M & L

M & L
#Kemarahan Magma


__ADS_3

BRAKH


PRANG


PRANG


Dari bawah, Benjamin menatap ngeri pintu kamar Magma yang berada di lantai dua, suara pecahan kaca, bantingan kursi dan meja tak henti-hentinya ia dengar.


Lail hanya diam menunduk mendengar amukan Magma seorang diri di dalam kamar. Bayuni sudah memberikan surat perjanjian antara Mahavir group dan De Willson group yang tentunya isinya sangat memberatkan Magma.


Magma tidak terima, marah dan sangat kecewa ketika di kirimi surat itu dari Bayuni. Magma tidak menyangka Lail tega membohongi dirinya, padahal dari semua orang yang ada, Lail lah yang paling di percaya oleh Magma.


"Arrrrggghhh!!"


PRANG


PRANG


Pukulan keras melayang kembali ke cermin sampai hancur membuat tangan nya mengeluarkan banyak darah. Amarahnya sampai di ubun-ubun, dada nya terasa sesak, rahangnya mengeras dengan jantung yang berpacu lebih cepat.


Dalam surat perjanjian itu tertulis jika Magma menyerahkan perusahaan seluruhnya kepada De Willson group. Perusahaan akan tetap menjadi milik Magma jika Magma menikahi Laura sepupu dari Winter Louis De Willson. Dan lagi, ada beberapa perjanjian yang tidak masuk akal ketika Magma nanti sudah menikah dengan Laura.


Mahavir's group yang berjaya di Spanyol akan sepenuhnya menjadi milik De Willson, Magma tidak terima itu. Ia berjuang memajukan perusahaan dan berakhir di tangan De Willson dengan sia-sia.


Si*l nya Magma tidak bisa membunuh Lail, karena di sisi lain Lain juga banyak membantu dirinya dan Magma sendiri sudah menganggap Lail seperti seorang kakak. Hanya saja rasa kecewa itu sangat besar kepada Lail.


Ketika Magma menuruni anak tangga. Benjamin dan Bayuni langsung memalingkan wajahnya seakan pura-pura tidak melihat Magma sementara Lail hanya bisa menunduk.


Lantai mansion di penuhi darah yang bercucuran dari punggung tangan Magma. Lail yang melihat itu akhirnya memilih menyusul Magma karena khawatir dengan keadaan Tuan nya.

__ADS_1


"Lail ..." seru Bayuni yang hendak mencegah Lail untuk mengikuti Magma tapi Lail sudah berlari jauh menyusul Magma.


"Berhenti!" seru Magma ketika Lail berlari melewati dirinya untuk membukakan pintu mobil.


Lail pun menghentikan langkahnya dan dengan ragu-ragu ia berbalik menatap Magma.


"Aku kecewa denganmu Lail ..." ucap Magma dengan nada rendah, sorot matanya penuh kekecewaan kepada Lail.


"Maafkan aku Tuan ..." Lail menunduk lebih dalam. Sesekali ia menatap punggung tangan Magma yang masih mengeluarkan darah.


"Tangan anda harus di obati dulu Tuan, saya akan memanggil Dokter ke sini." Lail hendak mengambil ponselnya di saku rok.


"Tidak perlu!" sergah Magma membuat Lail perlahan mendongak dengan ponsel di genggaman nya.


"Aku ke Rumah Sakit sendiri."


"Kalau boleh jujur saya menyayangi anda sebagai adik saya, Tuan. Saya tidak ingin melihat anda kesepian di masa tua nanti, saya punya Alex dan saya harap anda juga mempunyai seseorang yang akan menemani anda ..." seru Lail tanpa membalikan tubuhnya.


"Kakak saya Smith saat masih hidup selalu memberi wasiat kepada saya untuk selalu menjaga anda, Tuan. Saya menjaga anda sebagaimana Kakak saya menjaga saya saat masih hidup ..."


Magma menghela nafas kasar, memejamkan mata sejenak lalu masuk ke mobilnya. Perkataan Lail terdengar sangat tulus sampai hati Magma sedikit tersentuh mendengarnya. Tapi tetap saja Magma kecewa dengan Lail.


*


Dengan satu tangan yang di perban, Magma meneguk kasar alcohol di tangan nya sampai sebagian tumpah ke baju yang di kenakannya. Ia berada di sebuah klab dari siang sampai malam hari, Magma terus minum dan minum, ia menghiraukan ponselnya yang terus berdering di atas meja. Benjamin dan Bayuni terus menghubunginya, Lail hanya menjaga di depan klab saja karena takut terjadi sesuatu dengan Tuan nya.


Klab malam ini penuh dengan orang-orang yang melampiaskan kebahagiaan dan masalah mereka lewat minuman, seperti Magma salah satunya.


Seorang perempuan yang tengah berjoged berhenti ketika menatap Magma seorang diri di sofa. Ia tersenyum miring lalu menghampiri pria itu.

__ADS_1


"Hai ..." perempuan bermata biru dan berambut pirang duduk di samping Magma.


"Mau aku temani Tuan ..."


Magma menoleh meneliti wajah perempuan di sampingnya lalu tersenyum kecut ketika ia menyadari bahwa perempuan di sampingnya adalah Byanca, model yang mewakili Negara Spanyol. Byanca sendiri kenal dengan Magma yang menjadi sosok mafia di Negara nya.


"Mari ..." Dengan lembut Byanca membantu Magma berdiri dan membawanya ke sebuah kamar.


*


Pagi harinya, Byanca mengerjapkan mata, dia menggeliat meregangkan otot-ototnya kemudian menguap. Perlahan ia bangun untuk duduk dengan memeluk selimut tebal yang menutupi tubuh telanj*ngnya.


Ia tersenyum menatap Magma yang tengah memakai dasi di depan cermin. Klab sudah sepi, tinggal mereka yang menyewa kamar saja yang masih belum keluar dari klab.


"Bagaimana, kau puas semalam?" tanya nya dengan tersenyum.


Magma berbalik dengan masih mengenakan dasi miliknya. "Ternyata model sepertimu tidak harus menjaga harga diri. Ini bukan kali pertama kau tidur dengan pria, kan."


Magma kembali berbalik mematut dirinya di depan cermin. Byanca terkekeh. "Model ya model, ketika masuk kamar beda lagi. Tidak perlu di samakan, Tuan ..."


Magma berdecih. "Apa aku harus membayarmu?" seru Magma menatap Byanca dari cermin di depan nya.


Byanca kembali menguap. "Huaaaa ... bayaran nya menjadi kekasihku saja bagaimana?" Byanca menggulum senyum di wajahnya.


Magma menarik ujung bibirnya tersenyum menatap Byanca di cermin. "Jangan harap!" hardik Magma lalu keluar dari kamar klab.


"Cih, lihat saja kau pasti akan datang kepadaku lagi, Tuan Magma Mahavir kaya raya ..." gumam Byanca sambil menatap kepergian Magma dari kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2