M & L

M & L
#Menjodohkan Lalita dan Kenzo


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita jodohkan saja pria itu dengan kembaranmu," seru Magma sambil membuka kancing bajunya satu persatu. Sementara Laura tengah memeriksa belanjaannya di ranjang.


"Pria siapa?" tanya Laura.


"Pria yang bersamamu di New Zealand."


"Kenzo?"


"Jangan sebut namanya aku tidak suka!"


"Cih, kenapa kau ingin menjodohkan dia?"


"Agar dia melupakanmu. Dia menyukaimu, kan."


"Jangan sembarangan!" sahut Laura.


"Kau tidak peka Laura. Dia menyukaimu, aku tau itu. Supaya rumah tangga kita tentram, lebih baik kita jodohkan dia dengan kembaran mu."


"Kalau rumah tangga tidak tentram, kau masalahnya. Dari dulu kau yang menjadi masalah kenapa menyalahkan orang lain." kesal Laura.


Magma menghela nafas menghampiri istrinya. "Apa kau masih belum memaafkanku?"


"Pijat kakiku!" titah Laura naik ke ranjang dan meluruskan kakinya.


Dengan senang hati Magma duduk di samping ranjang dan memijat kaki istrinya dengan lembut. Sesekali tangan nya hendak naik ke paha Laura, tapi kembali turun ketika Laura berdecak.


"Enak tidak?" tanya Magma.


"Hm." Laura bersender di kepala ranjang sambil memejamkan matanya.


"Kapan buka segel sayang?" tanya Magma membuat Laura membuka matanya.


"Kau bilang apa?"


"Kapan buka segel?" ulang Magma dengan tersenyum.


"Jangan macam-macam ya!"


"Apa aku akan di penjara jika macam-macam denganmu?"


Laura mengangkat kedua bahunya dan kembali memejamkan mata sambil menikmati pijatan suaminya. Magma menghela nafas melihat Laura yang sepertinya kelelahan.


"Mau tidur di pahaku tidak?"


"Tidak!" sahut Laura tanpa membuka matanya.


"Ini tidak, itu tidak. Bisa sesekali jangan menolak sayang?"


"Kau dulu juga menolakku. Kenapa aku tidak boleh menolak?"


"Ayolah ... berhenti membahas dulu. Aku ini sudah tua, kau tidak kasihan melihatku mengemis ingin tidur dengan istriku sendiri."


Laura membuka matanya. "Kau dulu punya rasa kasihan kepadaku?"


Magma menghembuskan nafas kasar. Ia mengalah saja dari pada terus berdebat dengan Laura. Laura tersenyum dan kembali memejamkan matanya.


*

__ADS_1


Ketika Laura bangun, semua belanjaannya sudah tidak ada di ranjang, Magma sudah memasukannya ke lemari. Dan kini, pria itu tengah menyetrika baju sambil menonton bola.


"Dulu aku tidak pernah melicin pakaian di kamar," seru Laura membuat Magma menoleh dan mendapati istrinya tengah duduk di ranjang dengan muka bantalnya.


"Kau mau aku melicin di tempat lain hm?" tanya Magma sambil tangan nya terus melicin pakaian.


"Iya, licin di tempat lain saja!"


"Aku tidak mau, takut kau hilang kalau aku tinggalkan di kamar," sahut Magma seraya tersenyum.


Laura menggelengkan kepala, ia beranjak dari ranjang hendak mandi tapi perempuan itu membuka semua pakaiannya di depan mata Magma. Membuat Magma membuatkan mata seketika kala istrinya telanj*ng bulat di depan nya.


"Jangan melihatku seperti itu!" kata Laura berjalan menuju kamar mandi dengan pinggangnya yang melenggak-lenggok.


Bahkan ketika pintu kamar mandi tertutup pria itu masih diam menatap pintu kamar mandi penuh harap, berharap Laura memanggil dirinya untuk mandi bersama.


Ia mengendus bau gosong, ketika di lihat salah satu dress Laura bolong karena Magma fokus menatap pintu kamar mandi.


Magma mendesis kesal. "Sial*n!"


"Dia pasti marah.


*


Ketika makan malam, Laura tidak berkata apapun selain menikmati makan malam nya. Berbeda dengan Magma yang hanya diam memperhatikan istrinya. Dia terbayang hal tadi di kamar.


"Jangan membayangkan hal-hal kotor ketika makan!" seru Laura tanpa menatap Magma.


"Kau tau apa yang aku pikirkan sayang?" Magma tersenyum.


"Isi pikiran pemain wanita sepertimu apalagi selain hal-hal yang kotor?" Laura tersenyum miring.


"Apa kau tidak kelelahan?" Laura mengalihkan pembicaraan.


"Kelelahan karena apa?" tanya Magma.


"Bersih-bersih di mansion."


"Tidak," sahut Magma mengangkat kedua bahunya. "Berkeringat saja tidak ada, kalau belajar bela diri baru sedikit kelelahan."


Laura menghela nafas merasa gagal mengerjai suaminya. Memang benar, kekuatan perempuan dan laki-laki itu berbeda.


Aku permainkan saja n*fsu nya kalau begitu ...


Laura tersenyum miring dengan ide jail di kepalanya, Magma mengernyit melihat istrinya tersenyum tanpa sebab.


*


"Hallo. Ini siapa?" seru Lalita di telpon.


"Kakak iparmu."


"Kakak ipar? Magma?"


"Hm."


"Sejak kapan kau merasa jadi kakak iparku? Aku tidak menganggapmu kakak ipar apalagi setelah kau menjadikan Laura pembantu di mansion mu!" kesal Lalita.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu untuk basa-basi. Datanglah ke Spanyol, Lala yang menyuruh." Kata Magma berbohong.


"Kalau Lala yang menyuruh kenapa kau yang menelponku?"


"Jangan banyak tanya, datang saja!"


"Ck. Aku sib ---"


Tut.


Panggilan berakhir, Lalita menggeram kesal.


Magma yang menelpon di balkon berbalik masuk ke kamar dan langkahnya tiba-tiba terhenti kala melihat istrinya berbaring di ranjang dengan memakai lingerie merah.


Laura tersenyum menggoda. Melihat senyuman istrinya, Magma merasa ini waktu yang tepat. Dia melangkah menghampiri istrinya dengan semangat sambil membuka baju.


"Mau apa?" tanya Laura.


"Apalagi. Kita ---"


"Jangan macam-macam ya!"


"Hah?" Magma mengernyit. "Bukankah kau sudah siap?"


"Aku hanya mencoba lingerie ini, jangan berpikir aneh-aneh!"


"T-terus kenapa kau menggodaku?"


"Aku bilang aku hanya mencoba," pekik Laura kemudian masuk ke dalam selimut.


Magma menghela nafas kasar. "Laura kau!" Geram Magma dengan tangan mengepal.


Di dalam selimut Laura tersenyum penuh kemenangan.


Magma mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Kemudian ia merogoh ponselnya kembali di saku celana.


"Yura, bisa aku pinjam bayimu?" Magma menelpon Yura.


"Untuk apa?" tanya Yura. "Mereka masih bayi, Winter belum mengizinkan mereka naik pesawat."


"Yasudah aku akan pergi ke Indonesia." Magma mematikan telpon nya.


Malam ini Magma tidak bisa tidur. Ia hanya diam menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Ingin sekali rasanya ia menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.


Tapi di tarik sedikit saja Laura langsung tersadar dan mendekap dengan kuat selimutnya membuat Magma hanya bisa pasrah untuk malam ini.


"Kalau kau terus seperti ini, lama-lama aku akan menjebakmu," seru Magma menatap wajah Laura.


Tengah malam, Magma bergerak mendekati Laura dan mendekap erat perempuan itu. Setidaknya ia masih bisa memeluk Laura walaupun hal yang lebih tidak bisa di lakukan. Sesekali ia mencium kening istrinya.


"Kau ini kenapa suka dengan pria sepertiku," seru Magma seraya tersenyum mendekap erat istrinya.


Ponsel Laura bergetar di atas meja, perlahan Magma meraih ponsel perempuan itu dan melihat isi chat dari Jeni.


Pemotretan besok bersama Jasmine group, La.


Magma terdiam, ia merasa ada nama Jasmine group saat catwalk di New Zealand. Tapi siapa model yang membawakan fashion dari Jasmine group. Magma lupa karena hari itu ia terlalu kaget dengan keberadaan Laura saat di catwalk itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2