M & L

M & L
#Pertengkaran Kenzo dan Lalita


__ADS_3

Lalita menuju apartemen Kenzo malam hari. Ia menekan bel dan tak lama kemudian Kenzo membuka pintu apartemennya. Matanya turun ke kotak makan yang di pegang Lalita.


"Lita ..."


"Ken, eum kau sudah makan?" tanya Lalita.


"Baru mau masak," sahut Kenzo. "Ada apa malam-malam kesini?"


"Ah, aku hanya kesepian saja sendirian di mansion Magma."


Beberapa hari ini Lalita yang semula tinggal di apartemen harus tinggal di mansion Magma sementara waktu dengan alasan mansion Magma tidak ada siapa-siapa, pria itu khawatir jika ada pelayan yang hendak mencuri hartanya walaupun tidak mungkin.


Karena alasan sebenarnya, ia ingin Lalita menjauh sedikit dari Kenzo dan membuat perempuan itu merasakan rasanya selalu ingin dekat dengan Kenzo dan segera pergi ke apartemen Kenzo dengan berbagai alasan.


Contohnya sekarang, membawakan makanan yang ia masak sendiri.


"Kan ada pelayan," sahut Kenzo dengan entengnya.


"Mereka bukan teman untuk mengobrol, Ken. Huh."


"Laura sering sekali mengobrol dengan para pelayan dan anak buah suaminya. Bahkan menjadikan mereka teman, kau juga harus seperti itu Lita."


Lalita berdehem, menunduk sambil menggosok hidungnya. Ini bukan kali pertama Kenzo memuji Laura di hadapan nya, ia tidak boleh menunjukan sikap tidak sukanya dengan Kenzo yang membahas Laura.


Lalita mendongak, tersenyum dan menganggukan kepala. "Iya deh, besok-besok aku mengobrol dengan mereka saja. Tapi sekarang, boleh kan kita makan bareng?"


Kenzo mengangguk dan tersenyum tipis, membuka pintu lebih lebar mempersilahkan Lalita masuk.


Lalita duduk di meja makan sambil membuka kotak makan yang ia bawa.


"Membuat apa?" tanya Kenzo.


"Nasi goreng keluarga De Willson," sahut Lalita.


"Nasi goreng?" Kenzo menarik kursi dan duduk di samping Lalita. Lalita menoleh dengan mengangguk, tak lupa senyuman di wajahnya.

__ADS_1


"Ini resep dari Tuan Ataric De Willson, pokoknya resep turun temurun. Aku belajar ini dari paman Maxime, kau coba ya. Nih, aaaa ...."


Keduanya terdiam, Lalita yang terlalu bersemangat sampai tak sadar hendak menyuapi Kenzo tanpa persetujuan pria itu. Sendok itu hanya diam di dekat mulut Kenzo, bola mata keduanya saling menatap, terkunci dengan tatapan dalam penuh arti.


Lalita menghela nafas, ia merasa malu mungkin Kenzo tidak mau di suapi oleh dirinya. Ketika hendak menurunkan kembali sendoknya, Kenzo langsung memakan nasi goreng tersebut membuat Lalita menaikan kedua alisnya dengan wajah terkejut.


Pria itu mengunyah dengan tatapan tak henti menatap Lalita.


"B-bagaimana?"


Kenzo mengangguk. "Enak. Apa resepnya?" sahut Kenzo sambil mengambil sendok di tangan Lalita dan menarik kotak makan di depan perempuan itu. Ia makan dengan lahap.


Lalita tersenyum lalu berbisik. "Jangan bilang kau mau mencuri resep nasi goreng keluarga De Willson ..."


Kenzo terkekeh. "Mana mungkin, aku bukan plankton," sahut Kenzo yang tiba-tiba ingat dengan kartun spongebob.


Lalita tertawa, ia memperhatikan Kenzo makan sambil sesekali tersenyum. Lalita juga menuangkan air ke gelas dan menyimpan nya di depan Kenzo.


"Terimakasih," seru Kenzo dengan mulut terus mengunyah.


Dia ini baik dan sederhana. Tapi Lala tidak suka, dia memang bukan tipe pria Lala. Lala tidak mungkin mau dengan pria sederhana, tapi Lala beruntung karena walaupun sudah menikah, dia masih di ingat oleh Kenzo.


"Lita ..." panggil Kenzo.


"Lita ..."


Kenzo mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajah Lalita. "Lita hei ..."


Lalita sontak mengerjapkan matanya, membuyarkan lamunannya. "Ya, apa?"


"Kau kenapa?"


"A-aku ..." Lalita kemudian menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Ken."


"Beneran?" tanya Kenzo membuat Lalita mengangguk.

__ADS_1


Kemudian tatapan Kenzo beralih ke kotak makan yang ia pegang. Ternyata Lalita hanya membuat satu nasi goreng saja, dan dia tidak membaginya kepada Lalita. Kenzo baru sadar itu, ia malah asik makan sendirian.


"Lita apa kau marah karena nasi goreng ini? kau hanya memasak satu ternyata. Maaf aku tidak tau ..." Kenzo menggeser kotak makannya ke arah Lalita.


"Eh, bukan. Bukan karena itu, makan saja." Lalita kembali mendorong kotak makan tersebut.


"Lalu kenapa kau cemberut?" tanya Kenzo.


"A-aku ... aku hanya merindukan orang tuaku," sahut Lalita berbohong. "Magma masih melarangku pulang."


Kenzo menghela nafas, merasa lega. Ia pikir karena nasi goreng.


"Coba kau hubungi Laura, mungkin dia bisa membantu suaminya menyuruhmu pulang."


"Kau, tidak mau pulang juga?" Lalita bertanya.


"Aku pulang kalau Laura menyuruhku pulang. Dari awal aku di sini karena Laura menyuruhku menemanimu kan ..."


Lalita tersenyum getir. "Oh karena Lala ternyata," gumamnya pelan.


"Kenapa?" Kenzo menaikan alisnya tidak mendengar ucapan Lalita barusan.


Lalita menggeleng. "Kau kenapa nurut sekali sih dengan Lala. Kalau kau tidak mau menemaniku, tidak ikhlas. Pulang saja dari awal, jangan menemaniku karena terpaksa, aku bukan anak kecil yang harus di temani, Ken. Aku bisa melakukan semuanya sendirian!"


Kenzo mengernyit tidak mengerti. "Lita bukan begitu maksudku ---"


"Kau menamaniku mencari bahan kain untuk gaun pengantin, menemaniku ke mall, menemaniku shopping dan makan. Semua itu juga atas perintah Lala, Ken?"


"Jawab!" seru Lalita yang melihat Kenzo malah diam.


Kenzo mengangguk dengan terpaksa. "Lala menyuruhku ikut kemanapun kau pergi."


Lalita menyungingkan senyuman getirnya, tak habis pikir. Ternyata Kenzo tidak ikhlas menemaninya, semuanya karena Laura.


"Lita ..." panggil Kenzo ketika Lalita beranjak pergi dari apartemennya.

__ADS_1


"Lalita!" teriak Kenzo ketika Lalita bergegas pergi.


Bersambung


__ADS_2