
Laura langsung masuk ke mobil Mr James yang kebetulan masih berada di halaman kantor.
"Maju, Mr." Seru Laura.
Mr James sempat menoleh ke kaca spion di depan melihat Laura yang terlihat sangat marah. Tapi ia tidak mau banyak bertanya selain menyalakan mesin mobil dan mobil pun melaju pergi dari halaman perusahaan.
"LAURA!" teriak Magma yang terlambat mengejar Laura karena tadi sempat di halangi oleh Byanca.
"Berhenti Mr James."
"Hah?" Mr James menatap Laura di kaca spion depan.
"Aku bilang berhenti!"
Mr James menepikan mobilnya lalu ia menoleh ke belakang. "Kenapa Nyonya?"
Laura mengambil beberapa lembar uang dari dalam tas nya. "Ini, pulang naik Taxi saja, aku butuh mobil ini."
"Tapi Nyonya nanti Tuan ---"
"Katakan aku yang menyuruhmu!"
Melihat tatapan Laura yang tidak ramah seperti sebelum berangkat ke perusahaan. Mr James akhirnya menganggukan kepala, ia keluar dari mobil dan Laura segera pindah duduk di balik kemudi.
Mobil berlalu dengan begitu cepatnya membuat Mr James terbelalak takut Laura kenapa-kenapa. Laura menyetir dengan amarah yang menyeruak di dalam dirinya.
Di cengkramnya dengan kuat setir mobil itu, ia menghela nafas kasar ketika otaknya kembali memutar Byanca yang tengah duduk di pangkuan suaminya.
Ponsel di dalam tasnya berdering, tanda pesan masuk dari seseorang. Satu tangan masih memegang stir dan tangan yang lain merogoh ponsel di dalam tasnya.
Ketika melihat nama Byanca di layar ponsel, Laura menepikan sejenak mobilnya kemudian ia membuka pesan dari Byanca.
Suamimu nih.
Byanca mengirim beberapa foto mesra dirinya dan Magma. Kemudian pesan baru kembali muncul.
Mental lemah. Tidak bisa berbuat apa-apa kan hahaha.
Membaca itu Laura tersenyum miring kemudian membalas.
Mantap! Kelihatan murahan.
Tidak sampai satu menit, Byanca kembali membalas.
Ya, suamimu memang mantap ...
__ADS_1
Laura tidak membalas lagi, ia mencari-cari kontak Kenzo kemudian menelpon nya.
"Laura ..."
"Hai, Ken. Bisa aku ke penginapanmu sekarang?"
"Penginapanku? Suamimu tau?" tanya Kenzo.
"Aku ada sedikit masalah dengan Magma. Tidak tau harus pergi kemana karena aku tidak punya siapa-siapa di sini, aku hanya ingin menenangkan hatiku saja sebentar."
"Oh begitu ... yasudah aku akan mengirim alamatnya, tapi aku masih bekerja. Hanya ada Aris di penginapan, kau bisa mengobrol dulu dengan Aris ya ..."
"Iya, Ken. Terimakasih ya."
"Sama-sama Laura ..."
*
Laura kembali melajukan mobilnya menuju penginapan Kenzo. Di perjalanan Magma terus menelpon perempuan itu.
"Mungkin ada gps di mobil ini, dia pasti tau aku kemana sekarang," gumam Laura.
"Magma bukan orang sembarangan, aku harus cari cara agar Magma tidak bisa menemukanku."
Laura mencari kontak Jeni lalu menelponya dengan satu tangan mengendalikan stir.
"La, Lala ih dimana? kenapa si tua bangka terus telpon Jeni nanyain Lala."
"Jen kau pergi lah menyewa mobil, aku menunggumu di perempatan jalan Janiar, kau suruh orang untuk menyadap semua cctv di jalanan menuju Apartemen Rose."
"Oke La. Jeni cari mobil sekarang."
Panggilan di matikan. Ini kelebihan Jeni yang Laura suka, tidak banyak bertanya jika Laura sudah berbicara serius kepada Jeni. Karena Jeni bisa membedakan Laura yang sedang serius dan bercanda.
Laura menepikan mobilnya di dekat pohon besar. Ia menghela nafas panjang dengan menyenderkan punggungnya di kursi mobil.
Laura kembali mengambil ponselnya lalu membuka sebuah draf di ponselnya yang sudah ia simpan beberapa hari lalu. Draf berisi identitas Byanca.
Laura tersenyum miring, senyuman Laura Zahaira Bachtiar yang tidak takut siapapun kembali muncul. Ia menatap beberapa foto Byanca yang tengah telanjang di klab bersama seorang pria.
Selama Byanca terus mengirimi foto nya bersama Magma. Laura tidak tinggal diam, dia mencoba mencari aib Byanca tanpa sepengatahuan siapapun dan ia berencana akan menyebarkannya di waktu yang tepat nanti.
Laura membuka whattsap dan mengirim pesan kepada seseorang.
"Lakukan sekarang!"
__ADS_1
"Baik Nyonya."
"Berani sekali kau bermain-main denganku Byanca!" seru Laura dengan geram.
*
Setengah jam menunggu akhirnya Jeni datang dengan mobil brio berwarna putih. Ia segera keluar dari mobil dan mengetuk jendela mobil Laura.
"Suamimu ... ah, hampir saja Jeni ketangkep sama dia La. Tadi dia curiga sama Jeni, untung saja Jeni berhasil debat sama dia. Jeni salahkan dia Lala hilang."
Laura tersenyum. "Dia di mansion?"
Jeni mengangguk. "Dia menyuruh para penjaga mencarimu. Ini kawasan dia La, kita bakal ketangkep deh kayanya La. Emang Lala punya masalah apa sih sama dia, Jeni kepo tau."
"Nanti di jelaskan. Ikuti aku dari belakang oke."
Jeni mengangguk. Kemudian kembali masuk ke mobilnya. Mobil Laura melaju diikuti mobil Jeni dari belakang.
Mobil Laura terus menambah kecepatan lajunya membuat Jeni melebarkan matanya. Jeni pun menginjak pedal gas dengan kuat untuk mengejar mobil Laura.
"Jadi Lala lemah banget bisa di tindas si tua bangka itu. Sekarang balik lagi jadi Laura bar-bar nya minta ampun ih," gerutu Jeni.
"Anjir! itu kan jurang!"
Jeni buru-buru membuka jendela mobilnya dan berteriak.
"BELOK LA, BELOK! KESANA JURANG LA!"
"Bikin senam jantung aja Laura ih gemes deh!" Jeni semakin menambah kecepatan mobilnya hampir di batas maksimum. Begitupula dengan Laura, ia semakin menambah kecepatan mobilnya pula.
Jeni terbelalak ketika melihat pintu mobil Laura terbuka.
"Aaaaaaa."
Ciiitttt...
Jeni langsung mengerem mobilnya mendadak sambil menjerit kala melihat Laura meloncat dari mobil membuatnya terguling di aspal. Sementara mobil Magma masuk ke jurang dan tidak lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras.
Dada Jeni naik turun dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Lala ..."
Jeni buru-buru keluar dari mobil dan berlari menghampiri Laura. Ia membantu Laura untuk berdiri.
"Ayo Jen, cepat pergi dari sini!"
__ADS_1
Karena kakinya sedikit terluka, akhirnya Jeni menggendong tubuh Laura. Walaupun dia banci tapi tetap di moment tertentu kekuatan Jeni hampir sama dengan kekuatan pria normal.
Bersambung