M & L

M & L
#Makan bersama Kenzo


__ADS_3

Kenzo duduk di depan Laura, menatap penampilan Laura yang berbeda dari biasanya, dari cara bermake-up saja tidak seperti Laura yang seorang model. Lebih terlihat sangat natural, rambut hitamnya di gerai lurus, biasanya model rambut Laura itu Curly dengan warna rambut coklat. Wajahnya terlihat manis, apalagi saat tersenyum.


"Jadi, kau juga bekerja di sini?" Laura yang tengah makan mendongak.


Dengan tersenyum Kenzo menganggukan kepala, ia tidak malu walaupun bertemu dengan perempuan yang ia suka dan bekerja di restaurant orang lain.


"Aku tinggal di sini entah sampai kapan. Jadi aku pikir, kesempatan bagus sambil cari uang disaat aku punya keahlian memasak."


"Kau benar, aku setuju denganmu. Aku kagum, kau sudah punya restaurant yang cukup besar di Indonesia tapi masih mau bekerja di restaurant orang lain. Bagus Ken, kau tidak malu sama sekali."


"Ken?" Kenzo menaikkan alisnya.


"Kenapa?" tanya Laura.


"Ah tidak," sahut Kenzo tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja, baru kau yang memanggilku dengan sebutan Ken, biasanya orang-orang memanggilku Kenzo."


"Aku Laura, tapi orang-orang terdekatku memanggilku Lala."


"Berarti, boleh dong aku menganggap mu orang terdekatku karena memanggilku, Ken?" tanya Ken dengan ragu-ragu.


Laura diam sejenak kemudian menganggukan kepala membuat Kenzo tersenyum.


"Ya, mulai sekarang, aku akan menganggap mu orang terdekatku karena mungkin aku akan lebih sering membutuhkan mu, Ken. Aku tidak punya teman mengobrol di sini."


"Asistenmu ..."


"Ah sudahlah, jangan bahas Jeni," potong Laura membuat keduanya terkekeh.


"Bagaimana ikan nya?" tanya Kenzo.

__ADS_1


Laura memotong daging ikan tersebut. "Seperti biasa, setelah puluhan tahun rasanya tidak berubah, sama dengan yang di masak Ibumu."


Kenzo mengangguk-nganggukan kepala nya sambil tersenyum dan hanya diam melihat Laura makan dengan lahap.


Sampai ketika makanan nya sudah habis, Kenzo menyodorkan minuman untuk Laura.


"Terimakasih," ucap Laura lalu meneguk minuman nya.


"Ah, kenyangnya ..." Laura menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kau pintar memasak, Ken." Laura mengacungkan jempolnya.


"Ini kali pertama aku makan di depan orang yang memasaknya."


"Memangnya suamimu tidak pernah memasak, Laura?"


Laura menghela nafas kasar lalu menggelengkan kepala.


"Dia pintar memasak juga. Waktu adiknya mengidam makanan Spanyol, dia datang ke mansion Yura dan memasak sesuatu di sana. Tapi, denganku tidak mau memasak."


"Mungkin suamimu ingin terus makan masakanmu Laura, masakanmu mungkin sangat enak sampai membuat dia ketagihan jadi tidak mau memasak."


Laura tersenyum tipis ketika mendengar Kenzo yang mempunyai pikiran positif tentang Magma. Padahal bukan seperti itu kenyataannya.


*


Kenzo mengantar Laura sampai depan mobilnya setelah mereka mengobrol cukup panjang, yang di bahas kebanyakan soal resep makanan. Laura mau memasak sesuatu yang baru untuk Magma.


Walaupun Kenzo menaruh hati kepada Laura, ia tahu Laura sudah jadi milik orang lain. Bertemu dengan Laura hanya untuk menyenangkan hatinya saja, tidak lebih. Ia tidak berharap Laura menjadi miliknya.

__ADS_1


Di balik jendela Restaurant Farel tengah memperhatikan Laura yang mengobrol sambil tertawa dengan sang Kakak Kenzo.


Kemarin malam, ia memang tidak berniat memberitahu Kenzo kalau ia bertemu dengan Laura di restaurant. Tapi mulutnya yang tidak bisa di rem ketika berbicara malah keceplosan.


"Bahagia sekali Kak Kenzo, jadi kasihan ..." gumam Farel kemudian menghembuskan nafas.


"Yasudah, aku pulang dulu ya, Ken. Bye ..."


Kenzo menyahut lambaian tangan Laura kemudian perempuan itu masuk ke mobilnya. Sekali lagi, dengan tersenyum Kenzo melambaikan tangan ketika mobil perempuan itu melaju pergi.


"Kak ..." panggil Farel ketika Kenzo masuk kembali ke restaurant.


Kenzo menghentikan langkahnya dan menoleh. "Ya?"


Farel berjalan mendekati Kenzo dan berhenti tepat di depan nya.


"Kakak tidak berniat merebut Kak Laura dari suaminya kan?"


Pertanyaan itu membuat Kenzo berdecak kemudian mendorong kening Farel dengan jari telunjuknya. "Sembarangan kalau bicara!"


"Huh, ya lagian kenapa tertawa seperti tadi bersama Kak Laura."


"Hanya tertawa, apa salahnya?" Kenzo balik bertanya.


"Biasanya jadi canda bisa jatuh cinta kak." Farel menjelaskan membuat Kenzo menggelengkan kepala beberapa kali.


"Lagian sebelum kita ke sini Kakak galau terus kan karena Kak Laura, jadi Farel khawatir Kakak mau merebut Kak Laura dari suaminya."


"Semua sudah terobati karena bertemu dengan dia. Dia juga terlihat bahagia dengan pernikahan nya. Cinta itu kalau tidak bisa memiliki ya mengikhlaskan. Iya kan?" Kenzo menepuk-nepuk pundak Farel beberapa kali lalu pergi kembali ke dapur untuk memasak.

__ADS_1


Farel mematung di tempat. Heran dengan sikap Kenzo yang galau parah di Indonesia tapi ketika pergi ke Spanyol semuanya seakan terlihat baik-baik saja.


Bersambung


__ADS_2