
Magma kembali sibuk dengan pekerjaannya setelah membersihkan tubuh Laura. Ia menghela nafas kasar, mengusap wajahnya lalu menggelengkan kepala berusaha menyingkirkan pikiran kotor di otaknya, s*alnya dia terbayang-bayang tubuh Laura tadi.
Magma sempat berdebat karena tidak mau membersihkan tubuh Laura dan meminta perempuan itu membersihkan tubuhnya oleh perawat, tapi Laura terus menolak. Alhasil dengan pasrah Magma membersihkan tubuh istrinya sampai Laura telanj*ng bulat di depan matanya.
Magma mengusap tengkuk lehernya, bulu-bulunya terasa berdiri, ia tahu apa yang dia butuhkan sekarang. Sabun, ya sabun.
Pria itu pergi ke kamar mandi membuat Laura yang tengah menonton film di ponselnya menoleh dengan heran kemudian kembali fokus menonton film di ponselnya.
Satu jam berlalu, Laura heran karena Magma masih belum keluar.
"Dia itu sedang apa," gumam nya.
"Kenapa di kamar mandi lama sekali. Dia tidak pingsan kan."
Laura yang tiba-tiba khawatir dengan suaminya memilih beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi dengan membawa tihang infusan.
Tok tok tok.
"Magma ..."
Tok tok tok
"Magma ..."
"Magma kau sedang apa di dalam? kau baik-baik saja kan?"
Laura mencoba memutar-mutar knop pintu. Sampai akhirnya terdengar suara kran air, dua menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, Laura mundur beberapa langkah.
"Lebih baik kau tidur, Lala. Dari pada menggedor pintu kamar mandi!" seru Magma.
"Lala tidak menggedor, Lala hanya mengetuk."
"Sama saja!" sahut Magma lalu melengos berjalan ke sofa dan kembali mengambil laptopnya di meja.
Laura mendengus kasar. "Kumat lagi jahatnya!"
Perempuan itu kembali ke ranjang lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Apa si banci itu tidak mencarimu, Lala?" tanya Magma.
__ADS_1
"Ini kan masih pagi, Jeni masih tidur."
"Ck, asisten tidak guna!" ujar Magma dengan mata fokus ke laptop di atas pahanya.
"Dia cekatan tau, kalau Lala suruh apa saja langsung di kerjakan tanpa di tunda-tunda."
"Dia tidak bisa melindungi mu, tulangnya terlalu lunak."
Laura menoleh ke arah Magma dengan tersenyum. "Sekarang kan sudah ada yang melindungiku ..."
Magma mendongak menatap iris mata Laura sejenak lalu kembali fokus ke laptopnya.
"Magma ..." panggil Laura.
"Hmm."
"Bedakan antara Lala dan Laura. Suatu saat kau akan menyesal kalau aku sudah jadi Laura Zahaira Bachtiar lagi ..." Seru Laura kemudian bergerak tidur membelakangi Magma.
Magma kembali menatap Laura, kini ia menatap punggung istrinya dengan penuh arti. Seakan sedang mencerna maksud dari ucapan Laura barusan.
*
Jeni bersenandung pelan sambil mengeringkan rambutnya setelah keramas. Kemudian ia memakai beberapa make up yang membuat wajahnya terlihat natural dan cantik, walaupun Jeni aslinya seorang pria tapi tangan nya pandai memainkan alat make up yang membuat wajahnya malah terlihat cantik dari pada tampan.
Sebagai polesan terakhir dari make up nya, Jeni memakai lipstick berwarna nude.
"Jeni cantik ulala manjalita ... uh gemes deh ah." Ia memuji dirinya sendiri di depan cermin.
"Sekarang Jeni mau sarapan dolo." Pria itu pun keluar dari kamar pergi ke dapur.
"Laura di kamar ya," gumam Jeni mendongak menatap pintu kamar Laura yang tertutup.
Kemudian langkah Jeni terhenti tiba-tiba ketika melihat meja makan yang kosong. Ia melebarkan matanya.
"Astaga ... dimana makanan nya, apa Lala lupa memasak hari ini, terus si tua bangka marah dong kalau Lala lupa masak. Gawat ..."
Dengan tergesa-gesa Jeni berlari ke kamar Laura lalu membuka pintu kamar nya. Ia semakin kaget ketika kamar Laura kosong.
"La ..."
__ADS_1
Jeni kembali menuruni anak tangga sambil terus meneriaki nama Laura.
"Lala ih dimana ..."
"Lala ..."
Dua orang pelayan perempuan yang mendengar teriakan Jeni pun berlari menghampiri Jeni.
"Kalian lihat Lala?" tanya Jeni tepat ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir.
"Nyonya kan di bawa ke Rumah Sakit, Tuan."
"A-apa? Lala di bawa ke Rumah Sakit?"
Dua perempuan itu mengangguk.
"Apa gara-gara kdrt?"
Dua perempuan itu saling menoleh lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf, kami tidak tau Tuan."
"Astaga ih Lala, Lala kenapa ih ..." Jeni mulai khawatir, ia buru-buru mengambil ponsel di saku celananya kemudian mencoba menelpon Laura.
Jeni terus menunggu telpon nya yang masih berdering, Laura masih belum mengangkatnya membuat Jeni semakin frustasi saja.
"La, angkat dong La. Jangan bikin Jeni khawatir ih," rengek Jeni.
"Kalian tau di bawa ke Rumah Sakit mana?" Jeni bertanya kepada dua pelayan tersebut dengan ponselnya yang masih menempel di telinga.
Dua perempuan itu kembali menggelengkan kepala. Karena mereka benar-benar tidak tahu Tuan nya membawa Laura ke Rumah Sakit mana.
"Apa?" telpon dari Jeni di angkat oleh Magma karena Laura sedang makan.
"Hei brewok, kau apakan Lala hah? jangan macam-macam dengan Jeni ya, jangan cari masalah dengan Jeni ya, dimana Lala sekarang. Katakan cepat katakan!" seru Jeni dengan jantungnya yang berdegup kencang karena amarah.
"Akkhhh!!"
Jeni sontak melebarkan matanya sambil menutup mulut nya yang terbuka karena kaget mendengar teriakan Laura.
"LAURA ... JENI DATANG, BERTAHAN LALA SAYANG." teriak Jeni dengan suara melengking khas banci nya.
__ADS_1
Jeni segera berlari ke luar untuk mencari Laura. Laura sendiri menjerit karena giginya kegigit.
Bersambung