M & L

M & L
Ingin kembali ke Spanyol


__ADS_3

Segala hal tentang merawat putranya, Magma tidak pernah sekalipun membiarkan istrinya merawat mereka sendirian. Apalagi mereka masih di Indonesia, Magma masih punya banyak waktu bersama Laura dan ketiga anak kembarnya.


Perusahaan utamanya di Spanyol ia tinggalkan, walaupun Magma tidak melepas kendali soal perusahaan begitu saja. Sebab ada Lail yang mengendalikan perusahaannya, Magma sering ikut meeting penting dengan rekan bisnisnya walaupun hanya lewat video call di laptopnya saja.


"Terimakasih Tuan Magma. Saya harap kerja sama kita membuahkan hasil," seru pria tersebut yang mendapat anggukan dari Magma di layar monitor yang terpampang jelas di ruangan khusus meeting tersebut.


"Jika ada yang ingin di tanyakan. Tanyakan saja kapada Lail."


Lail yang duduk di ruangan itu bersama yang lain pun mengangguk. Pria itu kemudian menutup laptopnya setelah meeting hari ini berjalan lancar.


"Kau kelihatan gelisah ..." seru Laura berjalan menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya. Perempuan itu mengernyit melihat raut wajah Magma yang tidak setenang biasanya.


"Aku sudah sangat lama meninggalkan perusahaan sayang. Dari kau hamil dan putra kita lahir aku belum kembali ke sana, walau bagaimanapun hidupku tidak di sini sayang. Aku tidak mau bersaing dengan De Willson di sini."


Pemegang kekayaan pertama di Indonesia sudah jelas keluarga De Willson. Tapi Spanyol, Magma yang selalu menjadi yang pertama.


"Jadi maksudmu, kita akan pergi dari sini?"


Magma mengangguk. "Sesekali saja kita berkunjung ke sini lagi."


"Aku akan ikut kalau kau pulang. Tapi masalahnya Marvel, Marsel dan Melvin masih bayi."


Magma beralih menatap Marvel di gendongan Laura lalu mengangguk samar. "Tunggu beberapa bulan lagi saja."


Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Magma dan Laura. "Tuan, Nyonya ... Ada Nyonya Lalita dan Tuan Kenzo di depan."


"Loh, kenapa tidak di suruh masuk?" tanya Laura.

__ADS_1


"Tidak mau nyonya," sahut palayan perempuan tersebut.


"Hah? Tidak mau. Kenapa?" gumam Laura mengernyit heran.


"Kau. Temui mereka lagi dan suruh masuk atas perintahku!" titah Magma kepada pelayan itu.


Pelayan tersebut menundukkan kepala lalu pergi kembali untuk menyuruh Lalita dan Kenzo masuk ke mansion Tuan nya.


"Lita ini kenapa sih kok jadi beda begitu," gumam Laura seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Magma diam sambil memalingkan wajahnya. Jangan sampai Laura tahu kalau dirinya yang melarang Lalita membawa Kenzo ke mansion nya sebab cerita masa lalu Kenzo yang menyukai Laura masih sulit di lupakan di benak Magma.


Ia takut Kenzo kembali mendekati Laura walaupun itu tidak mungkin terjadi lagi sebab Magma yakin, Kenzo pasti tidak akan berani mencari masalah dengan dirinya.


"Lala ..." teriak Lalita setengah berlari menghampiri kembarannya itu. Lalu mereka berdua cipika-cipiki dan kemudian Lalita duduk di depan Magma dan Laura.


"Lita, kau ini kenapa sih bertamu ke rumahku tidak mau masuk. Biasanya masuk sambil bilang permisi, huh!" kata Laura seraya menimang-nimang Marvel yang tengah tertidur.


"Takut tidak di anggap!" sindir Lalita seraya menatap jutek Magma.


"Kenapa kau berbicara seperti itu kepadaku!" sahut Magma geram.


"Kau yang mengirim pesan kepada Ken dan mengatakan tidak akan bersikap baik jika kami ke sini."


Mendengar ucapan kembarannya itu, Laura sontak menatap jengkel Magma.


"Kau ya!"

__ADS_1


"S-sayang. Aku tidak bilang apapun." Magma menggeleng dengan mengangkat kedua tangan nya.


Melihat itu Kenzo diam-diam tersenyum. Magma benar-benar banyak berubah. Tidak seperti Magma yang di ceritakan oleh Laura saat di Spanyol kepada Kenzo.


"Diam kau!" hardik Magma menatap jengkel Kenzo.


"Aku tidak mengatakan apapun dari tadi Tuan Magma," sahut Kenzo dengan tersenyum miring.


"Kau menertawakanku!" sahut Magma.


"Sudah, cukup!" hardik Laura. "Berantem terus bisanya! Kapan akurnya sih!"


"Hah iya. Kapan akurnya, kalau kaya gini aku engga bisa nengok tripel M setiap hari karena Ayahnya nyebelin!"


"Bicara apa mulutmu itu!" seru Magma kepada Lalita.


"Ish. Sudah-sudah!" potong Laura.


"Lebih baik kau melihat mereka di kamar. Mau?" Laura menawari Lalita.


"Mau, La. Aku mau gendong!" sahut Lalita dengan semangat.


"Yaudah yuk, ke kamarku."


Laura beranjak dari duduknya di ikuti Lalita. Dan di saat itulah dua perempuan itu tidak sadar telah meninggalkan dua pria yang saling bermusuhan tersebut.


Magma mendelik kepada Kenzo dan Kenzo memasang wajah datar menatap Magma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2