
Setelah pulang dari restaurant itu, Laura memilih untuk tidur. Seharusnya mereka masih punya waktu untuk nonton film bersama sebelum tidur, tapi Magma saja masih belum kembali ke mansion.
Jam dua belas malam deru mobil kembali memasuki halaman mansion, Magma melangkah masuk ke mansion setelah memarkirkan mobilnya di depan teras.
Ketika ia masuk ke kamar, ia melihat istrinya tidur meringkuk sambil memeluk guling. Pria itu masuk sebentar ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan naik ke ranjang dengan biasa, tidak memakai baju hanya bawahan celana pendek saja.
Pria itu tiduran sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Lala ..." panggilnya tanpa menoleh ke samping.
"Lala bangun!"
Dua kali memanggil Laura masih belum bangun, Magma menghela nafas kasar dan memanggil istrinya lebih keras.
"LAURA!"
Sontak Laura langsung duduk dari tidurnya karena jantungnya seakan pecah seketika, ia sangat kaget sampai langsung sadar dari tidurnya.
"A-apa ..." Laura celengak-celinguk dengan jantung berdebar kencang.
"Pijat!" Magma langsung mengganti posisinya menjadi tengkurap.
Laura menoleh ke samping kirinya kemudian menghembuskan nafas dengan mengelus-ngelus dadanya. Untung dia tidak mempunyai penyakit jantung.
"Cepat!" titah Magma.
"Bisa tidak besok saja, aku ngantuk dan kelelahan."
"Setiap malam alasanmu kelelahan dan kelelahan. Kau tidak bisa tidur sebelum memijat aku, Lala!"
Laura mendengus kasar, akhirnya mau tak mau ia memijat Magma agar dirinya juga bisa cepat tidur.
"Besok hari senin, aku mau jalan-jalan." pinta Laura.
"Hm."
Laura memijat Magma sambil sesekali menguap, pijatannya kali ini banyak protes dari Magma karena Laura tidak fokus memijat, ia memijat asal dan kurang tenaga.
__ADS_1
*
Sementara itu di kamarnya, Jeni sedang di intimidasi oleh Arsen karena Laura tidak muncul di televisi biasanya selalu ada beberapa acara yang akan mengundang Laura atau ada foto baru yang bisa Arsen dan Miwa lihat.
"Kenapa tidak ada foto baru dari Lala? apa dia tidak ada pemotretan lagi, Jen?" tanya Arsen.
Jeni tidak mungkin menjawab kalau Laura berhenti jadi model alhasil dia berbohong.
"Tuan, kan baru menikah. Jadi masih libur, Lala belum kembali pemotretan."
"Mau sampai kapan dia libur? memangnya hanya pemotretan menganggu pernikahan mereka? Magma juga kerja kan."
"Iya Tuan Magma kerja. Tapi, Lala belum mau kembali pemotretan, Jeni sih sudah coba paksa tapi Lala bilang nanti saja."
"Jujur kepadaku, apa putriku baik-baik saja di sana, Jen?"
Tuan Arsen ... Putrimu di jadikan babu di sini asal kau tau, Tuan. Uh Jeni aja gemes banget dengan si tua bangka itu, tapi kalau Jeni bicara apa yang sebenarnya terjadi nanti Tuan Arsen membawa balik Lala terus Lala pasti sedih dan nyalahin Jeni. Ih Jeni maunya Lala sendiri yang ninggalin si tua bangka itu.
"Hallo Jen!"
"E-eh iya Tuan. Lala baik-baik saja, Tuan coba saja video call besok."
Setelah telpon di matikan Jeni menghembuskan nafas.
"Sampai kapan sih Lala bertahan sama si tua bangka itu ih greget banget deh Jeni!"
*
Pagi harinya seperti biasa Laura sudah bangun dari pukul tiga pagi. Menyapu, mengepel, membersihkan debu di beberapa hiasan, mencuci baju dan terakhir memasak untuk suaminya.
Mereka makan bersama seperti biasa, Laura yang kemarin malam marah dengan Magma kini sikapnya sudah kembali ceria kepada suaminya.
Laura tahu, ini resiko menikahi pria yang tidak ia cintai maka dari itu ia akan mencoba untuk sabar lagi dan lagi, sampai dia berhasil mendapatkan Magma.
Selesai makan Magma mengecup pipi kanan Laura lalu berangkat pergi bekerja. Kecupan itu hanya kewajiban akibat terikat surat perjanjian, bukan kecupan karena Magma mencintai istrinya. Terkadang Laura sedih jika ingat tidak ada cinta di ciuman yang di berikan suaminya itu.
Laura masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah meminta izin kepada Magma untuk meminjam mobilnya sehari.
__ADS_1
"Kemana ya ..." gumam Laura yang duduk di balik kemudi.
"Ke mall, ah mau apa juga. Ke taman, tidak seru juga. Aku butuh teman ngobrol ..." rengeknya sendirian di dalam mobil.
Laura tidak mau mengajak Jeni, karena jika ada Jeni si pria tulang lunak itu terus menjelek-jelekan Magma membuat kuping Laura panas mendengarnya.
"Farel, ya Farel. Aku bertemu dia saja ..."
Perempuan itu pun melajukan mobilnya menuju Spanish resto, restaurant yang semalam ia datangi bersama suaminya. Di sana Farel bekerja.
Dua puluh menit perjalanan Laura akhirnya tiba di Spanish Resto. Ia keluar dari mobil dengan memakai kaca mata hitam, masker dan topi karena di perjalanan tadi ketika Laura membuka jendela mobilnya ternyata banyak orang yang mengenali dirinya dan berteriak memanggil Laura.
Semalam karena jalanan tidak terlalu ramai dan jendela mobil tidak di buka, tidak banyak orang yang memanggil perempuan model itu.
Laura duduk di salah satu kursi kemudian seorang pelayan datang sambil memeluk buku menu.
"Silahkan Nona ..." pelayan perempuan itu menaruh dengan sopan buku menu itu di hadapan Laura.
Laura membukanya, sementara si pelayan sudah siap sedia dengan pulpen dan buku kecil di tangan nya untuk mencatat makanan yang akan di pesan Laura.
Laura mendongak. "Apa di sini ada koki baru? usianya sangat muda, sekitar dua puluhan."
"Maksud anda Farel, Nona?"
Laura mengangguk.
"Dia sedang memasak di dapur." sahut si pelayan.
Laura pun menutup buku menu dan memberikan nya kepada pelayan perempuan tersebut.
"Aku pesan ikan goreng yang di masak Farel saja. Tolong katakan Laura yang memesan ya."
"Ah iya, baik Nona."
Laura menunggu beberapa menit sampai akhirnya ia mencium aroma yang sangat lezat dari ikan goreng yang biasa ia makan.
"Laura ..."
__ADS_1
Laura menoleh ke samping dan sedikit kaget ternyata bukan Farel yang datang membawa ikan goreng pesanannya. Tapi Kenzo, pria itu berdiri dengan memegang piring berisi ikan goreng pesanan Laura dan Kenzo memakai pakaian Chef, lengkap dengan topi koki yang tinggi.
Bersambung