian kembali duduk dengan Maxime yang duduk di saling Milan.
"Ada apa? pagi-pagi sekali ..."
"Hehe iya paman, maaf ya Laura menganggu."
"Tidak apa-apa," sahut Maxime. "Ada masalah?" Satu alis Maxime terangkat naik.
"Eum ..." Telapak tangan Laura mengepal gugup, sedikit ragu paman nya ini bisa membantu dirinya soal Magma tapi ia akan mencoba.
Maxime dan Milan saling menoleh heran melihat Laura yang penuh keberanian dan penuh percaya diri ketika berbicara kini terlihat kaku.
"Arsen?" tebak Maxime.
Laura mengangguk samar. Maxime pun menghela nafas panjang.
"Ayah dan anak ini ada masalah apa sampai mengadu ke sini?"
"Begini Paman, aku ingin menikah ..." ucap Laura tanpa basa-basi lagi.
"L-lalu, masalahnya dimana?" tanya Milan. "Bukan kah mereka selalu menyuruhmu dan Lalita menikah, Laura ..."
"Masalahnya ... masalahnya orang yang aku suka Magma, Aunty."
Lagi, Milan dan Maxime saling menoleh tak percaya. Maxime pun sudah tahu kalau sang adik, Miwa pasti tidak akan merestui hubungan putrinya dengan seorang mafia.
"Kenapa harus Magma?" tanya Maxime kemudian.
"Aku tidak tau, paman. Aku hanya ingin dia, tapi Dad dan Mom tidak merestuiku."
"Lalu dimana Magma? kalau kalian mau menikah kenapa hanya kau saja yang datang ke sini, Laura." seru Maxime.
"Magma tidak mau menikah denganku, Paman." Laura berkata dengan suara lemah dan wajah lesu.
"Laura mau menikah dengan Magma, tapi Magma tidak mau. Jadi bagaimana bisa menikah," seru Milan yang bingung dengan ucapan Laura.
"Jadi begini Paman, Aunty ..." bola mata Laura menatap bergantian Maxime dan Milan lalu kembali melanjutkan perkataanya.
"Aku suka Magma, tapi Magma tidak suka. Aku mau menikah tapi Magma tidak mau, rencananya aku mau menjebak Magma agar bisa menikah denganku ..."
__ADS_1
Maxime mengusap wajahnya gusar, sekarang ia mengerti permasalahan nya.
"Laura ... begini, Paman saja yang dulu sama seperti Magma, mempunyai dua putra tidak di izinkan seperti Paman yang dulu menjadi mafia. Apalagi orangtuamu yang mempunyai dua putri, mereka pasti tidak mau putrinya dalam bahaya ..."
"Tapi selama aku dekat dengan Magma tidak ada bahaya apapun yang terjadi kepadaku, Paman. Paman saja yang dulu seorang mafia bisa melindungi Aunty Milan, iya kan Aunty?" Mata Laura menatap Milan.
"I-iya sih," sahut Milan terbata.
"Itu karena cinta, Laura. Paman mencintai aunty mu, jadi Paman selalu melindungi dia. Tapi Magma? Magma kan tidak mencintaimu bagaimana dia bisa melindungi mu."
Laura menghela nafas kasar. Ternyata Maxime dan Ayahnya tidak ada bedanya, sama-sama tidak bisa membantu.
"Aku tidak akan menikah saja seumur hidupku kalau begitu," gumam Laura membuat Maxime berdecak.
*
Setelah membujuk cukup lama akhirnya Maxime pun luluh untuk membantu Laura. Laura pergi ke Restaurant untuk menenangkan pikiran nya, semoga kedatangan paman nya nanti malam bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya.
"Selamat pagi Nona ... saya Farel, Chef yang sedang magang di restaurant ini."
Laura mendongak menatap Farel yang sedang berdiri di dekatnya sambil mengembangkan senyum manisnya.
"Mau pesan apa Nona? khusus Nona saya sendiri yang melayani dan membuatkan makanan nya." Farel masih tersenyum sebagai tanda ramah.
"Boleh lihat menu nya?" tanya Laura.
"Ah iya boleh." Farel memberikan buku menu di tangan nya.
"Sebentar ya ..." Laura pun melihat-lihat menu yang ingin dia pesan.
"Nona ini model ya," seru Farel. Laura kembali mendongak dengan tersenyum lalu menganggukan kepala.
"Hehe saya sih sudah tau, cuman tanya aja," ucap Farel membuat Laura terkekeh.
"Nama restaurant ini sangat unik. Moana's kitchen, unik sekali ..." gumam Laura.
"Oh iya, kau sudah magang berapa lama di sini?" tanya Laura kepada Farel.
"Baru tiga bulan. Ini kan restaurant kakak saya."
"Oh bukan magang dong, tapi membantu kakak mu," sahut Laura.
"Hehe iya juga sih, Nona cantik." Farel menggoda membuat Laura tersenyum lalu kembali melihat menu makanan yang ia pegang.
Tak jauh dari tempat Laura duduk, Kenzo memperhatikan Laura dan sang adik. Dia menggulum senyum di wajahnya dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celana.
__ADS_1
"Andai kau ingat, kau yang memberi nama restaurantku ini Laura ..." gumam Kenzo.
Bersambung