
Magma kembali ke Indonesia untuk menyalurkan rasa rindu kepada istri dan anaknya setelah bekerja beberapa pekan di Spanyol.
Laura tidak tahu jika Magma akan pulang karena pria itu mengatakan akan pulang minggu depan.
Malam dimana Laura telah menidurkan tripel M di ranjang dengan sisi yang di batasi penghalang agar tidak jatuh, perempuan itu tidur di ranjangnya sendirian seperti malam-malam biasanya. Sore hari Lalita sudah di jemput Kenzo.
Pintu kamar terbuka perlahan, Magma masuk dan menutup pintu dengan hati-hati lalu berjalan mengendap-ngendap mendekati istrinya yang tidur menyamping seraya memeluk guling.
Perlahan pria itu naik ke ranjang lalu merebahkan diri di belakang Laura dan memeluk istrinya itu.
"Kau kelelahan sayang? sampai tidak bangun aku memelukmu seperti ini," gumam nya lalu mencium rambut Laura.
Sebelum masuk kamar istrinya. Magma lebih dulu masuk ke kamar tripel M, mengecek mereka satu-persatu dan tak lupa memberi kecupan seperti yang biasa ia lakukan jika berada di Indonesia.
Tengah malam, suara tangisan terdengar di remot cctv yang ada di samping bantal Laura. Laura terkejut lalu bangun dan segera pergi ke kamar putranya dalam keadaan setengah sadar.
"Ada apa?!" seru Laura seraya membuka pintu kamar tripel M dengan panik.
Tapi wajah paniknya berubah menjadi terkejut ketika melihat Magma tengah menggendong Marvel dan Marsel. Dan yang menangis Melvin.
"Hai sayang ..." seru Magma dengan tersenyum.
"K-kau ... Kau kapan pulang?" tanya nya.
"Tiga jam yang lalu."
"Mihh Daddy Mii ..." Marvel menunjuk wajah Magma.
__ADS_1
"Huaaaaa Daddy ..." Melvin menangis histeris karena tidak di gendong seperti kedua kakaknya.
"Bentar ya. Susah kalau tiga, tangan Daddy aja dua," sahut Magma kepada Melvin.
Melvin semakin histeris dan tangisnya semakin keras apalagi ketika Marsel menjulurkan lidah meledek kepada Melvin.
"Melvin sama Mommy aja yuk." Laura berjalan menghampiri.
"Aaaaa gamauuu ..." rengeknya.
"Marvel. Kau turun dulu oke?"
Marvel mengangguk atas ucapan Daddy nya. Marvel kembali di dudukan di ranjang lalu Magma meraih Melvin secepatnya.
Laura menggelengkan kepala beberapa kali melihat ketiga putranya yang sangat menempel kepada Magma.
"Kau sering memarahi mereka sayang. Aku kan tidak," sahut Magma seraya menaik turunkan alisnya dengan tersenyum bangga.
"Ya ya ya ... Ayah idaman," seru Laura. "Yasudah aku tidur lagi saja ya. Aku ngantuk ... Hoamm." Laura menguap. Ia merasa baru tidur setengah jam karena terlalu kelelaha.
"Sayang jangan dulu tidur. Ada hal yang perlu kita bereskan malam ini!" teriak Magma seraya menatap kepergian istrinya.
"Aku tau maksudmu. Jangan mengangguku malam ini!" teriak Laura.
"Cih. Enak saja jangan di ganggu, aku suamimu bebas melakukan apapun!"
"Apa Dad?" tanya Melvin yang penasaran.
__ADS_1
"Bukan apa-apa. Anak kecil diam saja oke?"
"Dad ..." Marsel menunjuk pesawat mainan di atas meja.
"Wih bagus. Punya siapa?"
"Aku!" sahut tripel M bersamaan dengan menunjuk diri mereka masing-masing.
"Aku."
"Aku."
"Aku ..."
Magma menghela nafas. Ribut lagi mereka bertiga.
*
Laura mengerjapkan matanya perlahan-lahan ketika sinar matahari menerobos masuk ke kamarnya. Ia menoleh ke jendela, ternyata Magma yang membuka tirai jendela nya.
"Jam berapa ini? Aku masih mau istirahat, badanku rasanya remuk!" seru Laura dengan suara seraknya lalu menarik selimut sampai ke leher.
"Tumben kau bangun siang sayang. Apa karena aku di sini, kau jadi bisa malas-malasan hm?" Magma menghampiri Laura.
Pria itu kembali naik ke ranjang ketika melihat istrinya malah kembali tidur. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang lalu berbisik.
"Apa kau tidak sadar kau tidak pakai baju sayang?"
__ADS_1
Bersambung