
Setelah makan Melvin pergi seorang diri ke luar dari mansion karena hari masih sore. Ia pergi dengan membawa mobil-mobilan yang di kendalikan oleh remot di tangan nya.
Melvin tersenyum sambil terus membawa mobilnya jalan-jalan diikuti satu pria di belakangnya yang tak lain anak buah Magma.
Marvel yang tahu Melvin keluar akhirnya menyusul adiknya itu.
"Om ambilkan minum," seru Marvel kepada anak buah Magma yang sedari tadi mengikuti Melvin.
"Om pergi aja. Biar aku yang ikutin Melvin, kita main nya engga jauh-jauh kok," seru Marvel kala penjaga tersebut hendak menelpon pelayan untuk membawakan air.
"Tuan muda jangan kemana-mana ya ..."
Marvel mengangguk. Melvin hanya jalan-jalan di depan gerbang saja, menelusuri jalanan yang jarang di lewati mobil atau motor. Jadi mereka masih kelihatan oleh penjaga yang ada di halaman mansion.
Marvel terus mengikuti adiknya yang menyuarakan mobil-mobilan dengan suaranya sendiri.
"Breemm ... Breemm ... Ngengg ... Ngengg ..."
"Wih ada kucing ..." seru Melvin berlari menghampiri kucing yang bersembunyi di balik pohon.
Dug.
Si*lnya, kucingnya pergi dan Melvin malah terjatuh karena menginjak kerikil kecil.
Marvel langsung menghampiri adiknya yang kini tengah menangis kesakitan.
"Kenapa harus lari, Vin. Kau bisa jalan ..."
"Huaaaa sakit, Mommy ..." Melvin menangis keras.
"Tuan muda ..." salah satu anak buah Magma langsung menghampiri mereka. Dan menggendong Melvin membawanya ke dalam mansion di ikuti Marvel.
Sesampainya di mansion salah satu pelayan perempuan mengobati lutut Melvin yang sedikit terluka. Melvin terus menangis memanggil Mommy dan Daddy nya.
"Berhenti menangis, lukanya tidak besar," seru Marvel.
__ADS_1
"Huaaaaa Daddyyy ..."
"Tuan muda sudah selesai," seru pelayan perempuan tersebut setelah menempelkan plester di lutut Melvin.
"Telpon saja Tuan Magma," bisik salah satu anak buah itu kepada teman nya.
Dia mengangguk dan langsung pergi untuk menelpon Magma. Melvin ini tipikal anak yang paling manja di bandingkan kedua kakaknya.
*
"Ini obat anti nyeri nya Tuan ..." Dokter tersebut memberikan obat kepada Magma setelah memperban kepala Marsel. Keningnya terluka.
Magma mengangguk. "Kau yakin putraku baik-baik saja?"
"Iya Tuan. Tidak ada muntah setelah jatuh dan lukanya tidak terlalu dalam."
"Terimakasih, Dok." seru Laura.
Ponsel Magma berbunyi, Magma menjauh sejenak dari mereka menjawab panggilan telpon tersebut.
"Kenapa?"
"Jatuh ketika bermain bersama Tuan Marvel."
"Apa?! Lalu dimana dia? Kenapa tidak di bawa ke Rumah Sakit?!"
"Sudah di obati oleh pelayan Tuan. Lukanya hanya luka kecil tapi Tuan Melvin terus menangis meminta anda pulang."
"Katakan aku pulang sekarang!"
"Baik Tuan."
*
Magma menggendong Marsel masuk ke dalam mansion sementara Laura sudah berlari lebih dulu ketika Magma memberitahu Melvin juga jatuh.
__ADS_1
"Melvin ..." teriak Laura.
"Nyonya Tuan ada di kamarnya bersama para penjaga," seru seorang pelayan perempuan.
Laura mengangguk lalu berlari menaiki anak tangga segera pergi ke kamar anaknya.
"Melvin ..." Laura langsung menghampiri putranya yang duduk di ranjang bersama Marvel.
"Kenapa? Kau jatuh? Coba mommy lihat."
Laura langsung mengecek lutut Melvin. Dua anak buah yang ada di kamar itu langsung pergi keluar setelah kedatangan Laura.
Laura menghembuskan nafas ketika melihat lukanya tidak terlalu besar.
"Bagaimana sayang?" tanya Magma yang baru saja datang ke kamar dengan Marsel yang sudah tertidur di gendongannya.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Kenapa bisa jatuh Marvel?"
"Melvin lari mau ambil kucing, Dad." seru Marvel.
"Yakin?" tanya Magma. "Bukan karena bertengkar denganmu kan? Tadi Marsel jatuh karena mengejarmu sekarang Melvin juga ikut jatuh karena bermain denganmu."
"Magma!" Laura memperingati. "Jangan menyalahkan Marvel!"
Magma menghela nafas melihat istrinya melotot ke arahnya lalu memilih membaringkan Marsel di ranjang yang lain. Karena ada dua ranjang di kamar itu.
"Masih sakit?" tanya Laura kepada Melvin.
"Sedikit Mommy."
Marvel terdiam melihat Ayahnya duduk di samping Marsel yang tertidur. Magma terlihat mengelus lembut kepala Marsel.
Lalu matanya beralih menatap Laura yang tengah memeluk Melvin untuk menenangkan putra bungsunya itu. Sementara dirinya hanya duduk memperhatikan.
__ADS_1
Bersambung