
"Laura ..." panggil Yura, Laura menoleh dan berdiri dari duduknya.
"Yura ..." ia tersenyum lalu cipika-cipiki kepada adik iparnya itu.
"Ini siapa?" tanya Laura melihat bayi perempuan di gendongan Yura.
"Ini Tania," sahut Yura, Winter duduk bergabung bersama yang lain. Bayuni langsung mengambil Talia dari tangan Winter.
"Aku boleh menggendongnya?" tanya Laura.
"Aku ajari caranya sayang." Magma langsung berdiri dan mengambil Tania dari tangan Yura. "Pinjam ya ..."
"Eh kau mau membawanya kemana?" seru Laura yang melihat suaminya melengos begitu saja membawa Tania ke lantai atas.
"Sudah tidak apa-apa, Laura." seru Yura. "Dia mau belajar jadi Ayah mungkin." Yura tersenyum dengan menaikan alisnya.
"Iya Yura, aku keatas dulu ya." Laura menyusul suaminya sementara Benjamin dan Bayuni tengah bermain dengan Talia.
"Kau yakin dia bisa menjaganya Yura?" tanya Winter yang khawatir putrinya ada di tangan Magma.
Yura duduk di sofa. "Tenang saja. Dia tidak mungkin menyakiti anakku tau. Iya kan Mom?"
"Dia sudah mau jadi Ayah sekarang," sahut Bayuni.
*
Magma masuk ke kamarnya di rumah Benjamin. Dia menidurkan Tania di ranjang. "Anak ini gendut sekali ..."
"Kalau dia sudah besar, dia pasti marah seseorang menyebutnya gendut," seru Laura masuk ke kamar.
Magma berbalik. "Apa bayi kita akan seperti ini?"
"Tentu saja, lucu kan." Laura menggendong Tania dengan tersenyum.
"Jadi kau sudah mau punya anak denganku?" goda Mangma.
"Ish!" Laura duduk di ranjang sambil menepuk-nepuk punggung Tania.
"Huh, aneh. Dulu kau yang mengejar-ngejar aku, sekarang anti sekali denganku!"
"Setelah kau menjadikanku pembantu ---"
"Sampai kapan kau akan terus dendam? aku sudah minta maaf dan sudah melakukan apa yang kau lakukan dulu. Aku mengepel, memasak, mencuci baju. Semua aku lakukan karena aku benar-benar menyesal ..." lirih Magma.
"Apa aku harus bertekuk lutut sayang?"
"Tidak perlu!" sahut Laura. "Aku memaafkanmu ..." seru Laura kemudian lalu beranjak dari ranjang berjalan ke luar kamar.
"Jadi yang semalam bisa di ulang lagi?" teriak Magma dengan tersenyum.
__ADS_1
Laura tidak menjawab, meninggalkan Magma yang tersenyum sendirian di kamar.
*
"La, sudah pantas menggendong bayi ..." seru Yura melihat Laura menuruni anak tangga menggendong Tania.
"Yura, ini anakmu. Magma hanya menidurkan Tania di ranjang dan menghinanya gendut." Laura memberikan Tania kepada Yura.
"Ah dia memang seperti itu!" sahut Yura.
Laura duduk di samping Yura. Winter hanya duduk sambil memainkan ponselnya, Talia masih di ajak bermain oleh Benjamin dan Bayuni.
"La, soal kecelakaan itu ---" Yura menghentikan kalimatnya menunggu jawaban.
"Ah itu, itu bohong. Kau tau kakakmu kan Yura hehe," sahut Laura canggung.
Yura tersenyum. "Iya, memang harus di buat licik pria itu!"
Mereka menghabiskan waktu bersama, Laura membantu Yura ketika salah satu anaknya menangis dan juga mengajak bermain dua bayi kembar tersebut. Ia juga membantu mengganti popok Tania.
Bayuni dan Benjamin terlihat bahagia mengajak cucu mereka bermain.
Winter dan Magma sedang memasak di dapur. Dalam hal memasak Magma lebih pintar dari Winter, dia beberapa kali menegur Winter kala pria itu salah memotong sayuran atau terlalu banyak memberi bumbu pada masakan.
Laura menoleh, tersenyum menatap Magma yang sedang memasak dengan Winter di dapur.
"Di mansion siapa yang memasak?" tanya Magma sambil mencuci ikan. "Cih, pasti Yura kan? Dia belajar memasak dariku!"
Magma berhenti memotong sayuran, mendelik kesal kepada Winter.
Winter menyimpan pisau di tangan nya lalu menatap Magma sambil berkata. "Aku tidak hebat memasak, tapi aku hebat memperlakukan istriku sebaik mungkin ..." Winter tersenyum miring lalu pergi dari dapur meninggalkan Magma yang menahan kekesalan terhadap adik iparnya itu.
"Berani sekali dia berbicara seperti itu!" hardik Magma.
Winter bergabung bersama yang lain. Bermain dengan Tania dan Talia, sementara Magma di tinggal seorang diri memasak untuk makan siang mereka.
*
Makan di rumah Benjamin terasa lebih hangat di banding makan di mansion Arsen. Di mansion Arsen suasana meja makan hening, karena Arsen dan Miwa yang masih belum memaafkan Magma.
Sementara di rumah Benjamin, mereka makan sambil tertawa dan mengobrol. Terlihat akrab dan menyenangkan.
Beberapa kali Benjamin memuji masakan Magma yang sangat lezat. Ia juga memuji sikap Magma yang berubah setelah menikah.
"Wajah dia setiap harinya datar, setelah menikah wajahmu berbeda Magma."
"Cih, berbeda bagaimana Dad?"
"Aura seorang suaminya lebih keluar," sahut Benjamin seraya terkekeh.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan yang ini Dad?" Magma menoleh ke arah Winter. "Dari awal menikah sampai sekarang wajahnya datar!"
"Suamiku walaupun datar tapi cintanya besar kepadaku tau," sahut Yura membela dengan menatap Winter. Winter hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Cintaku lebih besar kan sayang?" Magma merangkul Laura.
"Yang besar cinta Dad kepada Mommy. Walaupun sudah tua begini kita tetap romantis," sahut Benjamin tak mau kalah, terdengar bangga karena sampai usianya lebih dari lima puluh tahun ia masih bisa bersama Bayuni.
"Iya dong, kalau menikah dengan orang yang kita cintai pasti tidak berhenti bersikap romantis," sahut Bayuni seraya terkekeh.
Selesai makan mereka makan beberapa makanan penutup. Yura hendak mengambil apel tapi di dahului oleh Magma membuat Yura berdecak, kemudian tangan nya beralih ingin mengambil puding tapi lagi, Magma lebih dulu mengambilnya. Yura menghela nafas, ia hendak mengambil anggur. Magma yang mau mengambil anggur lebih dulu untuk mengerjai Yura tidak jadi karena piringnya sudah di ambil oleh Winter.
"Seperti anak kecil saja!" Laura mendelik kepada Magma. Magma hanya tersenyum dengan makan apel di tangan nya.
Winter memberikan piring berisi anggur itu kepada Yura. "Terimakasih Winter ..."
"Yura aku pinjam anakmu satu."
"Tidak boleh!" sergah Winter.
"Aku meminjam kepada Yura," seru Magma.
"Itu anakku!"
"Yura yang mengandung. Lagi pula kau punya dua, tinggal pinjamkan satu pelit amat!" sahut Magma.
"Kau meminjam anakku, tapi terdengar seperti meminjam boneka!" hardik Yura.
"Aku pinjam si gendut," sahut Magma dengan mata tertuju kepada Tania yang di pangkuan Benjamin.
"Kau mau apa? bagaimana kalau Tania nangis!" seru Laura.
"Tinggal kasih susu apa susahnya!"
"Beda, bayi itu selalu ingin dekat dengan Ibunya," sahut Laura.
"Sayang, kita harus belajar merawat anak."
"Iya, nanti anak kita lah," sahut Laura.
Magma menggulum senyum di wajahnya. "Oke ..." ia merasa senang ketika Laura mengatakan anak kita. Seakan Laura juga benar-benar menginginkan anak.
Benjamin dan Bayuni malah asik menggendong cucunya.
"Eh kak, kenapa kau jadi ingin punya anak? dulu nikah saja tidak mau!" seru Yura.
"Gara-gara dia ..." Magma menatap Laura. Kalau bukan karena Laura menjebaknya, Magma tidak akan tahu kalau jatuh cinta itu menyenangkan.
Bersambung
__ADS_1
Maaf kemarin ga up, sibuk ngurusin yang mau nikah hehehe