M & L

M & L
#Kesal dengan Magma


__ADS_3

Dengan langkah penuh semangat Laura menuruni anak tangga ketika di balkon tadi melihat mobil Magma baru masuk halaman.


Laura segera membuka pintu dan mengembangkan senyumnya menyambut kepulangan Magma.


"Apa?" tanya Magma dengan wajah datar.


"Sini biar Lala yang pegang." Laura mengambil jas yang tersampir di lengan kiri Magma.


Pria itu kemudian berjalan melewati Laura dan duduk di kursi untuk membuka sepatunya tapi ia di buat tercengang ketika Laura duduk di lantai untuk membukakan sepatu Magma.


"Tidak usah!" Magma menepis tangan Laura.


"Kenapa?" Laura mendongak menatap Magma. "Aku kan istrimu."


"Aku bisa membukanya sendiri, minggir!" Magma membungkukan badan hendak membuka sepatunya tapi Laura menghempaskan tangan pria itu.


"Lala saja Lala bilang!"


Pria itu pun menghela nafas kasar dan mengalah dari pada harus ribut masalah membuka sepatu.


Setelah selesai, Laura menyimpan sepatu Magma di rak lalu mengambil sandal dan menyimpan nya di depan kaki Magma.


Magma memakainya lalu melengos begitu saja meninggalkan Laura tanpa mengucapkan kata terimakasih atau kata yang lain.


Laura menghembuskan nafas melihat kepergian Magma.


*


Magma menyisir rambutnya yang gondrong, rambut Magma mirip dengan rambut perempuan sehingga ia harus mengikat setengah rambutnya.


"Magma mandinya sudah selesai?" Laura berujar seraya mendorong pintu kamarnya. Ia baru saja selesai mencuci piring di bawah.


Magma berbalik dan mengangguk samar.


"Waktunya nonton," seru Laura dengan wajah sumringah.


Pria itu pun berjalan ke sofa, seperti biasa Laura mematikan lampu kamarnya membuat kamarnya temaram dan hanya di terangi dari cahaya tv saja.


Laura duduk di samping Magma, ia menyelimuti tubuhnya berdua dengan suaminya.


"Brewokmu semakin panjang saja," ucap Laura sambil mencolek dagu Magma yang segera di tepis tangan nya oleh pria itu.


"Huh, tanganku tidak kotor tau!" Laura cemberut.


"Oh iya ..." Laura kembali menatap Magma di sampingnya. Sementara Magma masih fokus dengan tv di depan nya yang menyiarkan drama korea.


"Kau ... tidak lupa dengan poin kedua ku kan? tidak boleh main wanita!"

__ADS_1


Magma mendengus kasar kemudian menoleh ke sampingnya. "Apa kau pernah melihatku tidur dengan perempuan lain setelah menikah denganmu?"


Laura menggeleng. "Tapi Byanca ---"


"Dia bekerja denganku," potong Magma.


Laura berdecak. "Kenapa tidak Lala saja sih yang jadi model di perusahaan mu itu, kau melarang Lala menjadi model lagi oke-oke saja, asalkan Lala bisa menjadi model khusus di perusahaan mu saja!"


"Byanca sudah cukup!" sahut Magma lalu matanya kembali fokus ke tv.


Laura berdecak sebal, ia melipat kedua tangan nya di dada sambil menonton drama korea dengan tatapan tajam. Keduanya terlihat sama-sama tidak menikmati tontonan mereka itu.


*


"Pijat!" pinta Magma setelah drama korea tersebut tamat. Ia beranjak dari duduknya beralih ke ranjang.


Seperti biasa Magma menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang setelah membuka bajunya.


"Mau sampai kapan kau diam ketika aku memerintahmu, Lala!" pekik Magma yang akhirnya membuat Laura beranjak dari duduknya dengan kesal.


Laura memijat Magma dengan raut wajah masam karena Magma terlihat membela Byanca.


"Aku menyuruhmu memijat bukan mencubit!" hardik Magma ketika pundaknya di cubit dengan kesal oleh Laura.


"Iya ... iya ..." sahut Laura.


"Besok, dinner di luar."


"Hmm," sahut Magma.


"Kalau bisa jangan telat pulang kerjanya," sahut Laura.


"Aku tidak pernah telat!" sahut Magma.


Kalau aku tidak memikirkan hal lain, sudah aku jebak saja dia ini dengan obat perangs*ng biar aku hamil. Tapi aku tidak mau hamil sendirian kalau dia masih belum mencintaiku ...


"Magma ..." panggil Laura sambil terus memijat.


"Hmm."


Laura berdehem sejenak sedikit ragu menanyakan hal ini. "Kau ... kau tidak berencana punya anak?"


"Tidak! aku tidak suka anak kecil!" sahut Magma.


"Tapi keluarga tidak akan lengkap tanpa seorang anak tau," sahut Laura.


"Aku tidak perduli! pokoknya jangan berharap kau bisa punya anak dariku, Lala!"

__ADS_1


Laura mendengus kasar. "Lihat saja nanti, aku yakin kita akan punya anak," gumam Laura pelan.


*


Ketika sudah melihat Magma tidur, sekarang Laura memijat-mijat pundaknya sendiri. Ia merasa badan nya juga pegal-pegal. Di tambah lagi ia merasa lelah luar biasa malam ini.


"Jadi begini rasanya jadi Ibu Rumah Tangga. Tau seperti ini lebih baik suruh pelayan saja," gumam Laura.


"Aku suruh Jeni memijat saja lah!"


Karena ia benar-benar merasa badannya pegal, akhirnya Laura keluar dari kamar untuk pergi ke kamar Jeni.


Tok tok tok


"Siapa?" teriak Jeni dari dalam.


"Lala!" sahut Laura.


Jeni pun berjalan membukakan pintu, ia melihat Laura dengan wajah semrawut, seperti kelelahan dan kesakitan, satu tangan perempuan itu memijat pundaknya sendiri.


"Lala kenapa?" Jeni terlihat khawatir.


"Pijit dong Jen, pegel nih." Laura masuk ke kamar Jeni dan duduk di ranjang, Jeni menutup pintu lalu menghampiri Laura.


Laura duduk membelakangi Jeni dan Jeni pun mulai memijat dengan terus mengoceh.


"Lala cuci piring, masak sama cuci baju, pasti cape banget ya."


"Tidurku tidak cukup, Jen. Bangun jam tiga pagi terus menyapu, mengepel lantai, membersihkan hiasan, Jadinya begini sekarang."


"Apa?" Jeni berhenti memijat karena tercengang dengan ucapan Laura barusan.


"M-mengepel? menyapu? kapan? kok Jeni engga liat?"


"Jam tiga pagi," sahut Laura dengan malas.


"Jadi, jadi yang mengepel dengan marah-marah di lantai atas itu Lala, bukan pelayan?"


"Lala," sahut Laura.


Jeni selalu bangun siang, ia tidak pernah bangun jam tiga atau jam empat. Itu sebabnya Jeni tidak tahu kalau Laura sering mengepel lantai atas karena setahu Jeni, Laura hanya mencuci piring, masak dan mencuci baju. Nyatanya semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh Laura.


Ini tidak bisa dibiarkan, Jeni harus lapor sama Tuan Arsen.


Bersambung


__ADS_1



__ADS_2